
Aku Bukan Rahim Cadangan
Part 48
"Salep ini bagus untuk cidera kaki. Harusnya setelah jatuh langsung dikasih ini. Tapi nggak papa juga, yang penting di kasih." Katanya sambil mengoleskan salep itu di kakiku, aku tak tau pasti salep apa yang diberikan padaku, yang pasti kakiku terasa dingin saat salep itu menyentuh kulitku. Aku yakin itu bukan produk dalam negeri, karena aku tak pernah melihat salep seperti itu sebelumnya.
"Sudah, saya mau siap- siap."
"Mau packing dok?"
"Iya. Kamu istirahat aja, udah malem!" Kata dokter Teddy mengambil semua baju dan koper yang ada di dalam lemari sebelahku, kemudian pergi keluar. Ada rasa aneh menyelimuti hatiku saat dokter Teddy mengatakan akan siap- siap yang artinya dia memang akan benar- benar pergi. Tapi aku segera menepis segala pikiranku. Tiba- tiba aku teringat kata dokter Teddy tentang pembayaran hutangku yang akan dia sampaikan kalau sudah di apartemen. Tak mau buang waktu, Aku segera pergi menemuinya. Sepertinya salep pemberian dokter Teddy memang sangat mujarap, terbukti walau belum sepenuhnya hilang namun sudah banyak berkurang rasa sakit di kakiku.
Kubuka pintu kamarku, tak kutemukan dokter Teddy yang biasa menghabiskan waktunya di sofa tamu. Kucari dia ke dapur juga tak ada. Hingga ku dengar suara dokter Teddy dari arah balkon berbincang di telepon dan seperti sedang bersih tegang dengan seseorang. Semakin ku dekati semakin jelas.
"Aku dan Debby nggak ada hubungan apa- apa. Aku cuma kasihan aja dia yatim piatu, aku hanya iba padanya." Jelasnya pada seseorang yang ada di seberang telepon.
__ADS_1
Ku urungkan niatku menemui dokter Teddy, ku langkahkan kakiku mundur perlahan, pyarrrr... tanpa ku sadari tanganku menyenggol sebuah Vas bunga. Sontak dokter Teedy menoleh ke arahku. Segera ku bersihkan pecahan Vas yang sudah mengotori lantai apartemen.
"Debby..." Pekik Dokter Teddy lalu berlari menghampiriku.
"M_aaf dokter, saya nggak sengaja." Kataku menunduk dan masih membersihkan pecahan Vas bunga itu.
"Sejak kapan kamu disini?"
"Baru aja dok, saya cuma mau membahas soal hutang saya sama dokter, tapi sepertinya dokter sibuk. Maaf kalau saya mengganggu." Kataku menahan sesak di dada, mendengar perkataan dokter Teddy di telepon tadi membuatku merasa menjadi orang yang paling menyedihkan. Hidup dari belas kasihan orang lain.
"Nggak papa dok biar saya bersihin, ini juga udah selesai." Kataku beranjak dan pergi ke dapur membuang serpihan yang sudah ku kumpulkan ke tempat sampah, dokter Teddy mengikutiku dari belakang.
"Sekarang dokter bilang, apa yang harus saya lakukan untuk membayar semua hutang saya pada dokter? Tidur gratis, makan gratis, sewa baju, sepatu, Snack, mungkin mungkin satu bulan gajiku saja nggak akan cukup untuk membayar semua itu. " Tanyaku tanpa berani menatap wajahnya.
"Debby, Saya nggak pernah menganggap itu sebagai hutang. Saya tulus."
__ADS_1
"Karena kasihan dan iba sama saya?" Celetukku.
"Debby!" Sentaknya dengan raut wajah yang mulai berubah. Ku tinggalkan dapur dengan menahan sedikit rasa sakit yang masih tersisa di pergelangan kakiku dan dokter Teddy terus mengikutiku.
"Debby, sejak kapan kamu mendengarkan perbincangan saya? Lancang sekali kamu Debby!" Kuhentikan langkahku dan berbalik menatap dokter Teddy.
"Debby..." Lirihnya.
"Deb, saya mohon, jangan nangis dihadapan saya. Saya nggak bisa." Kata dokter Teddy yang terlihat panik saat aku tak bisa lagi membendung airmataku.
"Dokter, Saya mau ke rumah Bunda sekarang!"
π₯π₯π₯
Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataππ»π
__ADS_1