
Aku bukan rahim Cadangan
Part 142
"Bunga Bank?" Tanya Mas Aska menautkan kedua alisnya yang indah itu.
"Iya, aku kan nabung dikit- dikit, setiap bulan pasti ada kiriman laporan perkembangannya. Gitu, iya kan bun?" Tanyaku, Bunda tampak terlihat bingung, tapi sepertinya bunda tau saat ku berikan sedikit kode dengan mengedipkan sebelah mataku.
"Oh... Iya."
"Ya udah aku ke kamar dulu ya, aku beresin dulu biar nyaman." Pamitku.
Aku bergegas ke kamar, membersihkan semua bunga yang ada di Vas, bunga Lili yang ku simpan di Vas dan ku ganti setiap ada kiriman bunga baru. Bunga yang masih menjadi ancaman dan masih misterius untukku, bunga yang ku kira dari suamiku tapi nyatanya salah kaprah, suamiku sama sekali tidak tau menahu soal bunga ini, harus nya aku tak bodoh dan lebih peka, suamiku mana mungkin seromantis itu. Kirim bunga mawar satu kali aja sudah Alhamdulillah dan luar biasa.
Ku buang dan ku sembunyikan semua ucapan yang kusimpan, ucapan maaf yang tak jelas maaf untuk apa.
Cekrek... Pintu kamarku di buka saat aku membuang semua kertas ucapan di tempat sampah. Aku berbalik "kenapa masuk?" Tanyaku pada Mas Aska yang sudah berdiri di depan pintu.
"Oh, Saya nggak boleh masuk ya?" Katanya berbalik menuju keluar.
"Eh... Bukan gitu mas." Kataku mencegahnya lalu ku tutup pintu kamarku.
"Bunda lagi sibuk buat kue, nggak enak kalau membuang waktunya." Ucapnya memperhatikan setiap sudut kamarku yang kecil.
"Kamarnya kecil, ranjangnya juga kecil, Maaf" Kataku menundukkan kepala.
__ADS_1
"Saya suka kok, Kalau ranjangnya kecilkan tidurnya bisa berpelukan terus." Candanya sambil duduk di bibir ranjang.
"Ya udah mendingan sekarang kamu mandi terus istirahat, besok biar bisa bangun pagi, nggak ketinggalan pesawat."
"Terus, kamu mau ngapain?"
"Mau bantu Bunda lah."
"Emang bisa?"
"Bisa kalau sekedar pecah telor aja" Jawabku seraya tertawa.
"Ya, tapi jangan lama- lama. Saya tunggu kamu disini."
"Hemm"
Aku terkejut saat mendengar Bunda berkata ada acara syukuran di tempat Mama. Ku hubungi segera Mama, saat Debby sudah pergi ke dapur untuk membantu bunda membuat kue.
"Halo" jawab Mama dari seberang sana.
"Halo Mama, Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
"Mama, mama dimana Ma?"
__ADS_1
"Di jalan, mau ke panti nganter anak- anak." Jawabnya.
"Aku juga di panti Ma."
"Kamu di panti? Ya udah kita ketemu di sana ya. kebetulan Mama bawa banyak makanan kesukaanmu."
"Loh Ma, halo." Tak ada suara lagi, Mama menutup sambungan teleponnya sepihak.
Aku berpikir, hadiah apa yang harus ku berikan untuk Mama, sedangkan aku sama sekali tidak siap. Benar- benar keterlaluan, bagaimana mungkin aku bisa melupakan hari ulang tahun Mamaku sendiri. Mama yang selalu mengingat semua yang berhubungan denganku, makanan kesukaanku, ulang tahunku, semua tentang kebahagiaanku.
Saat aku sedang berpikir, tiba- tiba saja Debby masuk. "Belum tidur Mas?" Tanyanya yang menghampiriku.
"Debby, kan saya uda bilang nungguin kamu sayang."
"Sini..." Ku tepuk sisi sebelah kananku
Kami duduk dan bersandar di bahu ranjang.
"Cepet sekali bantu Bunda nya Deb?" Tanyaku.
"Bunda menyuruhku menemani suamiku yang limited edition."
"Maksudnya?"
π₯π₯π₯
__ADS_1
Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataππ»π
Oh ya kak mau promo karya yang berjudul Terpaksa Terpaksa Menikahi Bos Mafia gak kalah seruh juga loh kak ceritanya..