
Aku Buakn Rahim Cdangan
Part 81
Hanya saja Bunda berpesan untuk Debby jangan tau tentang hal ini dulu. Aku setuju. Aku juga meminta pada Bunda untuk tidak memberi tahu Debby siapa orang tuaku. Perkataan Debby satu tahun yang lalu masih mengganggu pikiranku. Perkataan yang mengatakan bahwa orang kaya bersikap semaunya dan malas berhubungan dengan orang kaya, itu yang ku ingat. Aku hanya akan memberitahu Debby setelah aku mendapatkan Debby dan menikahi Debby, itulah keputusan ku sementara ini.
Setelah ku buka kembali kontak Debby yang sudah aku blokir selama ini. Aku pun menghubungi Mama. Aku tak bisa mengabaikan nasehat Bunda.
"Halo." Suara Mama terdengar dari seberang telepon.
"Assalamualaikum Ma,"
"Waalaikumsalam."
"Kok ketus gitu Ma?" Tanyaku setelah mendengar jawaban Mama yang tidak seramah biasanya.
"Teddy! Kamu seminar di jakarta? Nggak nemuin mama? Nggak ngabari Mama?" omel Mama padaku.
"Maaf ma Teddy sibuk Ma..."
"Tinggal dimana? Mama ke apartemen kamu yang dulu tapi kok nggak ada?" Tanya Mama.
__ADS_1
"Di hotel yang di sediakan oleh penyelenggara acara Ma."
"Terus, kapan kamu menemui Mama?"
"Secepatnya, kalau Teddy ada waktu."
"Ma... Ada yang mau Teddy minta."
"Minta apa?"
"Debby."
"Minta Debby?" Tanya Mama terkejut.
"Lah, bukannya kamu bilang mau melupakan Debby?"
"Nggak bisa lupa Ma," Keluhku.
"Memangnya dia mau sama kamu?"
"Ya harus mau, kalau mama mau."
__ADS_1
"Loh kok gitu?"
"Mama..."
"Haiiiih... Iya- iya, nggak usah merengek seperti anak kecil, nggak pantes. Besok Mama ketemu Bunda Mira."
πΈπΈπΈ
POV BU Widia
Teddy menghubungi ku barusan, setelah beberapa hari yang lalu kami sempat VC. Aku sempat terkejut mendengar permintaan Teddy, pasalnya selama setahun ini, Teddy selalu mengeluh tentang keinginannya melupakan Debby setiap aku menghubunginya. Aku hanya bisa menenangkan dan memberinya pengertian bahwa jodoh tak akan kemana.
Aku sempat menceritakan tentang ke ikutsertaanku sebagai donatur di panti Debby kepada Teddy, ia tak melarangnya bahkan senang mendengarnya. Tapi terus terang aku belum pernah mengunjungi panti itu secara langsung. Walaupun demikian Aku sering berhubungan dengan Bunda Mira melalui telepon untuk sekedar bertanya tentang kebutuhan yang dibutuhkan oleh anak- anak panti, kalau masalah Debby, aku tidak berani menanyakan pada Bunda Mira, Karena yang mereka tau aku bukanlah Mama dari Teddy dan akan menimbulkan pertanyaan jika aku bertanya lebih dalam tentang Debby. Teddy pun tak pernah bercerita secara gamblang apa masalah nya sampai ingin melupakan Debby. Anak itu memang selalu tertutup, mungkin karena terbiasa hidup tanpa kami membuatnya menjadi pribadi yang lebih mandiri dalam menyelesaikan setiap masalahnya.
Aku tak bisa memutuskan sendiri tentang apa yang diminta oleh Teddy, Aku harus menemui suamiku. Bagaimanpun juga Teddy tetap anak kami bukan cuma anak ku. Aku yakin, permintaan Teddy ini bukan tanpa alasan. Pasti Bunda Mira yang menginginkan itu, jelas, siapa yang mau Anaknya di pinang tanpa kehadiran kedua orang tuanya?
Ku temui suamiku yang sedang berada di ruang kerjanya. Tok...tok..tok ku ketuk pintu lalu ku buka perlahan.
"Pa..." Sapaku lembut.
"Ya Ma, ada apa malam- malam gini belum tidur ya?" Tanya Papa yang masih sibuk dengan file- file di mejanya, Papa memang sangat sibuk akhir- akhir ini setelah Kevin memutuskan untuk mengantar Vannia pemotretan di luar negeri.
__ADS_1
π₯π₯π₯
Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataππ»π