Aku Bukan Rahim Cadangan

Aku Bukan Rahim Cadangan
kecemasan Mbak Lidia


__ADS_3

Aku bukan rahim cadangan


Mbak Lidia dengan wajah menakutkanya sedang Sinta dan Alex menatapku dengan tajam bak sebelah bisau yang tajam siap mencabik-cabik tubuh ku.


Pengunjung sangat ramai hari ini namun suasana namun suasana dimeja kami terasa hening dan sangat mencekam, itulah situasi yang bisa ku gambarkan saat ini. Ku tundukan lepalaku, sesekali aku melirik pada ketiga teman ku yang sepertinya sudah siap menghabisi ku.


"Jadi, serangga betina itu kamu Deb?" tanya mbak Lidia yang memecah keheningan, dengan wajah dingin dan data.


"Serangga?" tanyaku.


"Kamu! Kamu sudah membohongi kami, dan membiarkan kami bertiga seperti orang bodoh. sedangkan kamu menikmati kebodohan kami bertiga." tuduhnya.


"Bukan, bukan gitu maksud ku mbak." mbak ngak tau awal mula cerita kami menyembunyikanya itu semua ada alasanya mbak." jelasku


"Apa! Apa alasanya? Bahkan kamu sudah menikah sebelum mbak menikah, dan kalian itu berada pada satu naungan loh, hebat!" pungkasnya


"Ya aku bermaksud akan memberi tahu kalian semua pas acara resepsi gitu, biar surpres gitu." jawabku


"haaaahaaaa... Debby, kamu menghancurkan semuanya Debby, mbak bisa-bisa dipecat atas perlakuan yang mbak buat tadi, perlakuan yang benar-benar memalukan. Memukuli seorang Direktur, demi kamu!" Tertawa namun menangis itu yang di lakukan mbak Lidia saat ini.


"Hancur...hancur...hancur sudah..." keluhnya yang membenamkan wajah diatas meja.


"Mbak, udahan dong jangan kayak gini, maaf." sambung ku

__ADS_1


"Maaf? Maaf kamu bilang?" tanyanya lagi


"Nanti kita bicara deh sama mas Askanya." bujuk ku lagi


"Aska, Aska. Bicara? Apa kamu kira setelah apa yang aku perbuat tadi, muka ku ini bisa berhadapan lagi denganya?" selahnya


"Maaf, maaf mbak, maaf" mohonku


"Debby ni, keterlaluan. Tapi aku seneng deh, ternyata Debby dan dokter teddy berjodoh, kan Debby sangat tergila-gila sama dokter Teddy, dan akhirnya bisa juga bersatu." Ceplos Sinta


"Sinta!" teriak Alex dan mbak Lidia yang hampir bersamaan.


"Eh, Sinta atas dasar apa kamu bilang aku sangat tergila-gila sama dokter Teddy, dari dulu kamu nih suka ngawur, kalo kamu kayak gitu sama saja kamu menjatuhkan martabatku." protesku


"kamu mau diem ngak, Sin!" tekanku


Drrreeeettt... Ponsel ku tiba?-tiba bergetar, nama dokter Cintaku sudah tertera disana.


"Nah loh, Direktur nelpon."


"Tuh kan, tamat lah sudah riwayat ku" kata mbak Lidia


"Udah-udah tenang, sabar" Ucapku

__ADS_1


"Hallo, mas!"


"Kamu dimana? Aldo sudah sadar nih. Sekarang kalian semua keruangan saya! Saya tunggu 15 menit dari sekarang."


"A.."


"Tut...tut...tut..."


Belum juga menjawab, sambungan telepon sudah di pituskan secara sepihak olehnya


"Ya, di tutup mbak" kata ku


"Mas...mas...mas... Enak sekali kamu bilang gitu, sedangkan nasip ku?"


"Ya udalah kita kesana ajalah." ucapku sembari memasukan kembali ponselku kedalam kantong saku.


"Mau setor nyawa." selah Alex


"Waduh, gimana ini Deb?" tanya Sinta yang tampak ketakutan untuk bertemu mas Aska


πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€


Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataπŸ™πŸ»πŸ˜Š

__ADS_1


Oh ya kak mau promo karya yang berjudul Terpaksa Terpaksa menikahi bos mafia gak kalah seruh juga loh kak ceritanya..


__ADS_2