
Aku Bukan Rahim Cadangan
Part 95.
Ia tampak berpikir, namun kembali histeris setalah melihat Debby.Aku tak tau pasti apa yang sebenarnya terjadi, tapi aku yakin ada yang menghasut orang ini sebelumnya hingga melakukan hal di luar kendali seperti ini.
"Dimana Anakku?" Bentak wanita itu yang kembali mendekati Debby.
"Saya nggak tau apa- apa Bu..." Jawab Debby dengan suara bergetar dan Air mata yang terus mengalir, melihat Debby dalam kondisi seperti ini membuat otakku tak bisa berpikir lagi. Rasanya semua yang biasa dengan mudah aku lakukan seolah buyar ketika melihat Debby.
"Alex, cepat ambil suntikan penenang sekarang!" Teriakku, Ku putuskan untuk menyuruh Alex yang juga berada di tempat itu mengambil obat bius dosis tinggi untuk melumpuhkan pasien gangguan jiwa itu. Menunggu pihak rumah sakit jiwa akan membuang waktu yang lebih lama dan membahayakan nyawa Debby. Alex mendengarkan perintahku dan segera berlari mengambil obat yang ku maksud.
"Ibu... Anak ibu ada di sebelah sini Bu... Ayo Bu... mari saya antar ke Anak Ibu..." Bujukku, hanya pendekatan pada pasien ini yang bisa ku lakukan sambil menunggu Alex datang, yang pasti orang itu harus menjauh dulu dari Debby.
"Apa? Kamu membohongi saya." Jawabnya sambil menangis.
__ADS_1
"Saya nggak bohong Bu, mari ikut saya... Anak ibu sudah menunggu" Ajakku lebih lembut, ku ulurkan tanganku pada wanita itu, ia mulai mendengar bujuk rayuku, dan semakin mendekat ke arahku, Namun masih menodongkan pisaunya padaku. Saat dia sudah berjarak beberapa langkah dari ku, tepat sekali ku lihat Alex sudah kembali dengan sebuah suntikan di tangannya. Segera ku berikan kode pada Alex untuk bersiap mendekati Wanita itu dan sepertinya Alex pun paham apa maksudku.
Semakin dekat dan semakin dekat wanita itu hanya berjarak satu langkah denganku, dengan sigap ku coba mencekal tangannya yang membawa sebilah pisau itu "Alex sekarang!" Teriakku, Alex segera berlari dan melumpuhkan wanita itu dengan suntikan obat yang ia bawa.
"Aaaah" teriak wanita itu. Tak berselang lama wanita itu jatuh terkulai.
Ku tinggalkan dan aku segera berlari ke arah Debby yang sudah terbaring lemah. kesadarannya pun sudah mulai berkurang.
"Debby!"
"Sakit sekali dokter!" Keluh Debby sambil memegangi perutnya yang sudah sobek tertusuk benda tajam.
"Siapkan ruang operasi sekarang!" Kataku seraya membawa Debby dalam dekapanku menuju gedung rumah sakit.
"Dokter sedang kosong dok, ini hari Minggu, hanya ada dokter piket." Jawab Alex.
__ADS_1
"Ya Allah,"
"Alex kamu ikut saya, ikut ke ruang operasi."
"T_api dok saya belum pernah ikut operasi." Jawabnya dengan terbata-bata.
"Alex!" Sentakku.
"I_ya dokter."
Kami bergegas menuju ruang operasi. Melihat Debby yang semakin pucat membuatku tidak lagi berpikir tentang SIP atau apa. Yang ku butuhkan sekarang hanyalah keselamatan Debby.
Aku, kakek dan dokter piket sekarang ada di ruang operasi, dengan di bantu Debby dan satu orang perawat lagi yang aku tidak tau siapa namanya.
Dalam hati ku hanya bisa terus berdoa untuk keselamatan Debby. Setelah semua berganti pakaian dan peralatan sudah lengkap kami segera melaksanakan tindakan operasi terhadap Debby.
__ADS_1
π₯π₯π₯
Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataππ»π