
Aku Bukan Rahim Cadangan
Part 55
"Om tunggu sini bentar ya, Aldo akan panggil Bunda." Kata Aldo meninggalkanku di teras depan dan dia berlari masuk ke dalam untuk mencari bunda Mira .
Tak berselang lama Aldo kembali bersama seorang wanita paruh baya yang memakai hijab, terlihat begitu santun dan keibuan,
Yang aku yakin itu adalah bunda Mira.
"Assalamualaikum." Sapaku, ku tangkupkan kedua tanganku di dada.
"Waalaikumsalam" jawabnya tersenyum ramah dan membalas salamku dengan menangkupkan kedua tangannya pula.
"Maaf Bunda pagi- pagi saya mengganggu Bunda."
"Aldo main disana dulu ya? Bunda lagi ada tamu." Kata Bunda pada Aldo begitu lembut. Aldo pun segera menurutinya dan pergi ke halaman.
"Om, jangan lupa janjinya ya!" Teriak Aldo yang belum terlalu jauh meninggalkan kami.
__ADS_1
"Siap Bos!" Jawabku menyeringai. Bunda pun tersenyum melihat kami.
"Masuk Nak!" kata Bunda dan mempersilahkan ku untuk masuk dan duduk. Saat ini kami ada di ruang tamu panti. Aku duduk berhadapan dengan bunda.
Lama aku terdiam duduk di depan Bunda Mira. Hingga akhirnya ku beranikan diri untuk membuka obrolan dengan Bunda Mira.
"Perkenalkan, nama saya Teddy Bunda." Kataku tersenyum.
"Saya Bunda Mira. Ngomong- ngomong ada perlu apa kesini nak?" Tanya Bunda Mira dengan penuh kelembutan dan senyum ramahnya, sungguh pribadi yang menyejukkan, pantas saja Debby sangat begitu menyayanginya.
"Ada hal penting yang mau saya sampaikan pada Bunda, Ini menyangkut tentang Debby." Kataku.
"Saya rekan kerja Debby." Jawabku.
"Subhanallah, senang sekali bisa bertemu dengan teman Debby." Katanya bahagia. Namun tak berselang lama, senyum itu memudar.
"Ngomong- ngomong apa Debby berbuat salah?" Tanya bunda Mira yang tampak curiga.
"Oh, bukan Bunda, ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan pekerjaan." Jelasku.
__ADS_1
"Alhamdulillah kalau begitu. Lalu apa yang hendak Nak Teddy sampaikan pada Bunda?"
"Bunda, sebelumnya saya minta maaf... sekali kalau saya lancang. Seharusnya Debbylah yang seharusnya mengatakan semua ini sendiri pada Umi." Kataku penuh kehati- hatian. Mengatakan hal yang tidak menyenangkan pada orang seusia Bunda Mira haruslah sangat berhati- hati.
"Memangnya ada apa to nak dengan Debby?" Tanya Bunda yang mulai khawatir.
"Sebelumnya Bunda perlu tau, Debby begitu sangat menyayangi Bunda. Debby tak ingin membagi kesedihanya pada Bunda, Debby hanya ingin berbagi kebahagiaan pada Bunda. " Jelasku menetralkan suasana agar tidak terlalu tegang.
"Maksud Nak Teddy? Debby sedang berada dalam kesedihan?"
"Maaf Bunda sebenarnya, Debby sudah bercerai mungkin tepatnya sudah di talak oleh Suaminya beberapa hari yang lalu tapi belum ada yang mengetahuinya selain saya dan suster Lidia." Jelasku. Terlihat dari wajahnya Bunda begitu sedih dan terpukul, tapi ini lah yang terbaik menurutku. Menimbun bangkai pasti akan tercium juga nantinya.
"Saya harap Bunda bisa lebih sabar."
"Dimana Debby sekarang? Apakah Debby baik- baik saja?" Tanya Bunda dengan mata yang mulai mengembun berkaca-kaca, sungguh tak tega aku melihatnya.
"Debby baik-baik Bunda, bunda nggak usah khawatir. Debby ada di apartemen saya." Jawabku.
π₯π₯π₯
__ADS_1
Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataππ»π