
Aku Bukan Rahim Cadangan
"Jangan bilang kamu berlama-lamaan karena berusaha untuk menurunkan harga ya, jangan bikin malu Deb." tanyaku menyelidik, sifat debby sangatlah ku kenal jika berhubungan dengan pengeluaran.
"Ya siapa tau berhasil kan lumayan buat berhemat."
"Oh ini ambil saja, kebetulan aku baru ambil kemarin, pakai aja." ku berikan dompetku padanya, aku tak menyangka jika dia dari tadi sibuk dengan kasir perkara uangnya kurang.
"Udah ini aja, aku dapat potongan 5 persen karena habis banyak, Bernego itu menguntungkan." jawabnya seraya mengambil beberapa lembar uang dari dalam dompet ku lalu mengembalikanya padaku.
"Ya ampun kenapa kamu bisa jadi perawat, harusnya kamu jadi penjual di pasar aja Debby...Debby..." gumam ku setelah Debby pergi.
Aku segera menuju ke rumah sakit, setelah memastikan jika Debby memang telah kembali ke apartemen.
Ku lajukan mobil ku dengan kecepatan tinggi, karena sudah sedikit terlambat dan akan membuat papa marah pada ku, papa adalah orang yang sangat-sangat disiplin dan beliau sangat membenci kata terlambat, sesampainya di rumah sakit aku pun segera berlari menuju ke ruangan kerja ku, ku kancingkan jas ku yang tadinya belum ku pakai dengan sempurna, Aku tak peduli banyak mata yang memandangi dan melihat ku aneh, aku harus segera sampai ke ruangan ku karena papa sudah menunggu ku dari tadi di sana.
Dengan cepat ku buka pintu ruangan ku, sungguh mengejutkan bukan hanya papa saja yang menunggu ku sedari tadi di sana namun ku lihat mama juga sudah duduk dengan menyilangkan kakinya di sofa tamu, dengan pandanganya yang sangat menakutkan. Ku hentikan langkah ku dan sedikit melemparkan senyum ku " Pa, Ma." sapa ku pada mereka berdua "Sudah lama?" tanya ku.
"Lumayan, hampir dua jam cukup membuat sakit pinggang papa kambuh." sindir mama masih dengan wajah menakutkanya.
__ADS_1
Ku dekati, lalu ku kecup punggung tangan keduanya secara bergantian.
"Duduk lah!" serunya, aku menurutinya duduk di sebelah mereka tapi dengan sedikit jarak antara mereka.
Melihat wajah kedua orang tua ku yang sangat begitu menyeramkan, mengharuskan aku untuk mencari sebuah alasan yang bisa menyelamatkan ku dari keduanya "Maafkan aku ma, pa tadi aku harus mengantar Debby dulu."
Dan nama Debby lah yang ku rasa sangat ampuh untuk menyelamatkan diri, karena aku tahu mereka tak akan marah jika itu menyangkut dengan Debby.
Debby..Debby, setelah apa yang kamu lakukan pada Debby dan selingkuh darinya, sekarang Debby juga yang kamu pakai sebagai alasan datang terlambat? Apa jangan-jangan kamu baru saja pulang dari hotel dan kesiangan? Karena menghabiskan malam dengan wanita ****** itu?" omel mama tanpa ada sedikit jeda pun.
"Apaan sih ma... Teddy itu..."
"Jangan berbelit-belit dan membuat malu. Gimana kalau Debby dan Bundanya sampai tau?" sekarang gantian papa yang memarahi ku.
"Apa? Kurang ajar kamu!" sentak papa.
"Dasar anak tak tau malu kamu." kata mama beranjak dari tempat duduknya dan hendak mengangkat tasnya untuk memukul ku, " cukup ma duduklah." cegah ku.
"Teddy kamu."
__ADS_1
"Teddy bilang mama duduk lah, dengarkan dulu penjelasan Teddy." kataku
"Sudah ma, duduk lah kita dengarkan dulu penjelasan dari bocah tengil ini.'' perintah papa, mama pun menurut seraya membuang nafas kasar lalu segera duduk di samping papa.
"Katakanlah." lagi-lagi papa mengatakanya dengan nada kesal.
"Pertama Teddy nggak ngeband lagi seperti aa yang papa katakan, itu hanya temen lama Teddy aja yang panggil untuk menemani mereka danterpaksa teddy ikuti, spontanitas saja. Kedua wanita yang dikabarkan seperti di surat kabar itu nggak ada itu semua hanya lah hoax semua." jawabku.
"Muka9mukanya jelas itu kamu Ted dan pake pegang-pegangan segala, sekarang kamu bilang hoax.iiiihhh... Lama-lama anak ini mama pites juga pa." kata mama yang seakan sudah geram. bahasa khas mama saat marah pun keluar, aku tak tahu pasti apa itu artinya, yang pasti mama selalu mengeluarkan bahasa-bahasa yang sangat langkah saat marah.
"sabar ma Teddy kan belum selesai ngomongnya. Jadi wanita yang bersama ku itu Debby, istri ku sendiri. Mereka sangat keterlaluan membuat beritanya." lanjut ku
"Apa? Debby? Ucap mereka sedikit bersamaan dan sangat terkejut mendengarkan ucapan ku.
"Dan yang lebih mengkhawatirkan adalah debby tau berita itu, dia pasti sangat terluka sekarang.
"Aduh kok bisa jadi kayak gini? Mama juga bilang apa nikah jangan main rahasia-rahasiaan gitu. Jadi gini kan. Terus gimana Debby? Tanya mama panik.
π₯π₯π₯
__ADS_1
Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataππ»π
Oh ya kak mau promo karya yang berjudul Terpaksa menikahi bos mafia gak kalah seruh juga loh kak ceritanya..