
Part 62
"Stttt... Jangan nangis. Saya nggak b*d*h Deb. Sebelum saya memutuskan untuk membantu Adijaya Hospital, saya sudah mempertimbangkan semuanya." Jelasnya.
"Mereka hanya menjalankan tugas, kamu paham kan? Dan kamu bukan orang awam?" Sambung dokter Teddy. Apa yang dikatakan dokter Teddy memang benar, SIP sangatlah penting bagi kami. Tapi rasa tak terima dokter Teddy diperlakukan seperti itu di depan umum juga penting.
"Kalau gitu saya ikut ke kantor polisi sama dokter." Pintaku terisak.
"Debby jangan seperti ini, percaya sama saya. Saya sudah mempertimbangkan semuanya sebelum saya kesini." Katanya meyakinkanku dengan memegang pundak ku.
"Sekarang kamu cari dokter Firman. Bilang sama dokter Firman mengenai hal ini. Oke. Udah nggak usah nangis, masalah nggak akan selesai hanya dengan tangisan Deb." Jelasnya sembari menghapus air mataku, ku anggukkan kepalaku pelan.
"Jaga diri kamu." Pesannya padaku.
__ADS_1
"Ayo pak, kita pergi." Dan akhirnya mereka benar- benar membawa dokter Teddy pergi. Aku hanya bisa menatap nanar dokter Teddy yang semakin lama semakin menghilang masuk ke dalam mobil. Dan mobil itu pun semakin menjauh dari bandara.
Setelah kepergian mereka, Aku segera mencari gawaiku yang ku simpan di dalam tas. Aku mencoba menghubungi dokter Firman beberapa kali, namun tidak ada jawaban. Pada jam- jam seperti ini, biasanya memang aktivitas sudah mulai. Mungkin dokter Firman sedang menangani pasien. Jadi, tidak bisa mengangkat telepon. Terpaksa, aku harus ke rumah sakit menemui nya langsung karena Aku harus secepatnya melakukan apa yang dokter Teddy perintahkan.
Tak mau membuang waktu, aku segera memesan Ojek Online. Dengan sepeda motor, aku akan sampai di rumah sakit lebih cepat dari pada menggunakan taksi. Hanya berselang beberapa menit, ojek yang ku pesan pun datang. Aku segera menghampiri dan memastikan sesuai aplikasi ku.Tak lupa ku bawa serta koper dokter Teddy, Koper dokter Teddy ukurannya memang tidak terlalu besar, jadi aku bisa dengan mudah membawanya walau hanya dengan menggunakan ojek.
"Lebih cepat Pak!" Perintahku seraya memakai helm yang dia berikan.
"Adijaya Center Neng?" Tanya sopir yang sudah berumur itu.
"Siap, pegangan neng." Serunya, aku pun segera berpegangan pada behel belakang motor, nggak mungkin lah pegangan sama perut bapaknya atau pundak bapaknya.
Hanya butuh waktu kurang dari setengah jam, kami sudah sampai di depan rumah sakit, aku turun dan segera ku bayar sesuai aplikasi. Setelahnya aku berlari menuju loby.
__ADS_1
"Mbak... Mbak helmnya! Kopernya juga ketinggalan ni mbak..." Teriak tukang ojek itu padaku. "Ya Tuhan" gerutuku kembali ke depan mengembalikan helm. Saking paniknya aku sampai lupa melepas helm dan meninggalkan koper dokter Teddy yang diletakkan di depan kemudi.
"Nih pak, makasih ya, maaf." Kataku lalu ku ambil koper itu.
Aku kembali berlari menuju loby.
"Pak Nitip koper, itu punya dokter Teddy, tolong simpen dulu." Kataku pada security yang berjaga di loby.
"Iya mbak Debby." Jawabnya.
Setelah menitipkan koper yang pasti akan membuatku bertambah ribet, aku langsung menuju ke ruangan dokter Firman. Tak jarang temanku menyapa dan memanggilku , namun tak ku hiraukan, yang ada di pikiranku saat ini hanyalah segera menemui dokter Firman dan mengeluarkan dokter Teddy dari kantor polisi.
Ku lihat pasien dokter Firman sudah banyak menunggu, aku segera mengetuk pintu. Karena tak mungkin menunggu sampai pasien habis.
__ADS_1
π₯π₯π₯
Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataππ»π