
Aku Bukan Rahim Cadangan
Part 40
Pandanganku tertuju pada Debby yang terlihat dari pintu kaca Cafe dan sedang menuju ke arah Cafe. Otakku pun mulai brfikir.
"Vannia... Kamu salah kalau kamu bilang saya nggak bisa Move on dari kamu. Sekarang kamu lihat, gadis muda, cantik, dan memakai seragam Nakes itu!" Kataku melihat sambil menunjukan ke arah Debby, Vannia pun menoleh ke arah pintu.
"Maksud kamu?"
"Saya, ada disini karena dia. Selain ada masalah di rumah sakit, itu juga karena saya mau menemuinya."
"Jangan coba-coba berbohong hanya untuk membuatku menyerah yah Teddy!"
"Kamu nggak percaya? Bahkan kita sudah tinggal satu atap." Jelasku.
"Hahaha..." Terlihat Vannia menertawakan ku, aku tak bisa membiarkan Vannia terus berbuat semaunya.
"Debby...." Teriakku saat Debby masuk ke Cafe, dia pun menoleh ke arahku.
"Sayang..." Sambungku dengan nada rendah dan romantis tentunya, target ku Vannia, jadi cukup Vannia yang mendengar kata sayangku pada Debby dan jangan sampai Debby mendengarnya, dengan sifat Debby yang seperti itu aku yakin dia akan marah dan membabi buta kepadaku. LaluKu lambaikan tanganku pada Debby, ia menyipitkan matanya dan berjalan ke arahku.
"Dokter? Ada apa dokter?" Tanyanya berdiri di sampingku. Aku pun ikut berdiri menyamainya.
"Kamu tu ya, masih aja panggil dokter, sudah berapa kali saya bilang kalau diluar jangan panggil dokter dong." Kataku selembut- lembutnya sambil menatap Debby dalam- dalam.
"Hah?" Debby terlihat bingung dengan kata- kataku padanya.
"Kamu udah kunci apartemen kita belum sebelum kesini, makanan yang saya buatin tadi udah kamu habisin belum? Harus banyak makan biar nggak sakit- sakit lagi."Sambungku sebelum rem Debby blong dan merusak rencana ku.
"Udah kok piringnya juga udah saya cuci tadi. Nih kuncinya" Jawab Debby, ku lirik Vannia, ia tampak kesal dan terkejut mendengar pembicaraanku dengan Debby. Ku rasa rencanaku sudah berhasil berjalan mulus.
"Kamu bawa aja kuncinya."
__ADS_1
"Apa? Bukannya dokter hari ini sudah nggak ada kegiatan di rumah sakit?" Ceplos Debby.
"Wuuuahhh, ini Mbak Vannia yang model terkenal itu kan." Kata Debby saat melihat ke arah Vannia.
"Debby, kita pergi yuk bukannya kamu mau beli baju buat ke pesta profesor?" Bujukku, karena aku tau hanya dengan cara itu Debby melupakan Vannia.
"Iya, tapi..." Kubawa Debby pergi dari tempat itu, tak ku biarkan dia menoleh walau sepertinya dia masih ingin melihat Vannia.
Setibanya kami di taman.
"Dokter... Apa- apaan sih, lepas nggak!" Omelnya, ku lepas tangan Debby dari genggamanku. Dia tampak sangat begitu marah padaku. Tapi, bagiku kemarahan Debby merupakan hiburan untukku.
"Dokter, dokter nggak tau apa tadi itu Vannia, model terkenal idola saya!" Jelasnya sambil memanyunkan bibirnya.
"Apa urusannya sama saya? Kenapa harus mengidolakan orang kalau diri sendiri lebih cantik!" Celetukku tanpa sengaja.
"Apa?" Debby tampak berpikir.
"Ah... Nggak penting, yang penting tu, harusnya saya sudah dapet tandatangannya kalau dokter nggak tarik saya pergi kesini!"
"Buat apa?" Tanyanya, kubawa tangannya ke arahku dan ku tuliskan tanda tanganku di lengannya.
"Apa- apaan ini dok?" Tanyanya menautkan alisnya.
"Orang yang tadi disana itu, yang jadi idola kamu. Itu ngefans sama saya, jadi tingkatan kamu lebih tinggi dari dia karena kamu lebih dulu punya tanda tangan dari idolanya idola kamu. Kamu PAHAM Debby?" Kataku yang sambil sengengesan, ia terlihat sangat marah. Ku tinggalkan Debby yang masih sibuk mengusap tandatangan di tangannya.
"Dokter... ini permanen ya? Kenapa nggak bisa dihapus?" Teriaknya, sambil berlari mengejarku.
"Nggak usah dihapus Debby, nanti kalau saya balik ke USA terus kamu kangen lihat itu aja!" Candaku setengah berteriak.
πΈπΈπΈ
Setelah masalahku dengan Vannia selesai, aku menemui Dokter Firman Waktu sudah sangat sore dan Debby juga bilang akan langsung ke acara Ulang Tahun kakek. Jadi, aku putuskan untuk tinggal sejenak di Rumah sakit.
__ADS_1
"Selamat sore dok!" Sapaku membuka pintu dokter Firman yang terlihat sudah bersantai di meja kerjanya. Tapi dia tak menjawab sapaan ku, dia terlihat sibuk dan senyum- senyum sendiri dengan gawainya.
"Dokter!" Panggilku lebih keras lagi, dan dia terperanjat melihatku yang sudah duduk di depannya.
"Halo Teddy, sorry lagi heran sama para wanita jaman sekarang." Jawabnya masih dengan tawanya.
"Hati- hati dokter, dokter ini kan sudah nikah." Kataku mengingatkan.
"Sorry Teddy, kalau istri saya itu bukan wanita jaman sekarang."
"Maksudnya?"
"Coba deh lihat sini Ted, anak muda jaman sekarang, mau ke pesta aja heboh. Nyobain baju aja di buat status, mending kalau dibeli kalau nggak kan kasihan yang jual. Mana si Desi asistenku ikut- ikutan lagi." Jelas Dokter Firman seraya menunjukkan ponsel di group WA Rumah Sakit. Terlihat di sana ada beberapa orang yang ku kenal sedang berada di tempat penyewaan baju, ada Suster Desi, Suster Lidia, sinta, dan juga Debby pastinya yang mengundang perhatianku. Ia terlihat berbeda dengan dress coklat selutut dan tanpa lengan.
"Astaga Debby?" Lirihku.
"Debby... Lagi! Berapa kali saya bilang, istri orang Teddy... Itu istri orang..." kata dokter Firman yang ternyata mendengar kata- kataku.
"Ya memang ada Debby di situ, apa salah saya? Kalau bilang itu Debby?" Jawabku dan sepertinya dokter Firman Percaya.
"Kamu yakin nggak kesana? Disana banyak wanita-wanita cantik yang bisa kamu ajak kenalan!" Aku tak menjawab yang jadi pikiranku saat ini justru Debby, aku melupakan sesuatu. Harusnya aku lebih berhati- hati kalau melibatkan Debby dalam masalahku dengan Vannia, karena dalam pesta itu pastilah akan ada Vannia dan pasti akan bertemu dengan Debby. "Kenapa bisa lupa?" Gumamku.
"Lupa? Lupa kenapa Ted?"
"Oh, nggak dok, saya lupa mau bilang sama dokter kalau besok pesawat saya jam 10, dokter nggak perlu nganterin saya, saya akan berangkat sendiri besok." Jawabku menutupi.
Dokter Firman terlihat menghela napas panjang dan menyandarkan punggungnya di kursi kebesarannya.
"Saya sangat berterimakasih sama kamu dokter Teddy, sejujurnya saya sangat berharap kalau dokter bisa bergabung dengan kami, tapi kami juga tidak bisa memaksa."
"Sudah jadi kewajiban saya dok, diusia saya sebesar ini belum ada sesuatu yang bisa saya lakukan untuk keluarga saya. Kalau masalah pulang, sejujurnya saya sudah mengundurkan diri dan berencana pulang, tapi pihak rumah sakit di USA masih membutuhkan tenaga saya. Dan setelah saya kesini saya baru sadar bahwa memang lebih baik saya di USA." Jelasku, begitu banyak Masalah yang timbul setelah kedatanganku kembali ke Indonesia, lebih- lebih masalah Vannia yang tentu akan menjadi boomerang untukku dan keluarga Wijaya, membuatku mantap meninggalkan Jakarta. Aku juga tak mau lagi jika harus menggantungkan hidupku dari keluarga Wijaya apalagi setelah pertengkaran ku dengan Papa kemarin.
π₯π₯π₯
__ADS_1
Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataππ»π