Aku Bukan Rahim Cadangan

Aku Bukan Rahim Cadangan
Sekongkol


__ADS_3

Aku bukan rahim cadangan


Part 176


Ku tutup pintu kamarku, ku baringkan tubuhku di ranjang, aku butuh mengistirahatkan diri sejenak, hari ini cukup melelahkan untuk fisik maupun mentalku. Ku pejamkan mata, setidaknya masih ada waktu sebelum aku bekerja.


"Allahuakbar.... Allahuakbar..."


Suara adzan Maghrib membangunkan ku, ku buka mata dan segera ku ambil wudhu, dia atas sajadah ku tuangkan semua keluh kesah ku, hingga suara ketukan pintu menyapaku memaksaku menyudahi doaku. Aku tau bunda yang mengetuk pintu. "Masuk Bun" Kataku,


Pintu pun dibuka perlahan, Bunda masuk dan menghampiriku yang masih sibuk melipat mukena dan sajadah.


"Bunda mau bicara Deb, bisa?"


"Bisa." Ku letakkan sajadah di kursi kayu yang ada di depan cermin. Ku ajak Bunda duduk di bibir ranjang. Melihat wajah Bunda yang begitu serius membuat perasaanku diliputi rasa khawatir.


"Bunda mau bicara apa?" Tanyaku lembut.


Namun pintu kembali di ketuk sebelum Bunda menjawabnya.

__ADS_1


"Masuk" Seru Bunda, sekarang giliran mbok Mar yang masuk dan berjalan kearah kami.


"Ini Bunda, pesanannya." Kata mbok Mar memberikan sebuah kantong plastik yang berisi sesuatu, tapi aku tak tau pasti apa isinya.


"Makasih Mbok, mbok bisa kembali. Dan mbok, buatkan teh untuk tamu saya." Perintah bunda pada mbok mar.


"Njeh bun." Jawab Mbok mar.


"Ada tamu ya bun? Siapa? Kenapa nggak di temui dulu?" Kataku pada Bunda.


"Tamu nya bisa menunggu, dan sudah biasa menunggu Debby." Jawabnya, pikiranku mulai menerka, siapa tamu itu, apa mungkin itu suamiku?


"Debby... Jangan biasakan lari kalau ada masalah, setiap rumah tangga pasti akan menemui suatu masalah, tapi bukan berarti harus meninggalkan rumah, kamu tau betul wanita harus minta ijin pada suaminya kemanapun dia pergi."


Deg...


Darimana Bunda tau kalau aku sedang dalam masalah, padahalkan aku sudah menyimpannya dengan rapat- rapat. Aku pun semakin yakin bahwa yang dimaksud dengan tamu itu adalah Mas Aska.


"Mau kemana Debby?" Tanya bunda yang mencekal tanganku saat aku beranjak dari tempat dudukku.

__ADS_1


"Mau menemuinya, dia ada di luar kan bunda? Mas Aska? Maksudku mas Teddy?"


"bunda tidak mengijinkan kamu untuk pergi, duduklah!" Perintah bunda dengan nada yang lebih tinggi, seppertinya bunda mulai tersulut emosi, yang pasti emosi kepadaku karena tak mungkin emosi pada suamiku, karena aku yakin bunda juga mengetahui kebohongan ini. bunda Bahkan pernah mengatakan sudah bertemu dengan orang tuanya, hanya saja mereka bersama- sama menutupinya seolah sudah bersekongkol untuk mempermainkan perasaanku.


Ku hela nafas pasrah lalu melangkah kembali duduk si samping bunda.


"Makanlah Debby, bunda sudah membelikan buah ini untukmu. Rasanya sangat manis sekali." Kata bunda mengupas jeruk dari kantong plastik pemberian mbok mar.


"Jeruk?"


"Makanlah," Ucapnya menyuapi ku, ku buka mulutku dan ku nikmati jeruk pemberian bunda, ada sedikit rasa lega karena ternyata bunda kemari tidak untuk menghakimiku.


"Manis?" Tanyanya.


"Sangat manis bunda. bunda kalau beli jeruk selalu nomor satu, kalau masalah memilih buah yang manis." Kataku mengambil buah jeruk yang masih tersisa ditangan bunda.


πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€


Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataπŸ™πŸ»πŸ˜Š

__ADS_1


Oh ya kak mau promo karya yang berjudul Terpaksa Terpaksa menikahi bos mafia gak kalah seruh juga loh kak ceritanya..


__ADS_2