
Aku bukan rahim Cadangan
Part 217
"Enggak kok, paling hanya senam jantung sedikit. Soalnya aku juga ngak bisa menebak orangnya mbak, yo kita mau di apain juga nggak tau. Udah mendingan nurut aja deh, dari pada menambah masalah." Putus ku
"Ya allah nasib-nasib, jadi apes kan, lagian ngapain tadi ikut mbak Lidia dan Sinta, hadeeeehhh." gerutu Alex seraya menepuk jidatnya.
Kami berempat lalu bergegas melaksanakan perintah dari mas Aska, dan aku hanya berharap tidak akan terjadi sesuatu apapun terhadap teman-teman ku, karena aku sendiri tidak pernah tau apa yang ada difikiran suami ku itu, dia terlalu sulit untuk di tebak atau pun di pahami.
Aku berjalan bersisihan dengan mbak Lidia yang tampaknya masih kesal dan wajahnya terlihat masih merengut, sedangkan Alex dan Sinta mengikuti dari belakang langkah cepat kami.
"Senyum dong mbak, jangan cemberut gitu dong, damai." ku pegang tangan mbak Lindia namun di tepisnya." entah sudah berapa kali aku membuatnya dalam masalah, pesany yang ku kirim atas namanya untuk mas Aska saja sudah membuat ku merasa sangat bersalah waktu itu.
Banyak sekali orang yang memperhatikan kami pada saat ini, sesekali orang yang berpapasan disekitar menyapa ku dengan rama. "Bu..." ku balas mereka dengan senyuman, aku tak menyangka berita itu sangat begitu cepat menyebar.
__ADS_1
"Seneng? Kamu enak dapet kehormatan dari semua orang, Lah sedangkan mbak? Kalau sampai mbak dipecat awas ya kamu Debby, kita putus hubungan persaudaraan." ancamnya
"Ah... Mbak jangan gitu dong, nanti aku bantu nego deh."jawabku
"Nego,nego,nego. Kamu kira ini jual beli" celetuknya
"Apa ngak lebih rugi aku dan Alex mbak? Nggak ikut ngapa-ngapain tapi ikut nanggung akibat perbuatan mbak Lidia." ceplos Sinta. Seketika langkah mbak Lidia pun terhenti dan membalikan tubuhnya ke arah Sinta yang berjalan dibelakang kami.
"Bisa di ulangi lagi Sinta yang manis?" tanya mbak Lidia yang mendekati wajah Sinta. Aku dan alex hanya bisa menelan ludah melihatnya. Memang, diantara kami mbak Lidia lah yang paling tua dan berkuasa, tak hanya aku saja, tapi mereka berdua juga lah yang merekomendasikan mereka berdua sehingga mereka dapat masuk bekerja di Rumah sakit ini.
"Hah!" Alex terperanga men
Kemarahan mbak Lidia kali ini sudah tak bisa terelakan lagi.
"Debby ni, gara-gara Debby semua ni." keluh Sinta lagi
__ADS_1
"Maaf, Maaf."
Kami pun sekarang sudah sampai di depan ruangan yang bertuliskan Direktur, kami menghentikan langkah kaki kami, menatap antara satu sama lain.
"Ayo Debby kamu masuk duluan, itu suami kamu kan!" perintah mbak Lidia yang masih dengan nada yang tak biasa.
"Aku? Masuk?" ulangku
"Iya, kamu, kenapa? Takut? Gimana mau bernego kalau kamu sendiri saja takut." sindir mbak Lidia.
"Hahaha.. Takut? Ya nggak lah, masak iya sama suami sendiri takut, yang benar saja, bukanya wanita itu lebih berkuasa." ucapku dengan percaya diri.
π₯π₯π₯
Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataππ»π
__ADS_1
Oh ya kak mau promo karya yang berjudul Terpaksa Terpaksa menikahi bos mafia gak kalah seruh juga loh kak ceritanya..