Aku Bukan Rahim Cadangan

Aku Bukan Rahim Cadangan
Seorang Anak Atmajaya


__ADS_3

Aku Bukan Rahim Cadangan


Part 153


Aku bergegas kembali ke kamar dokter Firman yang ku sulap menjadi kamarku sebelum Meraka datang, ku harap dia belum bangun sehingga tak menyadari bahwa semalam aku tidak bersamanya.


Ku buka pintu dan ku lihat dia masih sama pulasnya dengan Debby. Aku segera mandi dan menjalankan sholat subuh disana, tak lupa ku bangunkan dokter Firman, aku khawatir, dengan tidak adanya suara adzan akan membuat dokter Firman kebablasan.


"Dokter, bangun dok! Sholat " ku goncang pelan tubuhnya yang masih tertutup rapat dengan selimut tebal.


Dia menggeliat "Jam berapa?" Gerutunya.


"Bangun, nanti tidur lagi kalau sudah sholat subuh. Saya bangunkan Debby dulu." Pamitku.


Aku kembali menuju kamar Debby.


Ku pegang handle pintu lalu ku buka, dan ku lihat Debby yang sudah berdiri di depan cermin mengeringkan rambut panjangnya. Sepertinya dia sudah selesai membersihkan diri.


"Sudah bangun?"


"Sudah."

__ADS_1


"Sudah sholat?"


"Hemm sudah." Jawabnya


Kuhampiri dia yang berdiri di depan cermin. Ku ambil hairdrayer dari tangannya, "duduk, saya bantui." Ku ambil alih tugasnya dan ku bantu untuk menyisir rambut panjangnya, sedangkan dia mengambil dan memakai bodylotion pada tangannya.


"Dokter Firman belum bangun?" Tanyanya.


"Sudah, masih sholat."


"Terus, kamu ngapain kesini lagi? Dokter Firman bisa curiga nanti."


"Biari saja, aku masih mau membantu istriku." Jawabku. Setelah obrolan dari hati ke hati kami tadi malam, membuatku tau tentang semua kejadian satu tahun yang lalu, membuatku semakin mencintai Dan menyayangi Debby selalu ingin dekat dengannya.


"Katakan, Kamu mau makan apa?"


"Apa saja yang penting halal." Ucapnya lagi, Debby memang kadang terkesan banyak protes dan bicara. Tapi kalau masalah makanan, dia tidak banyak protes, kelemahannya yang tidak pandai dalam memasak itu membuat lidahnya menerima semua jenis makanan, itu yang ku tau.


"Kamu pikir saya disini ikut makan yang nggak halal gitu?" Kataku seraya meletakkan sisir di meja.


"Ya sudah, pergilah. Aku akan membantumu untuk membersihkan rumahmu, termasuk kamarmu ini." Ujarnya yang sudah rapi dengan hijab instannya lalu beranjak dari duduknya dan membersihkan bunga- bunga, termasuk merapikan tempat tidur kami yang berantakan akibat ulah kami semalam.

__ADS_1


"Rumahmu, ini rumahmu juga." Jelasku memegang pundaknya, dia berbalik kearahku lalu tersenyum padaku.


"Aku mencintaimu." Ucapnya lalu memelukku. Aku membalas pelukannya. "Terimakasih Debby, Saya juga sangat mencintaimu. Dan terimakasih sudah memberikannya untukku" Bisikku, dia mencubit perutku "kamu menggodaku lagi Mas." keluhnya. Aku pun tersenyum.


"Pergilah." Katanya setelah melepas pelukannya.


"Pameran akan diadakan pagi ini juga Deb. Kamu siap- siap, hari ini saya akan ikut kalian kesana. Mumpung saya libur." Pesanku sebelum menutup pintu.


"Iya Mas."


Aku pergi ke dapur membuatkan sarapan untuk Dokter Firman dan Debby.


Dokter Firman tampak keluar dari kamarnya. "Teddy, apa kamu selalu melakukannya sendiri?" Tanyanya heran saat menghampiriku di dapur.


"Ya, mana mungkin orang lain yang melakukannya." Jawabku yang masih sibuk dengan kompor listrikku.


"Seorang anak dari Tuan Atmajaya, mainan kompor sama minyak?" Ejeknya.


"Pelankan suara mu Dokter!" Ketusku.


πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€

__ADS_1


Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataπŸ™πŸ»πŸ˜Š


Oh ya kak mau promo karya yang berjudul Terpaksa Terpaksa Menikahi Bos Mafia gak kalah seruh juga loh kak ceritanya..


__ADS_2