
Aku bukan rahim cadangan
Part 186
Dia tampak berpikir,
"Ya, sudah lah kalau itu mau kamu."
"Ya udah aku pulang, berikan kunci apartemen padaku" kataku seraya membuka tanganku meminta kunci darinya. Bukan kunci yang diberikan tapi justru permen rasa kopi.
"Apa maksudnya?" Ku cari jawaban dengan mengamati permen di tanganku.
"Makan permen kopi akan sedikit membantu mata kamu. Hari ini saya banyak kerjaan, kamu istirahat disini aja, takutnya kemalaman kalau harus ke apartemen jemput kamu." Terangnya.
"Istirahat? Disini?" Ulangku melihat arah di sekitarku. dia menganggukkan kepalanya.
"Perhatikan mataku, hitam, aku nggak tidur semalaman gara- gara ada kecelakaan. Aku nggak akan tidur nyenyak kalau disini, belum lagi kalau ada yang masuk kesini, bisa- bisa kena SP gara- gara tidur di ruangan ini." Tolakku.
__ADS_1
Ia tampak berjalan menuju rak buku di sisi sebelah kanan dari ruangan ini.
"Sayang, sini, istirahatnya disini." Ucapnya mengulurkan tangannya, aku berjalan kearahnya dan meraih tangannya. Ia membuka rak itu dengan perlahan, dan ternyata dibaliknya terdapat sebuah ruang kecil yang sudah dilengkapi tempat tidur.
"Kamu bisa istirahat disini, ini ruang istirahat kakek. Tidurlah, Sebentar lagi saya ada meeting. Nanti saya balik kesini sekalian bawakan makanan untukmu. Saya pergi dulu ya." Pamitnya mengecup keningku lalu meninggalkanku diruanganya.
"Berasa jadi tawanan suami sendiri." Gumamku merebahkan tubuhku di atas ranjang kecil tapi sangat empuk dan nyaman itu. Aku tak punya pilihan lain, Mas Aska tidak memberikan kunci apartemen padaku, ke rumah Bunda lebih tidak mungkin, karena aku akan dihakimi lagi gara- gara tidak menuruti kata-kata suami. Saat ini yang bisa ku lakukan hanyalah pasrah, bagiku di dunia ini aku hanya memiliki dua orang yang harus ku patuhi perintahnya yaitu suamiku dan Bunda.
Ku pejamkan mataku, masalah bagaimana aku keluar dari tempat ini tanpa ada yang tau, itu akan aku pikirkan nanti.
Aku menggeliat saat ku rasakan tepukan halus di pundakku. "Bangun... Makan dulu." Bisiknya di telingaku.
"Kamu kenapa?"
"Nggak papa."
"Ini jam berapa?"
__ADS_1
"Maghrib, jam kerja udah habis." Jawabnya dengan santai,
"Apa? Bahkan aku belum sholat apa lagi makan."
"Ya kamu susah dibangunin, kamu kalau tidur kan kayak..."
"K*bo" sambungku.
"Kamu yang ngomong bukan saya loh. Makanlah. Udah dingin, dari siang saya belinya. Apa mau beli yang baru, dari pagi belum makan nanti kalau mag gimana?"
Deg...
Aku duduk terperanjat mendengar kata Mag, seketika ingatanku tertuju pada Mas Doni, bukankah aku memiliki janji untuk berkunjung setelah pekerjaanku selesai.
"Kenapa?" Tanya Mas Aska mengikutiku duduk di sebelahku.
π₯π₯π₯
__ADS_1
Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataππ»π
Oh ya kak mau promo karya yang berjudul Terpaksa Terpaksa menikahi bos mafia gak kalah seruh juga loh kak ceritanya..