Aku Bukan Rahim Cadangan

Aku Bukan Rahim Cadangan
Mencekam


__ADS_3

Aku bukan Rahim Cadangan


Art 181


"Hemm, iya iya aku tau." Aku mendongak, ku lihat suamiku semakin mendekat ke arahku,


"Tapi Sin, kok aku tiba- tiba mules. Aku ke toilet dulu ya." Pamitku meninggalkan barisanku.


"Debby, tunggu bentar lagi." Cegah Sinta, aku tetap berlalu, perasaanku mulai tak tenang.


"Debby..." Teriak seseorang yang ku kenal betul suaranya.


Aku berbalik menatapnya.


"Surprise..." Katanya membentangkan tangannya di hadapanku. Semua mata pun tertuju padaku, ku lempar senyum keterpaksaan ku.

__ADS_1


"Selamat datang di Atmajaya Hospital Pak Direktur, selamat bergabung dan selamat bekerja." Ku hampiri dan ku jabat tangannya, ku remas sekuat mungkin tangan itu, agar dia tau apa keinginanku. Karena tak mungkin menghambur ke pelukannya saat ini, akan sangat memalukan untukku dan mengejutkan bagi yang lain.


"Argh... Apa? Apa maksudmu?" Rintihnya menahan sakit di tangannya. Sedangkan dokter Firman yang berdiri di belakangnya tampak menahan tawanya.


Ku mainkan mataku, memberi kode pada suamiku. Dia mengangkat salah satu alisnya mencoba memahami kode singkat dariku.


"Eheem..." Ia berdehem dan tampak mengubah sikapnya lebih serius.


"Debby, kamu keruangan saya! semalam saya menerima keluhan atas pelayanan kamu, di UGD." Katanya dengan nada suara tegas.


"Jangan banyak tanya kamu, udah nggak disiplin pakaian, pelayanan pun kurang memuaskan!" Katanya menunjuki penampilanku dari atas sampai bawah yang memang berbeda dengan yang lain, mataku pun mengikuti jari itu menunjuk, betapa malunya aku pada yang lain. Mereka tampak bergunjing menertawai ku. masalahku kemarin membuatku kurang mempersiapkan diri walau hanya sekedar bertanya masalah apa yang harus ku pakai.


"kamu ikut, yang lain bisa kembali." Serunya lagi.


"Baik Pak... Silahkan." Kataku minggir dan memberinya jalan.

__ADS_1


"Debby, kenapa seceroboh ini? Sekarang dia bukan dokter yang kita kenal, dia Direktur, jaga sikapmu di dalam kalau nggak mau dipecat. Kamu jangan bikin malu mbak yang merekomendasikan kamu masuk kesini." Omel mbak Lidia, Mbak Lidia menghampiriku.


"Iya mbak, iya, Maaf." Ucapku memelas, ku ikuti langkah panjang suamiku, dengan berbagai pikiran yang berkecamuk didalam otak.


Ku ketuk pintu yang sebelumnya di tempati oleh Profesor Antonius Atmajaya.


"Masuk" Serunya. Lalu aku pun membuka pintu perlahan. Satu kata, Pasrah, yang bisa ku katakan dalam hatiku saat ini.


"Pagi Bapak," Sapaku di depan pintu. Sepasang mataku mulai mengabsen ruangan yang cukup besar itu, Ku cari sosok dokter Firman namun sepertinya ruangan ini kosong, hanya ada direktur baru yang tak lain adalah suamiku sendiri sedang berdiri bersandar pada meja yang terbuat dari marmer.


"Tutup pintunya!" Serunya yang masih dengan wajah kaku. Ku tutup pintu lalu ku lempar senyum selayaknya bawahan pada atasan.


πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€


Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataπŸ™πŸ»πŸ˜Š

__ADS_1


Oh ya kak mau promo karya yang berjudul Terpaksa Terpaksa menikahi bos mafia gak kalah seruh juga loh kak ceritanya..


__ADS_2