
Aku Bukan Rahim Cadangan
Part 114
Penjelasan Bunda membuatku bagai berada dalam lingkaran teka- teki antara dokter Teddy dan Bunda. Berapa lagi rahasia yang mereka sembunyikan dariku? Ku hela napas panjang. "Bunda bertindak di belakangku lagi?" Tanyaku dengan kecewa.
"Sudah lah Debby, yang pasti dokter Teddy orang baik, termasuk kedua orang tuanya juga sangat baik."
"Kenapa kedua orang tua dokter Teddy tidak menemuiku?" Tanyaku lagi.
"Emmmm... Kalau masalah itu kamu tanyakan sendiri pada dokter Teddy ya. Mungkin orang tuanya itu sedang banyak urusan, kemarin sempat kesini nengok kamu kok Deb, tapi kamu belum sadar." Jelas Bunda yang semakin membuatku terkejut.
"O ya Bun?"
"Iya, bahkan Pak Atma, eh maksud Bunda Papanya Nak Teddy lah yang mencarikan darah untuk kamu waktu kamu kehabisan banyak darah. Mana golongan darah kamu waktu itu kosong tergolong langka."
"Hah?"
__ADS_1
"Iya Deb, jadi jangan jadikan kedua orang tua nak Teddy sebagai alasan untuk menolaknya. kamu paham Debby?" Kata Bunda, aku Mengangguk samar.
"Maaf pak, apa saya bisa pulang dulu sebelumnya? Saya ada urusan penting, dan besok saya sudah harus kembali ke USA." Kataku, aku mencoba menolak ajakan Pak Junai tanpa menyakiti atau menyinggung perasaannya.
"Oh gitu ya dok, sayang sekali padahal kami sangat berharap dokter bisa bergabung diacara penutupan seminar. ya sudah dok, kalau gitu foto- foto sebentar saja bisa dok?"
"Foto? Ya, boleh, tapi sebentar saja ya Pak."
"Iya dok,"
Aku segera mengikuti Pak Unai untuk berfoto bersama semua panitia, penyelenggara dan beberapa peserta seminar yang masih ada tinggal disana.
"Bukannya dulu sudah berfoto ya?" Tanyaku, yang lebih ingin menolak mereka.
"Itu kan kita pake seragam, kalau sekarang kita mau gaya bebas dok." Jawabnya, ku hembuskan napas panjang, karena tak mungkin bersikap tidak sopan pada mereka di depan banyak orang.
"Boleh, asalkan jangan sembarangan Mengunggah! Kalian tau kan dampaknya bagi hubungan saya dan tunangan saya?" Putusku,
__ADS_1
"Siap dokter."
Kami pun mengambil beberapa foto, setelah itu aku segera pamit ku rasa sudah cukup banyak mereka mengambil gambar bersamaku.
Waktu sudah semakin larut, aku harus segera menemui Debby, aku sangat ingin menemuinya, melihat wajah cantik tanpa polesan itu, wajah yang selalu membuat ku ingin segera menghalalkannya setiap aku melihatnya.
Di dalam taksi aku hanya bisa tersenyum membayangkan apa yang akan terjadi saat aku bertemu dengan Debby namun dengan status yang berbeda, yaitu sebagai calon suaminya.
Setelah hampir setengah jam, akhirnya aku sampai di rumah sakit, Aku segera menuju ke ruangan Debby. Setelah aku sampai di depan pintu ruang rawat Debby, tampak dua orang bertubuh besar dan kekar menghadang ku.
"Maaf, Dokter tidak bisa masuk kedalam!" Katanya meletakkan tangannya di dadaku saat aku hendak membuka pintu.
"Jangan mengada- Ngada, ini ruangan Debby, calon istri saya! Kenapa kalian ada di sini?"
"Kami tau ini ruangan Mbak Debby." Jawabnya, bagaimana bisa kedua orang ini tau nama Debby, dan memanggil Debby dengan sebutan Mbak? Kecurigaan ku tertuju pada satu orang yaitu Doni. Apa mungkin orang- orang ini adalah suruhan Doni?
π₯π₯π₯
__ADS_1
Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataππ»π