Aku Bukan Rahim Cadangan

Aku Bukan Rahim Cadangan
Merepotkan


__ADS_3

Akhirnya hujan pun turun dengan sangat lebatnya.


"Mas, tolong masukkan koper dan barang" lainya ya ke bagasi mobil, Dan motornya tolong nanti anter ke alamat ini, nanti saya bayar lebih", Ku berikan alamat apartemenku kepada kedua pemuda itu, ku putuskan untuk membawa Debby ke apartemen malam ini, dan merawatnya sendiri di sana. Segera ku angkat tubuh Debby dan ku bawa masuk ke dalam taksi.


"Jalan Mas, ke apartemen yang tadi!" Perintahku pada supir taksi yang masih terlihat muda itu.


"Deb, bangun Deb!" Seruku, ku gosok terus tangan Debby dengan tanganku.


"Mas, bisa tolong di matikan AC nya!" Pinta ku pada supir taksi yang mengantar kami.


"Oh, ya Mas" ia pun menuruti permintaanku untuk mematikan AC mobil itu. Ku lepas jaket yang aku kenakan untuk menyelimuti tubuh Debby yang tidur di pangkuanku.


"Istrinya ya Mas?" Tanya supir itu, aku pun bingung harus menjawab apa.


"Bukan mas, ini adek saya, biasa kalau ngambek suka kabur dari rumah gitu." Akhirnya jawaban itulah yang ku berikan pada sopir itu, aku tak mungkin menjawab istri, apa lagi bukan siapa- siapa, karena bisa saja menimbulkan fitnah, aku bisa saja dikira membawa lari anak orang atau kumpul K*bo


Kami segera turun dari mobil setelah sampai di parkiran Apartemen.


"Mas, bisa minta tolong untuk bawa kopernya ke atas nggak?" Tanyaku.


"O, iya Mas, bisa." Jawabnya.


Aku pun membawa Debby Masuk dan supir itu mengikuti langkahku.

__ADS_1


Di dalam lift menuju lantai 8 gedung apartemen yang aku tempati selama aku di Jakarta, Kami pun saling berbincang, dengan posisi Debby yang masih di gendonganku.


"Mas, mas nya capek gak, dari tadi gendongi adeknya dari lantai bawah? apa mau dibantu?" Ucap supir itu, Seraya cengengesan.


"Maksudnya?" tanyaku yang memang tak paham dengan pertanyaan tersebut.


"jika mas gak keberatan biar saya gantiin gendong adeknya" Jelasnya yang menurutku terlalu kurang ajar, jika saja sekarang aku tak sedang menggendong Debby, mungkin tangan ku sudah mendarat di kedua pipinya atau bisa jadi di kepala nya.


"Nggak, nggak perlu, lagian saya nggak capek, adek saya nggak berat" jawabku seraya membenarkan posisi Debby yang berada di gendonganku. Ku ambil nafas panjang untuk meredakan amarahku pada supir taksi yang ada di sampingku saat ini.


"Oh, ya udah kalau begitu, kelihatannya Mas sayang sekali ya sama adeknya?...


Aku pun tak menjawab pertanyaan sopir itu, aku masih kesal dengan perkataan supir ini yang kelihatanya tertarik pada Debby. Setelah pintu lift terbuka. Aku segera membuka pintu apartemenku dan segera membawa Debby masuk ke dalam kamar.


Aku kembali setelah Debby ku baringkan di atas ranjang ku.


"Ini ongkos nya, lebihannya ambil aja, makasih udah anter sampai ke atas!" Ketus ku, Ku ambil koper Debby dari tangan supir itu dan ku tutup pintu dengan kasar. Selain aku kesal padanya, aku juga harus segera memeriksa keadaan Debby .


"Debb... Bangun Debb..." Ku tepuk pipinya sedikit lebih keras, agar kesadarannya kembali.


Ku cari selimut di lemari karena tangan dan kaki Debby masih sangat dingin. Namun tak ku dapati, aku baru ingat selimutku sedang aku laundry tadi siang, terpaksa sarung untuk menunaikan sholat ku pun ku berikan pada Debby, tak lupa ku matikan AC kamar. Ku tutup semua jendela rapat- rapat, agar ruangan terasa lebih hangat.


Ku periksa tekanan darahnya memang agak rendah.

__ADS_1


Ku beri minyak aroma theraphy, ku gosokkan di hidung tangan dan kakinya.


Hingga akhirnya Debby sedikit membuka matanya.


"Dingin..." Lirihnya.


"Dingin?" Gumamku, aku berfikir, keterbatasan alat dan bahan yang ada di apartemen membuatku kewalahan merawat Debby, bahkan aku hanya membawa satu jaket yang sudah ku berikan pada Debby dan Debby hanya memakai celana 7/8, mungkin ada celana atau pakaian yang lebih tebal di dalam koper Debby, tapi setelah kupikir-pikir itu lebih tak sopan lagi kalau aku mengganti pakaian Debby.


"Nggak ada pilihan lain, maaf ya Deb!" Kataku, ku ambil gorden apartemen untuk menyelimuti Debby, ku lihat cukup bersih dan tidak ada debu sama sekali, ku baringkan tubuhku di samping Debby, lalu aku ikut masuk kedalam gorden dan ku dekap Debby, lancang mungkin, tapi hanya itu yang bisa ku lakukan saat ini, entah masih ada jalan lain lagi atau memang aku sudah tak bisa berpikir lagi karena belum istirahat seharian ini. Ku peluk Debby erat- erat dan ku genggam tangannya dengan erat, yang terpenting saat ini keadaan Debby tidak semakin memburuk.


Cukup lama aku terjaga, ku tahan rasa kantukku, aku harus segera pergi setelah badan Debby tidak lagi kedinginan, agar dia tidak salah paham padaku.


"Air..." Sayup- sayup, akhirnya ku dengar suara Debby setelah hampir beberapa jam dalam dekapan ku.


"Air? Tunggu ya" aku segera mengambil air hangat di dapur. Dan ku bantu ia untuk minum, ia pun kembali tertidur setelah meminumnya, aku lega setidaknya Debby mulai membaik dan sudah tak mengeluh kedinginan lagi.


"Alhamdulillah, Debby-Debby... Kamu sungguh merepotkan." gumamku dalam hati.


Aku pergi keluar, ku tutup pintu kamar rapat- rapat, ku baringkan tubuhku di atas sofa tamu, waktu sudah hampir subuh, masih ada waktu beberapa jam untuk beristirahat, aku segera memejamkan mata, karena rasa kantukku sudah tak bisa untuk ku tahan lagi.


πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€


Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataπŸ™πŸ»πŸ˜Š

__ADS_1


__ADS_2