
Aku sampai di rumah tepat pukul 9 lewat 30 menit, lalu ku buka pintu yang masih belum terkunci, aku tak mengetuknya karena tak ingin mengganggu istirahat para penghuni rumah yang mungkin saja telah terlelap. Dan aku segera menguncinya kembali setelah aku masuk.
Saat aku berbalik dan hendak menuju kamar, Mas Doni dan mbak Linda telah menungguku mereka sudah duduk di ruang tamu, sepertinya mereka sudah lama menunggu kedatanganku. Perasaanku mulai tak enak, Karena tak biasanya di jam segini mereka masih terjaga.
"Assalamu'alaikum" Sapaku.
"Waalaikumsalam" Jawab mereka, serentak
"Ada apa? Kenapa semua masih belum tidur?" Tanyaku menghampiri mereka dengan langkah ragu. Mereka masih bergeming tak menjawab pertanyaan ku.
Hingga akhirnya, Ku lihat selembar kertas dan sebuah pena tergeletak di atas meja yang ada di depanku saat ini, tepatnya meja ruang tamu.
"Apa ini?" Tanyaku, karena tak ada yang menjawab, aku pun mengambil kertas itu, ku baca perlahan dan penuh ke hati- hatian. Jantungku berdegup kencang kala kubaca satu per satu kalimat yang tertulis di dalam kertas tersebut.
"Debby, Pricilia Debby permata hari ini, detik ini, aku, Doni Atmajaya menjatuhkan talak padamu. Mulai hari ini kamu bukan lagi istri dari Doni Atmajaya." Kata Mas Doni begitu lantang. Ku tatap lekat wajah Mas Doni, kucari manik kebohongan di matanya, namun tak kunjung ku dapatkan.
"Ini, ini apa maksud kalian? Mbak, ini kalian sedang bercanda ya?" Tanyaku masih dengan senyuman. Mereka bergeming.
Ku dekati mbak Linda yang saat ini enggan menatapku, dari sana aku mulai merasa bahwa ini bukanlah candaan.
Ku hampiri mas Doni yang duduk menyilang kan kakinya di depanku.
__ADS_1
"Mas, bukanya baru kemarin kamu janji mau berbuat adil? Kamu mau ajak aku bulan madu nanti? Bahkan, kamu mau ajak aku pindah ke rumah baru? Terus kenapa tiba- tiba kamu menjatuhkan talak padaku? Apa salah Debby mas?" Tanyaku pada mas Doni yang saat ini hanya diam dan juga enggan menatapku. Namun, ia tetap bergeming dan memandang lurus ke depan.
Aku beralih menghampiri mbak Linda yang duduk di depan mas Doni, berharap ia akan menjelaskan sesuatu padaku, seperti yang sebelum- sebelumnya ia lakukan.
"Mbak, mbak ngomong mbak." Kataku menggoncang tubuh mbak Linda, ia pun tak mau menjawab sepatah kata pun. Dari situ aku mulai merasa bahwa mbak Linda ikut andil di dalam keputusan ini.
"Linda hamil Deb, aku tak ingin membuatnya stress dan berdampak pada kehamilanya." Kata mas Doni.
Benar dugaan ku, semua ada hubungannya dengan mbak Linda dan ternyata mereka sudah tau tentang kehamilan mbak Linda sebelum aku memberitahunya. Air mata yang ku tahan dan sudah menggunung akhirnya luruh juga, tak ku sangka wanita yang selama ini bagaikan malaikat di mataku, berubah bagaikan malaikat maut yang siap untuk mencabut nyawaku kapan saja.
"Apa bagi kalian aku tidak punya perasaan? Aku hanya barang? Yang saat kalian butuhkan untuk memperoleh buah hati kalian mengambilku, dan saat kalian sudah tidak membutuhkanku kalian membuang ku? Hahaha Benar- benar pasangan yang sempurna kalian!" Ucapku ditengah Isak tangis ku dan dengan penuh amarah.
"Omong kosong, justru aku berusaha mencari solusi terbaik untuk kehamilan mbak Linda!" Jawabku.
"Solusi untuk melenyapkan anakku?" Tuduhnya lagi, aku benar- benar tak menyangka mbak Linda akan berpikir seburuk itu padaku setelah apa yang ku lakukan padanya, bahkan aku harus menanggung rasa malu pada Dokter Tedi hanya demi dia.
Braaak..."sudah cukup Linda, Debby!" Bentak Mas Doni menggebrak meja yang ada di depan kami. Kami pun terdiam sejenak.
"Sekarang aku tanya sama kamu mas, kamu pilih aku sama anak kamu atau Debby?" Ucap Mbak Linda sontak membuatku tak percaya. Mas Doni tak menjawab ia hanya menunduk kan kepalanya.
"Cukup! Tak perlu bersandiwara untuk memilih, Mas Doni sudah menjatuhkan talaknya padaku, dan surat ini sudah disiapkan sedemikian rupa hingga namaku pun sudah tertulis dengan jelas disini. Mbak Linda nggak perlu tanya siapa yang dipilih Mas Doni". lalu ku Ambil surat itu dan ku tandatangani surat cerai dari mas Doni dan ku lempar ke lantai. Ku tinggalkan mereka di ruang tamu dan aku pergi ke kamar untuk mengemasi pakaianku. Ku ambil koper yang ku bawa dari panti, aku tak banyak membawa barang, aku hanya membawa barang-barang yang aku bawa dari panti sehingga satu koper sudah bisa menampung barang- barang milikku.
__ADS_1
Ku tata hatiku, ku tahan amarahku, dan ku tarik napas dalam- dalam, berharap kekuatan selalu menyertaiku. Aku segera turun membawa serta koperku, ku lihat mas Doni masih di ruang tamu dan mbak Linda, sudah tak terlihat ada disana. Aku terus berjalan melewati Mas Doni tanpa menolehnya, dengan penuh kemantapan aku berjalan meninggalkan rumah yang memang sudah seharusnya aku tinggalkan sejak dulu.
"Debby, kamu mau kemana?" Tanya mas Doni yang memegang tanganku. "Tentu saja pergi, rumah ini sudah tak ada lagi hubungannya dengan saya. Lepaskan tangan anda dari saya!" Kataku menghempaskan tangan mas Doni.
"Debby, tunggu dulu, setidaknya sampai besok pagi" Cegahnya.
"Berada di sini walau hanya satu detik saja aku tak sudi!" Kataku penuh amarah.
"Debby, maafkan aku Deb."
"Tak perlu minta maaf, dari awal kamu sudah mengingatkan bahwa jangan mengharapkan sesuatu yang lebih. kesalahanmu cuma satu, kenapa menikahiku kalau hanya ingin membuat statusku menjadi JANDA? Hah? kenapa?" Teriakku, ku tatap lekat mata Mas Doni.
"Debby, semua diluar kemampuanku!" Jawabnya lemah.
"Kamu memang hanya laki- laki yang nggak punya pendirian Mas! Yang hanya bisa di setir oleh istrimu! Menyedihkan." Kataku sambil melangkahkan kaki keluar pintu.
"Terserah kamu mau caci atau hina aku seperti apa Debby, tapi jangan pergi sekarang, udah larut malam Deb, diluar sana bahaya!" Cegahnya lagi menarik tanganku.
π₯π₯π₯
Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataππ»π
__ADS_1