
Aku bukan rahim Cadangan
Part 168
"Pagi Debby." Sapanya seraya tersenyum padaku.
"Pagi, silahkan Masuk! Bunda ada di dalam." Kataku lalu melewatinya, Namun dia menghentikan langkahku dengan mencekal tanganku.
"Aku nggak cari Bunda, aku cari kamu." Jawabnya.
"Bisa nggak ngomongnya nggak pake pegang- pegang." Kataku menarik tanganku darinya dengan kasar.
"Mau apa lagi, sudah ku bilang, jangan menggangguku." Kataku dengan penuh emosi, bagaimana tidak, setelah mengutus mama dan papanya sekarang dia sendiri yang datang menggangguku.
__ADS_1
"Aku mau bersamamu Deb, saya mohon maafkan saya dan kita mulai lagi dari awal. Kalau kamu mau aku bisa menceraikan Linda."
"Berapa kali aku harus bilang, aku nggak mau, aku nggak bisa, dan bukannya kemarin sudah ku sampaikan, bahwa aku mencintai orang lain, aku menjalin hubungan dengan orang lain. Jangan keras kepala!" Tegasku.
"Mau sampe kapan kamu berbohong kalau sudah punya pasangan? Aku mengikuti kamu satu bulan ini dan nggak ada laki- laki satupun yang menemui mu selain atmajaya, donatur panti kamu." Terangnya, ya, memang Pak Atma sempat kesini tanpa Bu Widia beberapa Minggu lalu, beliau membahas masalah kasus penusukan dan memintaku untuk melupakan kasus itu. Aku sempat bingung, pasalnya aku sama sekali tidak mempermasalahkan kasus itu dan menganggap itu murni kecelakaan.
"Kamu memata- matai aku Mas? Hah?Jelas saja kamu tidak melihatnya, orang itu tidak tinggal di sini, melainkan di USA. Dan sekarang ini aku sedang ingin menjemputnya jadi jangan membuatku terlambat. MINGGIR!" Tegasku
"USA? Apa maksudmu dia adalah...?"
Ku tinggalkan dia dengan sejuta tanya yang terlihat jelas di wajahnya. Aku tak peduli. Yang terpenting saat ini adalah segera sampai di Bandara, Karena aku sudah sangat terlambat.
Sampai di Bandara, aku bergegas turun. "Sudah saya transfer Pak, makasih ya." Kataku pada sopir taksi, begitu terburu nya aku hingga aku lupa membawa dompetku. Beruntung ada aplikasi M-Banking di ponselku.
__ADS_1
Setelah turun, aku pun masuk ke area Bandara, Ku sunggingkan senyumku saat ku lihat lelakiku dengan celana semi warna coklat dan sweater warna senada dengan celana sudah duduk di atas koper besar. Dari wajahnya dia terlihat sangat kesal. "Apa aku setelat itu?" Tanyaku pada diriku sendiri, ku lihat jam di tanganku "setengah jam?"
Ku hela nafas panjang menetralkan suasana hatiku agar bisa menghadapi kemarahannya, dan setelahnya ku hampiri dengan senyum termanis yang pernah ku miliki.
"Sayang... " Sapaku, lalu merangkulnya dari belakang, dia berdiri dan berbalik dengan tatapan mautnya.
Hening,
"Masih lama nunggu satu bulan apa setengah Jam?" Celetukku tiba-tiba, lebih baik marah dulu dari pada harus terkena marah lebih dulu. Itulah trik jitu yang selama ini ku pakai saat menghadapi kemarahan suamiku.
π₯π₯π₯
Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataππ»π
__ADS_1
Oh ya kak mau promo karya yang berjudul Terpaksa Terpaksa menikahi bos mafia gak kalah seruh juga loh kak ceritanya..