
Aku bukan Rahim Cadangan
Part 119
Aku benar- benar merasa sangat bersalah, sebagai orang yang paham dengan pekerjaan di dunia kesehatan, harusnya aku mengerti dengan posisi dokter Teddy, dia harus menyelesaikan tugasnya, tidak bisa meninggalkan semua pasiennya secara mendadak, semua itu juga butuh proses.
"Apa kamu tidak akan marah Debby? Sekarang saya punya tanggung jawab pada istri saya selain pada pasien saya." Jawabnya, yang mampu membuat jantungku berdebar- debar. Ku gelengkan kepalaku.
"Saya akan menunggu sampai dokter kembali." Hanya jawaban itu yang bisa ku katakan saat ini. Dia tersenyum manis. Senyum yang mungkin akan membuatku rindu jika tidak melihatnya.
"Terima kasih Debby." Tiba- tiba dia beranjak dari tempat duduknya, mendekatkan wajahnya ke arahku dan mengecup lembut keningku. Aku terkejut namun aku tak bisa menolak itu, dia memiliki hak atas diriku, aku lebih memilih untuk memejamkan mataku, menikmati setiap hembusan nafasnya yang hangat menyapu rambutku.
"I Love You Debby." Lirihnya, saat mataku belum terbuka sempurna, bibir yang tadinya berada di keningku sekarang sudah singgah di bibirku. Sekalipun ini ciuman pertamaku, tetap saja aku merasa sudah kecolongan.
__ADS_1
"Iiiiihhh Dokter nggak sopan." Kataku mendorongnya untuk menjauh dariku.
"Nggak sopan, nggak sopan. Nggak sopan kalau kamu bukan istri saya. Lagi pula, harusnya kecupan tadi sudah saya lakukan setelah ijab kabul. Dan yang satunya..." Ia tampak berpikir.
"Yang satunya itu juga kalau di barat selalu dilakukan setelah ikrar pernikahan Debby! Saya nggak mau hutang sama kamu. Lagian sepertinya kamu juga menikmatinya" Ocehnya. Ku lempar bantal ke arahnya, karena sudah menjatuhkan martabat ku dengan kata- kata MENIKMATI.
"Hutang? Justru dokter yang berhutang kalau sudah mencium saya lalu meninggalkan saya!" Jawabku, dia terkekeh.
"Maaf istriku..." Jawabnya merayuku.
"Cium tangan suami kalau suami mau berangkat kerja!" Jelasnya, aku hanya bisa menahan tawa. Tapi aku harus menurutinya. Ku ambil dan kucium punggung tangannya.
"Jaga mata, saya akan selalu mengawasi kamu Debby." Ancamnya padaku.
__ADS_1
"Hemm..." jawabku santai.
"Mau peluk tanda perpisahan?" Godanya lagi.
"Udah tadi, jangan boros! Simpen kalau sudah balik, biar nggak bosen." Tolakku.
"Yakin? Kalau saya sudah di USA, ntar nangis- nangis nyari saya!" Sindirnya, aku yakin Bunda sudah bicara banyak hal tentang aku padanya.
POV Teddy
Setelah membicarakan semuanya dengan Debby, akhirnya waktu keberangkatan pesawatku sudah hampir tiba. Aku memang harus cepat kembali, pihak rumah sakit sudah menghubungiku. Pasien yang aku tangani harus segera di operasi. Ku tinggalkan Debby dengan berat hati, wanita yang aku nikahi satu jam yang lalu itu sempat kecewa padaku. Aku pun sempat bingung harus mengambil langkah apa. Tapi Debby bukan lah orang yang egois, dia menerima kepergianku dan mengalah demi keselamatan pasienku. Dari sini aku semakin yakin bahwa aku tidak salah memilih pasangan hidup.
Perpisahan ku dengan Debby sangatlah singkat, aku lega karena sudah tak ada lagi raut kesedihan di wajahnya. Ku buka handle pintu lalu keluar, Mama dan Bunda Mira sudah duduk di kursi tunggu yang ada di depan kamar Debby, Aku tau mereka sedang memberi waktu untuk aku dan Debby, makanya mereka tidak masuk dan lebih memilih duduk menunggu di depan ruangan.
__ADS_1
π₯π₯π₯
Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataππ»π