
Aku bukan rahim cadangan
Part 194
"Ma, titip Debby." Pamitnya lalu meninggalkan kami, mengikuti Papa.
Saat ini kami hanya bertiga, Mama menghampiriku, "Debby, Teddy sudah bilang masalah resepsi kan sayang?"
"Iya, udah kok Ma"
"Nya, yang mau dibawakan si aden teh yang mana?" Tanya seorang wanita yang sudah berumur pada Mama.
"Debby kenalkan, ini Bi Darmi, Bi ini istrinya Teddy, Debby".
Ku sapa dan ku kecup punggung tangannya, dia menolak "eh, jangan gitu mbak Debby."
"Nggak papa Bi. Panggil Debby aja" Aku tetap memaksa, Bunda mengajarkan aku untuk bersikap sopan pada semua orang yang lebih tua, tak peduli apa kedudukannya.
__ADS_1
"Debby, kamu tunggu sebentar ya, Mama punya sesuatu yang harus kalian bawa, ayo Bi."
Mama dan Bi Darmi meninggalkanku, sekarang kami hanya berdua.
Vannia menatapku dengan tajam.
Aku beranjak dari tempatku, ku lihat sebuah pintu pembatas terbuat dari kaca, sepertinya terhubung langsung dengan halaman belakang, ku tinggalkan Vannia, lebih baik menunggu Mama dan Mas Teddy dengan melihat- lihat halaman belakang dari pada harus berdua dengan ulat bulu ini.
Lama aku menunggu, Mas Teddy dan Mama tak kunjung datang.
"Kenapa, heran sama rumah orang kaya? Baru sekali lihat kolam renang sebesar ini? Ya iya lah, kamu kan cuma tinggal di Panti." Celetuk Vannia yang tiba- tiba telah berdiri di belakangku.
"Vannia, saya memang bukan orang kaya seperti kamu, tapi saya lebih punya harga diri dan sopan santun dibanding kamu yang bisanya hanya menghina orang lain. Setidaknya saya lebih terhormat dari kamu, karena saya tidak menggoda suami orang. Dan satu hal lagi, setidaknya saya masih punya skill untuk merawat orang yang membutuhkan, daripada kamu yang hanya bisa berlenggak- lenggok di catwalk, kalau cuma itu doang mah, adik- adikku di panti juga bisa melakukannya. Tak perlu susah- susah mengerjakan TA apa lagi skripsi!" Ejekku.
"Kurang ajar kamu!"
Byuurrr... Emosi Vannia tak terkontrol, dia mendorongku hingga aku terjatuh di kolam renang. "Vannia tolong..." Ku panggil Vannia dan meminta bantuannya, karena aku sama sekali tak bisa berenang, namun dia justru menertawaiku dan pergi meninggalkanku. Entah apa yang akan terjadi padaku, hanya rasa sakit dan takut ku rasakan saat ini. "Tuhan inikah takdirmu, haruskah kebahagiaan ini begitu singkat untukku? Aku masih ingin bersamanya, Tuhan." Doaku dalam hati sebelum aku benar- benar kehilangan kesadaranku.
__ADS_1
POV Teddy
Dengan terpaksa ku ikuti langkah Papa menuju ruang kerjanya, kalau bukan karena Debby yang meminta aku tak mungkin menurutinya. Berbicara dengan Papa sama saja mengibarkan bendera perang yang sudah ku tanggalkan sejak Papa membantu hubunganku dengan Debby.
"Duduk!" Seru Papa begitu kami sampai di ruang kerjanya.
"Apa yang mau Papa bicarakan?" Tanyaku.
"Jadi ini pilihanmu? Rumah sakit?" Tanya Papa penuh intimidasi.
"Memutuskan sesuatu berdasarkan tingkat kedaruratannya itu lebih baik." Jawabku.
"Ini bukan Rumah Sakit, yang harus bertindak sesuai tingkat kedaruratan pasien!" Tegasnya,
Ku hela nafas panjang, sepertinya harus lebih sabar menghadapi Papa kali ini kalau tak ingin semua barang yang ada di ruangan ini melayang dan mengenai mukaku.
π₯π₯π₯
__ADS_1
Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataππ»π
Oh ya kak mau promo karya yang berjudul Terpaksa Terpaksa menikahi bos mafia gak kalah seruh juga loh kak ceritanya..