Aku Bukan Rahim Cadangan

Aku Bukan Rahim Cadangan
Menyelidiki


__ADS_3

Aku Bukan Rahim Cadangan


Part 107


"Huuuu... Akhirnya..." Alex membuang napas panjang setelah kepergian Dokter Teddy. Setelah melihat ekspresi dari ketiga temanku itu, akhirnya aku tahu bahwa bukan aku saja yang gelagapan saat harus berhadapan dengan dokter Teddy, berarti sejauh ini aku masih normal aku kira aku saja yang memiliki masalah itu.


"Dokter Teddy udah kayak Bapak- bapak nengokin istri sama mertuanya aja, bawa makanan segini banyak, protein tinggi semua ni." Kata mbak Lidia memeriksa makanan yang dibawa oleh dokter Teddy dan menaruhnya di nakas sebelahku.


"Hush... Mbak ngomongnya jangan gitu"


"Kenapa Deb? Kalau kejadian beneran kan kamu juga yang seneng, udah gantengnya maksimal, pinter, baik fix no debat deh pokoknya." Kata Sinta yang menimpal.


"Emang kamu mau kalau Debby beneran sama dokter Teddy? Terus dibawa terbang ke USA, nggak balik- balik? Nggak ketemu Debby lagi kita?" Sabung Alex.

__ADS_1


"Duh kenapa malah bahas hal yang mengandung halu?" Kataku yang sudah pusing dengan obrolan mereka.


POV Teddy


Setelah seminar selesai, Aku dan Dokter Firman memutuskan untuk pergi ke Rumah sakit jiwa yang sudah kami bahas sebelumnya. Aku merasa tidak tenang jika harus meninggalkan Debby ke USA sedangkan ada yang menginginkannya celaka. Kami menemui kepala Rumah sakit, Mereka meminta maaf atas kelalaian pihak rumah sakit hingga mengakibatkan adanya korban jiwa. Kami sempat bersih tegang karena pihak rumah sakit tidak mau menunjukkan rekaman CCTV sebelum kejadian penusukan itu terjadi. Namun, setelah aku memutuskan akan membawa kasus ini ke jalur hukum mereka akhirnya memberi ijin untuk kami melihat rekaman CCTV tersebut.


Awalnya tak ada yang mencurigakan dari rekaman CCTV itu, namun kecurigaan kami muncul saat terlihat ada seseorang yang mengunjungi pasien tersebut di akhir- akhir rekaman dan setelah itu CCTV mati, Dari sini pihak rumah sakit jiwa pun ikut curiga dan berjanji akan ikut mengusut kasus ini.


Ku buka pintu, dan ku lihat teman- teman Debby serta Bunda ada disana. Aku segera memeriksa keadaan Debby setelah seharian tidak mengunjunginya, ya walaupun aku sudah mengutus dokter Ferdi tapi rasanya kurang tenang kalau tidak memeriksanya sendiri.


Setelah aku selesai memeriksa keadaan Debby, Bunda meminta dan mengajakku untuk bicara di luar.


"Mau kemana Bun?" Tanyaku saat ku sadari Bunda tak hanya berjalan ke arah kursi tunggu yang ada di luar kamar Debby. Melainkan menuju sebuah tempat dan sepertinya arah yang dituju Bunda adalah ruangan Kakekku.

__ADS_1


"Bunda? Bunda mau kemana? Ini ruang Direktur." Kataku mengingatkan setelah kami berada tepat di depan pintu ruangan direktur.


"Bunda memang mau kesini." Jawab Bunda lalu mengetuk pintu ruangan kakek.


"T_tapi Bunda." Cegah ku yang tak bisa lagi ku teruskan karena Bunda sudah mengetuk pintu itu sebelum perkataan ku selesai.


Tok... Tok... Tok... "Bunda membuka pintu setelah sayup- sayup terdengar kakek menyerukan untuk masuk.


"Assalamualaikum..." Sapa Bunda, Aku hanya bisa mengikuti langkah Bunda untuk masuk ke ruangan itu.


πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€


Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataπŸ™πŸ»πŸ˜Š

__ADS_1


__ADS_2