Aku Bukan Rahim Cadangan

Aku Bukan Rahim Cadangan
Cincin tunangan


__ADS_3

Aku bukan rahim cadangan


Part 208


"Ternyata putri kecil kita telah dewasa ya Bun." ucap mbok mar seraya menghapus air mataku. Mbok mar adalah keluargaku setelah Bunda, dengan tangan mbok mar lah yang ikut serta membesarkan dan merawatku. Kedua wanita hebat ini lah yang telah sabar mengurus dan telaten menjagaku hingga sebesar ini.


Bunda mengajaku kekamarnya setelah mbok mar menerima permintaanku untuk menghadiri acara resepsiku nanti.


"Bunda melupakan sesuatu,Debby".


terlihat bunda membuka lemari dan sibuk mencari dan mengeluarkan kotak kecil lalu duduk disebelahku.


"Apa itu, Bun?"


"Bunda lupa, ada yang menitipkan cincin ini untukmu, akan meniadi tidak amanah jika bunda tidak segera memberikan ini pada mu."


"Cincin? Bunda nggak lupa kan kalau debby sudah menikah?"


"Itu cincin dari suamimu, setelah bunda menerima lamaran darinya waktu itu. Dia menitipkanya pada Bunda saat itu. Eh., ternyata belum juga tunangan udah nikah." jelas bunda terkeke, aku pun ikut tersenyum malu.


"Terima kasih ya bunda uda menerima lamarannya.

__ADS_1


"Halah...dulu aja sok sokan jual maha."


"Umi ini nanya apa makasa?"


Ucapnya yang meenirukan gaya bicaraku waktu Bunda menyampaikan pernikahan kami.


"Ahhh...Bunda, ya masa Debby langsung mau, kan malu bun."


"Debby, bolehkah bunda meminta sesuatu padamu?"


"Apa bun?"


"Hemm, iya bunda." jawabku, sebenarnya dipernikahan pertamaku pun aku selalu berusaha untuk menjadi istri yang baik seperti apa yang dipesankan bunda saat pertama kali aku melangkahkan kaki keluar dari panti ini. Namun manusia hanya bisa berusaha, selebihnya Tuhanlah yang menentukan.


🌸🌸🌸


Setelah dirasa telah cukup, aku pun kembali ke apartemen. Membawabaju dan juga keperluanku, ku buka pintu, ruangan masih gelap, tertanda mas aska belum pulang. "Belum pulang" gumam ku setelah menyalahkan lampu apartemen, ku ambil gawai dan kuhubungi suamiku tapi tak ada jawaban, hanya ada suara operator yang ku dengar menolak panggilan ku.


"uda buru-buru pulang, mau makan malam malah ngak pulang-pulang." gerutuku


Ku bersihkan diri dan kembali menunggu kedatangan mas Aska sedikit kesal karena ponselnya pun masih tetap belum bisa dihubungi. "benar-benar sudah keterlaluan." gerutuku

__ADS_1


Ku hubungi rumah sakit.


"Halo" akhirnya aku mendengar suara itu.


"Hallo mas."


"Debby, nanti saya hubungi kamu kembali ya, saya masih banyak kerjaan soalnya. nice dream." Tutupnya.


"Hallo, ya, mati. Orang mau kerja di nice dream?" gumamku


Ku putuskan untuk segera pergi kerumah sakit lebh awal, kaki ayam ini terlalu sayang jika dianggurkan. Setidaknya aku bisa membagikanya kepada teman-teman yang ada disana, dari pada mubazir, toh suamiku pasti sudah makan malam diluar.


Aku segera memesan taxi, pukul setengah sembilan aku pun sampai dirumah sakit, saat aku menuju keruang ganti, netra ku tertuju keruang mas aska yang telihat masih menyala. Terfikir untuk melihatnya sebelum shift malam dimulai. Ku tengok kanan dan kiri, setelah kupastikan tak ada orang, aku segerah menuju keruangan suamiku.


Tok...tok...tok... Ku ketuk lalu ku buka.


πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€


Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataπŸ™πŸ»πŸ˜Š


Oh ya kak mau promo karya yang berjudul Terpaksa Terpaksa menikahi bos mafia gak kalah seruh juga loh kak ceritanya..

__ADS_1


__ADS_2