
Aku bukan rqhim cadangan
Part 131
Usai membersihkan diri, aku mengistirahatkan tubuhku yang sudah mulai lelah di atas ranjang ku tekuk kedua lututku yang terasa pegal dan meniup kakiku yang lecet akibat sepatu hak tinggi yang seharian harus ku pakai.
"Pegel, lecet, seharian kesana kemari pake hak tinggi. Sepertinya aku tidak berbakat memakai hak tinggi." Keluhku sambil memijat kakiku.
Dia yang baru keluar dari kamar mandi mengikutiku duduk di sisi sebelahku dan membawa kakiku ke arahnya lalu menggantikan ku memijatnya. Dari dulu sampai sekarang dia memang tidak banyak berkata saat bertindak. Aku tersenyum melihatnya yang hanya memakai kaos singlet dan celana bahan, tampaknya dia juga tidak banyak membawa baju ganti.
"Jangan senyum- senyum, kenapa? Saya tampan?" Tanyanya.
"Saya nggak bawa salep, lecetnya ditahan, besok juga kering." Sambungnya sambil terus memijat betisku.
"Sudah mengabari Bunda Deb?"
"Sudah, dan Bunda titip salam untuk menantunya."
"Waalaikumsalam" jawabnya, dia memang tinggal di USA, tapi aku belum pernah melihat lelaki yang lebih Sholeh darinya selama ini.
__ADS_1
"Kenapa Bunda nggak ikut ke acara suster Lidia? Bukannya mereka cukup dekat?" Tanyanya yang masih fokus dengan kakiku.
"Bunda sedang banyak pesanan kue, lumayan, buat nambah pemasukan." Jawabku.
"Pesenan kue? Maksudnya, kalian jualan kue?" Tanyanya heran, ia menghentikan aktifitasnya dan menoleh ke arahku. Mungkin dia berpikir kalau aku jualan kue seperti yang di lihat di tv, hidup anak yatim yang sengsara.
"Bukan jualan, cuma Nerima pesenan aja." Jelasku, ku rebahkan tubuhku, punggungku sudah merasa kaku, dari subuh aku sudah bergelut dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan keperluan mbak Lidia.
"Apa donasi dari donatur panti tidak mencukupi kebutuhan Deb?" Tanyanya kembali memijat kakiku.
"Bukan gitu, Kami tidak mau terus- terusan tergantung pada donatur, apa lagi sama Tante Widia, temen mama kamu itu dok, dia baik... Sekali."
"Kamu mau punya mertua seperti Tante Widia?" Sambungnya tersenyum manis.
"Nggak."
"Kenapa?"
"Maunya mertua seperti mama kamu." Jawabku.
__ADS_1
"Ngomong- ngomong soal Mama, kapan kamu akan pertemukan aku sama Mama kamu?" Setelah apa yang dia lakukan padaku, aku jadi terbiasa dengan kata aku dan kamu. Tapi justru dialah yang susah membuang kata Saya.
"Nanti, nanti kalau sudah waktunya." Jawabnya.
"Sudah, aku sudah lebih baik sekarang" kataku yang melepaskan kakiku darinya.
Aku memang sangat lelah, tapi menurutku dia jauh lebih lelah dariku.
"Debby" panggilnya yang mendekatiku, merebahkan tubuhnya di sisi sebelahku. Memiringkan tubuhnya menghadap ke arahku, menatapku dengan tatapan yang tidak bisa ku artikan.
"Apa? Mau apa?" Kataku saat dia semakin mendekatiku dan memangkas jarak diantara kita berdua.
"Mau kamu lah Debb." Jawabnya seraya tersenyum membelaiku, bahkan saat ini aku tidak bisa membedakan apakah dia sedang menciptakan romantisme diantara kita atau mengerjai ku seperti biasanya. Aku tak mau meladeninya lebih dalam, kalau dia hanya bercanda, lagi- lagi aku sendiri yang akan malu.
"Katanya nggak mau menyia- nyiakan waktu, terus tunggu apa lagi?" Sambungnya yang membuatku semakin bergidik ngeri yang melihat prilakunya.
π₯π₯π₯
Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataππ»π
__ADS_1
Oh ya kak mau promo karya yang berjudul Terpaksa Terpaksa Menikahi Bos Mafia gak kalah seruh juga loh kak ceritanya..