
Aku Bukan Rahim Cadangan
Part 118
"Kamu marah kan Deb?" Tanyanya lagi, ku gelengkan kepalaku.
"Debby, apa kamu mau aku tinggal?"
"SAYA" ucapku mengingatkan, aku tak mau kalau tiba- tiba perawat datang dan mendengarnya.
"Hemmm, Mau saya tinggal di Jakarta? Apa nggak mau ikut saya ke USA? Disana hidup kita akan lebih tenang." Katanya, aku bergeming, akhirnya apa yang ku pikirkan selama ini benar- benar dia utarakan.
"Saya..."
"Nggak usah di jawab Deb, saya sudah tau jawabannya." Selanya.
__ADS_1
"Lalu apa sekarang masih harus merahasiakan pernikahan kita?" Tanyanya.
"Bagaimana Saya harus mengumumkan jika pasangan saya saja tidak ada, bahkan pergi setelah ijab kabul? Bukankah itu sama saja memalukan diri sendiri?Mereka akan terus menertawakan saya. dan mempertanyakan pernikahan kita. Ujung- ujungnya mereka kasihan dan iba terhadap saya. Saya capek dikasihani oleh orang-orang dok." Jelasku dengan nada lebih tinggi, setelah kegagalanku di pernikahan sebelumnya ditambah menjadi istri kedua, rekan- rekanku selalu memandangku dengan iba, bagaimana jika mereka harus mendengar pernikahan kedua ku yang lebih tidak wajar ini? Menikah untuk ditinggalkan, lebih- lebih jarak kami tidak hanya sebatas Jakarta- Bandung.
"Astaghfirullah, " katanya seraya mengusap wajahnya.
"Kamu beneran marah Deb? Maaf, saya janji secepatnya akan kembali Deb."
"Dan Maaf juga, sebelum dokter kembali. Tidak akan ada yang tau pernikahan ini." Putusku.
"Doni?" Tanyanya dengan ragu-ragu, aku tau dia sedang khawatir terhadap hubunganku dengan Mas Doni, apalagi setelah Mas Doni akhir- akhir ini menemuiku.
Setelahnya kami hanya bisa diam, aku berbaring menatap langit- langit rumah sakit sambil sesekali melirik ke arah dokter Teddy yang sedang duduk di sebelahku dan menatapku dengan tatapan yang tak bisa aku artikan dan sesekali menghela napas lelah, sepertinya dia sedang memikirkan sesuatu.
"Debby, Saya..."
__ADS_1
"Iya saya tau, dokter bisa pergi." Kataku yang tau waktu sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh.
"Jangan marah Deb, saya nggak bisa pergi kalau kamu masih marah kepada saya."
"Kenapa menikahi saya kalau hanya untuk meninggalkan saya?" Aku tak tau darimana datangnya pertanyaan itu, sedangkan kami sudah sepakat sebelumnya. Ku palingkan wajahku saat mataku mulai mengembun.
"Debby, sayang... ada pasien yang harus segera di operasi, pasien saya, dia menunggu saya diUSA. Keadaannya tidak bisa lagi kalau harus menunggu lebih lama" Tuturnya dengan lembut seraya membelai wajahku dan menyingkirkan sedikit rambut yang menutupi wajahku, ku hapus air mata yang sempat jatuh tanpa aku sadari.
"Pasien? Laki- laki apa perempuan?" Tanyaku membalikkan badan lalu mencoba untuk duduk.
"Anak kecil, seumuran dengan Aldo" jawabnya, lagi- lagi aku harus merasa bersalah karena telah berburuk sangka padanya.
"Aldo? Kasihan sekali." Gumamku.
"Pergilah, Anak itu lebih membutuhkanmu." Kataku, aku benar- benar merasa tidak punya hati, aku sadar bahwa dokter Teddy bukan sepenuhnya milikku, dia juga punya pasien yang harus dipikirkan. Aku tidak bisa bersikap egois juga kan? dan Dia juga memiliki tanggung jawab pada pasiennya, tidak bisa seenaknya meninggalkan pasien hanya karena mementingkan aku.
__ADS_1
π₯π₯π₯
Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataππ»π