
Aku Bukan Rahim Cadangan
Part 43
"Ya, wanita yang dengan beraninya anda menggandengnya di depan umum. Itu adalah istri saya!"
"Istri?" Dari perkataannya aku tau dia lah mantan suami Debby, tapi yang menjadi pertanyaan bagiku. Kenapa dia menyebut bahwa dia adalah suami Debby, bukankah mereka sudah berpisah?
"Kalau memang Debby istri anda, harusnya Anda tidak membiarkan saya menggandeng Debby untuk masuk ke gedung ini. Harusnya Anda lah yang membawa Debby bersama anda, bukan malah membiarkan Debby menanggung malu, sendirian tanpa pasangan." Sindirku
"Jangan kurang ajar anda!" Bentaknya padaku sambil mencengkeram blazzer ku dan membuat orang orang di sekeliling kami menoleh ke arah kami, beruntung suara musik lebih mendominasi, sehingga mereka hanya menoleh sekilas.
"Maaf, saya lagi nggak ada nafsu berantem, kalau anda ingin berduel bukan di sini tempatnya, saya rasa dari penampilan anda, anda cukup berpendidikan. Orang berpendidikan tidak akan merendahkan harga dirinya sendiri. Apalagi harus merusak acara orang lain!" Kataku yang melepas tangannya dariku perlahan, lalu pergi.
Pov Debby
Setelah aku dan yang lainnya berfoto dan dokter Teddy tak kunjung datang, ku putuskan untuk mengambil minuman, karena tenggorokanku sudah terasa haus, sekalian mencari Vannia.
"Mbak, aku kesana sebentar." Pamitku pada mbak Lidia.
"Mau kemana? Udah disini aja!" Katanya yang memegang tanganku.
"Sebentar aja, mau ambil minum, haus."
"Bukannya tadi dokter Teddy udah ambilin?"
"Mana? Nggak balik - balik." Jawabku
"Ya udah lah, buruan balik ya!"
Kupasang mata ku baik- baik, ku cari dari sudut ke sudut sosok Vannia, hingga aku sampai di tempat hidangan. Disana ada berbagai macam minuman dari jus hingga soda. Ku ambil jus jeruk yang menjadi favoritku. Saat ku ambil jus dan menoleh ke sebelahku, pucuk dicinta ulam pun tiba. Vannia berdiri tepat di sebelahku sedang mengambil minuman juga. Sungguh hatiku berbunga, ternyata Vannia jauh lebih cantik aslinya dibandingkan di foto.
"Mbak Vannia." Ku kumpulkan seluruh keberanianku dan menyapanya dengan senyum semanis mungkin.
__ADS_1
"Iya" dia pun menoleh.
"Mbak, Saya ngefans... Banget sama mbak, boleh minta foto dan tanda tangan?" Kataku sopan dan tersenyum ramah. Dia melihatku dari ujung kaki sampai ujung kepala, memicingkan alisnya.
"Bukannya kamu adalah kekasih Teddy?"
"Jadi? Mbak beneran kenal sama dokter Teddy?" Tanyaku, dia mengangguk samar. Ide cerdas mulai datang padaku.
"Saya teman dekatnya." Jawabku. Aku hanya bisa menjawab demikian, itu pun rasa bersalahku begitu besar. Batinku hanya bisa berkata "maafkan aku dokter Teddy, demi tandatangan." Aku berpikir dalam semua hal akan lebih mudah mendapatkan sesuatu jika ada orang dalam, begitu juga denganku, aku pasti akan lebih mudah mendapat tanda tangan kalau aku dekat dengan dokter Teddy yang ia kenal.
"Kamu mau tanda tangan dan foto?" Tanyanya kembali, ku anggukkan kepalaku cepat.
"Saya akan kasih dengan mudah, tapi ada syaratnya." Katanya menyilang kan tangannya di dada terlihat begitu elegan.
"Beneran mbak? Tapi, apa syaratnya mbak?" Tanyaku. Ia berbalik mengambil dua buah gelas minuman.
"Minum ini." Katanya memberikan satu gelas minuman warna coklat padaku dan satunya lagi ia pegang.
"Semacam minuman cola, Aku ingin kita minum ini sama- sama, setelah itu kita foto bersama, gimana?" Katanya.
"Cuma minum ini doang?"
"Ada satu lagi sih sebenarnya. Aku cuma mau kasih tau kalau lebih baik jangan berhubungan dengan Teddy!"
"Kenapa?" Tanyaku, aku masih bingung dengan perkataan Vannia karena setahuku dokter Teddy adalah orang yang baik walaupun kadang suka menyebalkan.
"Ya gitu lah, aku akan cerita lagi setelah ini, sekarang mending kita minum dulu." Katanya mengangkat gelas, pertanda bersulang. Akupun menautkan gelasku dengan gelasnya.
"Debby! Apa yang kamu lakukan!" Dokter Teddy mengambil gelasku saat gelas sudah menempel di bibirku.
"Dokter? Kenapa kesini?"
"Saya yang harusnya tanya sama kamu, kenapa minum alkohol?" Tanyanya marah sembari meletakkan minumanku kasar hingga menimbulkan goncangan dan membuat isi gelas itu sedikit tumpah.
__ADS_1
"Alkohol? Itu cuma Cola dok, iya kan mbak Vannia?" Jelasku, mbak Vannia hanya diam.
"Vannia! Urusan kamu sama saya, jangan bawa- bawa Debby atau mencoba merusak Debby! Karena kalau sampai itu terjadi, saya sendiri yang akan membalasnya!" Ancam dokter Teddy pada Vannia dan membawaku pergi dari hadapan Vannia dengan kasar. Mendengar ancaman dokter Teddy, Vannia terlihat sangat takut. Aku tau sekarang dia sangat marah, genggamannya tak selembut saat membawaku masuk ke dalam gedung tadi. Ia membawaku ke sudut ruangan yang lebih sepi dan melepaskan tanganku.
"Debby! bisa nggak, nggak usah cari masalah? Saya bilang saya ambil minum. Kenapa malah ambil sendiri dan bertemu lagi dengan Vannia?" Tanyanya dengan wajah merah dan penuh amarah.
"Dokter lama, saya sudah haus. Dan Vannia itu idola saya dok, harusnya saya yang tanya kenapa dokter selalu menggagalkan saya untuk mendapat tanda tangan darinya?" Tanya ku balik, aku tak terima dengan apa yang dokter Teddy lakukan, menurutku dia terlalu membenci Vannia.
"Debby... Debby hampir saja kamu minum minuman haram, tapi kamu masih tanya kenapa? Saya menggagalkan kamu untuk melakukan dosa. Itu yang lebih tepat Debby!" Katanya, memalingkan wajahnya dariku.
"Itu bukan alkohol, mbak Vannia bilang itu Cola." Jawabku mencoba melawan dan menjelaskan.
"Astaga... Debby, masih saja kamu ngeyel." Katanya mengusap wajah nya kasar, sepertinya dia sudah benar- benar jengkel padaku.
"Saya bilang ya sama kamu. Vannia bukan orang baik. Jauhi dia!"
"Dia idola saya, gimana mau menjauhinya?"
"Jangan bantah Debby! Besok saya sudah nggak ada disini. Kalau kamu tidak mengingat perintah saya, saya nggak segan- segan nyuruh dokter Firman meme..."
"Iya... Iya ...iya!" Selaku sebelum dia melanjutkan kata- katanya yang membuat kupingku panas, aku tau dia pasti akan bilang bahwa dia akan menyuruh dokter Firman untuk memecatku.
"Bagus, tadi kamu bilang apa aja sama Vannia?"
"Emmm... Maaf... rahasia." Jawabku, aku tak mau menyulut amarahnya lagi gara- gara aku bilang sebagai teman dekatnya.
"Debby." Sentak ya.
"Ya ya... Sebelumnya mohon maaf. Saya... bilang temen Deket dokter demi mendapat tanda tangannya. Tapi, percuma gagal juga." Kataku.
π₯π₯π₯
Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataππ»π
__ADS_1