Aku Bukan Rahim Cadangan

Aku Bukan Rahim Cadangan
Kebahagiaan Teddy


__ADS_3

Aku Bukan Rahim Cadangan


Part 97.


Pintu dibuka oleh kakekku, "Operasinya berjalan lancar, Teddy sudah melakukannya dengan baik. Sebentar lagi Debby akan dipindahkan ke ruang rawat." Kata kakek.


"Terimakasih," jawab Bunda.


"Teddy... Sayang, Debby akan baik- baik saja. Jangan seperti ini." Kata Mama yang terus mengusap punggungku.


Tak berselang lama, Debby dibawa keluar oleh Alex dan temannya menuju ruang Rawat. Bunda mengikuti Debby. Dan Aku masih belum bisa beranjak dari tempatku.


"Atma, Widia, Papa mau bicara. Ikut ke ruangan Papa." Seru kakek pada Papa dan Mama.


"Tapi Pa... Teddy..."

__ADS_1


"Biar saja dia menenangkan dirinya dulu." Sela Kakek sebelum Mama menyelesaikan kalimatnya.


"Teddy, merawat Debby lebih berguna daripada harus menangisi Debby." Kata kakek lalu pergi ke ruangannya diikuti oleh Papa.


"Sudah nggak usah nangis. Apa yang dikatakan kakekmu itu benar. Mama tinggal dulu ya sayang" pamit Mama sambil mengusap air mataku lalu pergi meninggalkan ku.


POV Atmajaya.


Setelah mendengar kabar bahwa ada insiden di rumah sakit Papa yang melibatkan Debby, calon menantu kami, istriku langsung mengajakku untuk ke rumah sakit, memastikan kebenaran berita tersebut. Sebelumnya kami sudah menghubungi Papa dan Teddy untuk mastikan, namun tidak satu pun dari mereka yang menjawab. Dari situ kami Sakin yakin bahwa sedang terjadi sesuatu.


Teddy masih bergeming dan menangis di pelukan Mamanya, membuatku ikut merasakan apa yang dirasakannya saat ini. Teddy yang begitu angkuh, kuat dan penuh keberanian dalam sekejap menjadi rapuh hanya karena Debby.


Perasaanku tenang saat Papa menyampaikan bahwa Debby dalam keadaan baik. papa menyuruhku dan istriku untuk ikut ke ruangannya, entah apa yang hendak ia sampaikan pada kami berdua.


"Duduk." Perintah Papa begitu kami sampai di ruangannya.

__ADS_1


"Atma, jangan paksa Teddy lagi. Biarkan Teddy bahagia bersama Debby, kamu tidak usah mencampuradukkan urusan hati dengan ambisimu." Terang Papa.


"Papa, apa maksud papa?"


"Kamu pikir Papa tidak tau kenapa kamu mau bertemu dengan Debby? Kamu mau mencuci otaknya dan menghasutnya iya kan?"


"Mana mungkin, Papa salah paham." Jawabku menutupi, memang pada awalnya itulah tujuan ku, tapi setelah melihat Teddy yang begitu mencintai Debby, menangis karena Debby, membuatku berpikir ulang.


"Terserah Atma! yang jelas, akan lebih baik jika pernikahan di adakan sebelum Teddy kembali ke USA. Kalau tidak, Debby bisa saja kembali pada Mantan suaminya. Aku dengar keluarga mantan suami Debby masih mengharapkan Debby."


"Mana mungkin menikahkan Debby dengan Teddy sekarang? Kalau Debby saja tidak tau pertunangan sudah terjadi di antara mereka berdua." Jawabku.


πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€


Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataπŸ™πŸ»πŸ˜Š

__ADS_1


__ADS_2