Aku Bukan Rahim Cadangan

Aku Bukan Rahim Cadangan
Nasehat Bunda


__ADS_3

Aku Buakn Rahim Cdangan


Part 77


"Debby, kamu kenapa nak? Kenapa nangis?" Tanya Bubda, saat ini Bunda sudah duduk di sampingku. Mau disembunyikan seperti apa, Bunda sudah hafal betul dengan apa yang ada pada diriku, termasuk saat aku sedang bahagia atau sedang bersedih, aku sedang tersenyum atau menangis, Bunda memang yang terbaik untuk ku.


"Hiks... Hiks... Hiks ... Debby baru bertemu dokter Teddy bun."


"O ya? Terus kenapa nangis gitu? Bukannya harusnya kamu senang?" Tanya bunda lagi.


"Dia tidak mau melihatku Bun, dia tidak mengenalku lagi. Dia bahkan tidak mau membalas saat aku menemui dan menyapanya tadi." Kataku, Aku menghambur ke pelukan Bunda masih dengan tangisanku yang sesengukan. Bunda mengusap punggungku dengan lembut.


"Sttt... Sudah sudah Ndak usah nangis-nangis gitu ndok, sudah besar kok gitu aja nangis." kata Bunda yang menenangkanku.

__ADS_1


"Debby malu bun, Debb Malu..., Mereka menghina Debby" Jawabku di tengah isakanku.


"Penantian Debby sudah selesai Bun, Debby sudah tau jawaban yang Debby tunggu selama ini." Ucapku melepaskan pelukan ku dari Bunda.


"O... Jadi selama ini yang kamu tunggu itu dokter Teddy to? Yang sering kamu tangisi diam- diam kalau malam?" Tanya Bunda setengah menggodaku, aku tau dia sedang menghiburku.


"Siapa juga yang nangis?" Gerutuku.


"Terserah Bunda, Debby mau tidur. Debby capek." Jawabku.


"Sini ndok..." Seru Bunda menepuk pangkuannya. Ku letakkan kepalaku yang penuh beban ini di pangkuan Bunda. Bunda mulai membelaiku, itulah yang selalu Bunda lakukan saat aku dalam masalah.


"Debby..., Kita boleh saja sakit atas hinaan orang lain. Tapi, jangan sampai rasa sakit itu membuat kamu menjadi lupa, bahwa kita manusia diciptakan berbeda tapi yang menjadi perbedaan di depan Allah hanya kadar keimanan kita saja. Jadilah semakin kuat dengan hinaan- hinaan itu. Lalu masalah jodoh, yang penting kan sudah berusaha to?" Kata Bunda, nasehat dan petuah selalu ia berikan padaku sejak aku masih kecil. Bahkan saat aku malu karena mendapat nilai kurang bagus di sekolah, bunda pasti akan menyuruhku tidur di pangkuannya lalu membelaiku dan memberi pengertian padaku, hingga aku tertidur.

__ADS_1


🌸🌸🌸


POV teddy


Aku tak menyangka bahwa Debby akan menemuiku pada acara seminar. Melihatnya pertama kali setelah berpisah setahun lamanya rasanya seperti saat pertama kali aku bertemu di bandara kala itu. Ku lihat dia lebih dewasa sekarang, wajahnya tetap cantik tak berubah, walau hanya memakai baju santai pesonanya tetap terpancar. Ku lihat ia menghampiriku, bayanganku atas sakit hatiku satu tahun yang lalu tiba- tiba muncul saat aku melihat Debby mendekatiku. Sakit hati dimana dia memilih bersama laki- laki itu saat aku berada dalam masalah. Itu yang ku ingat. Ku putuskan untuk tak lagi mengenalnya dan bersikap seolah tak mengenalnya. Berat memang apa lagi melihat wajahnya yang tadinya tersenyum berubah muram saat aku mengacuhkannya.


Acara seminar untuk hari pertama ini akhirnya selesai pukul 16.00 WIB. Aku kembali ke hotel yang sudah di sediakan oleh penyelenggara seminar, menggunakan mobil yang sudah disediakan pula oleh penyelenggara acara.


Aku turun dari mobil setelah sampai di depan loby hotel. "Sampai besok Pak!" Kata sopir yang mengantarku.


πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€


Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataπŸ™πŸ»πŸ˜Š

__ADS_1


__ADS_2