Aku Bukan Rahim Cadangan

Aku Bukan Rahim Cadangan
Ingin memiliki momongan


__ADS_3

Aku Bukan Rahim Cadangan


Part 137


"Oh iy__a-iya bisa jeng" jawab nya terbata


Mama memberikan handponenya pada tante Meri, sedangkan aku,mama dan tante Marlina sudah siap bergaya menjadi modelnya. Sungguh diluar dugaan ku.


"Emang iya ya ma mas Aska meminta Foto?" bisik ku pada mama


"Ya enggak lah, mana mungkin dia seperti itu, bukanya, nanya sudah makan atau belum itu sudah sangat luar biasa?" bisiknya kemudian, aku pun tersenyum mendengar kata-kata mama, sekarang aku pun sudah tau dari mana sifatp kreatif mas Aska di saat mendesak seperti itu diturunkan dari mana.


Akhirnya pengambila foto pun selesai.


"Sayang!" aku menoleh ku lihat mas Aska sudah berdiri di depan pintu dan melempar senyum manisnya pada ku. Dia telah datang lebih cepat dari yang ku kira.


"Sangat tampan" batin ku, saat melihat senyum menawan itu perlahan mendekati ku.


Senyum ku pun memudar saat aku melihat tante Meri dan mengingat perkataanya tadi.


"Tante sudah cukup? Apa sudah bisa di lepas?" tanya ku pada tante Marlina.


"Nanti ya sayang, biarlah suamimu melihatnya terlebih dahulu y sayang." tolak mama


Bukan mereka yang membuat ku menjadi tak nyaman, tapi tante Meri yang sejak dari tadi melihat ku dengan sinisnya.


"Gimana nak, apakah sudah cocok atau belum?" tanya tante Marlina saat mas Aska sudah sampai di depan kami.


Aku pun menunduk, walau dia sudah bersetatus suami ku dan telah melihat semua aset yang ku miliki, tetap saja aku masih merasa malu saat harus berhadapan dengannya apa lagi dengan penampilan yang berbeda seperti ini.


"Eh kok malah bengong gitu, jawab pertanyaan tante Marlina dong." ucap mama tiba-tiba


"Oh iya ma, cantik, sangat cantik sekali." jawab mas Aska


"Siapa yang cantik? Gaunya atau Debbynya Ted." tanya mama


"Ya Debbynya lah ma, masa iya gaun." ceplos mas Aska kemudian.


"Gaunya juga sangat cantik kok tante." sambung mas Aska lagi


"Sayang kenapa kamu diam saja?" tanyanya seraya memegangi wajahku


"Nggak papa kok mas, ya udah tante sepertinya sudah cukup kan." kataku pada tante Marlina.


"Oh, iya-iya ok mari kita lepas, Teddy sekalian cobain jas nya aja, yuk." seru tante Marlina. Kami pun mengikutinya dengan mas Aska yang membantu ku untuk berjalan.

__ADS_1


"Mau di lepas dulu apa mau lihat sekalian punya Teddy?"


"Dilepas aja tante, saya sudah benar-benar sangat gerah." jawab ku, mas Aska mengernyitkan dahinya.


Usai gaun sudah di lepas, aku pun beranjak mengambil tas ku.


"Debby, bantuin Teddy dulu, tante mau menemui mama kalian sebentar, kalau sudah dicoba, nanti katakan saja apa saja yang masih kurang."


"Loh, kok aku tante?"


"Debby, kamu mau pegawai tante Marlina yang bantu saya ganti baju?" protes mas Aska


Tante Marlina sontak terkekeh mendengar ucapan mas Aska,"Nah, tu bener kata Teddy, pegawai-pegawai tante sih seneng-seneng aja kalau diminta tapi kamu? Masak iya rela?" candanya.


Aku pun mengangguk pasra dan mereka meninggalkan kami.


"Kenapa? Kenapa kamu cemberut seperti itu? Apa ada yang mengganggumu sayang?"


"Banyak, sangat banyak sekali yang mengganggu ku." jawab ku


Dia tersentak mendengar jawaban ku


"Apa? Siapa? Ngomong aja, jangan di pendam sayang?" tanyanya


"Aurel, tante Meri"


"Kamu pakai dulu biar kita bisa cepet keluar dari sini, aku harus bekerja." ucap ku


"Sudah pas Mas?"


"Sudah"


Dreeetttt... Handpone ku tiba-tiba bergetar.


"Sebentar" pamit ku untuk mengambil handpone yang ada di dalam tas ku


Sebuah pesan masuk disana ku buka dan ku baca. Ku lipat dahiku karena nomor pengirim pesan tidak ku kenal. Namun isi dari pesan itu membuat mata ku membulat sempurna.


x ( Debby kamu bisa ke rumah sakit sebentar?. Ini Aldo nangis-nangis nyariin kamu tersu.)


"Siapa" mas Aska mengambil handpone ku secara tiba-tiba dan membaca isi pesan itu. Lalu mengembalikannya kepada ku


"Kesana sama saya." ucapnya datar


Mas Aska segera mengantarku ke rumah sakit,setelah memastikan tak ada yang perlu di ubah dari baju rancangan tante Marlina, sedangkan mama masih tetap tinggal di butik tante Marlina, untuk menyiapkan kostum keluarga inti.

__ADS_1


Di dalam perjalanan kami hanya terdiam, fikiran ku hanya tertuju pada Aldo, bagaimana keadaanya dan terus memikirkan cara untuk memberikan penjelasan pada Aldo tentang mas Doni dan mbak Linda.


Di sisi lain suami ku yang saat ini berada di depan kemudi lebih memili untuk diam, mungkin dia marah atau semakin kecewa keputusan ku yang memberikan Aldo pada mas Doni dan mbak Linda.


"Mas"


"Sudah cukup Debby, saya lagi nggak mau berdebat, sekarang akan saya turuti semua apa yang kamu mau." ucapnya


Ternyata benar, dia benar-benar marah pada ku. Ku palingkan wajah ku, lebih baik diam dari pada memaksakan niat ku untuk membahas soal Aldo saat ini.


Hening


"Mau makan dulu atau mau langsung ke rumah sakit." tanyanya datar, memecahkan kesunyian di antara kami.


Ku sunggingkan senyum ku, setidaknya dia masih memikirkan perut ku dan mengesampingkan egonya, meski pun rasa marah masih menguasai dirinya.


Aku mnggelemg


"Kenapa? Bukanya kamu suka makan? Atau kamu sudah nggak sabar ingim bertemu dengm pak Doni itu?" sidirnya.


"Kamu cemburu mas?" godaku, menggodanya lebih baik dari pada menyuguhinya dengan kemarahan saat dia sedang dalam keadaan emosi.


Dia tak menjawab dan meminggirkan mobil disebuah rumah makan.


"Kenapa berhenti? Nanti Aldo nunggui kita mas." ucap ku


"Lagi berusaha menjaga kesehatan, biar cepet mendapatkan yang seperti Aldo. Kamu tunggu di sini." jawabnya dengan nada sindirn


Aku mencoba menerka apa maksud dari ucapanya itu. "Apa barusan dia sedang membicarakan soal keinginanya memiliki momongan?" gumam ku yang masih di dalam mobil


Ku helakan nafas panjang lalu ku coba untuk menghubungi bunda. Namun tak ada jawabam darinya.


Tak berselamg lama mas Aska pun telah kembali dengan sebuah kotak makanan di tanganya dan segera kembali masuk ke dalam mobil.


"Ayo, makam dulu ni." serunya lalu memberikan kotak makam itu padaku dan menyalkan kemmbli mesin mobilnya.


"Loh punya kamu mana mas?" tanya ku saat aku menyadari hanya ada satu kotak makanan saja.


"Saya masih kenyang, Apa lagi setelah membaca pesan dari Doni." sindirnya lagi


"Mulai lagi, perasaan banyakan dia dari aku, kenapa jadi aku terus yang di tindas?" gerutu ku seraya emalingkan wajah ku.


πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€


Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataπŸ™πŸ»πŸ˜Š

__ADS_1


Oh ya kak mau promo karya yang berjudul Terpaksa menikahi bos mafia gak kalah seruh juga loh kak ceritanya.


__ADS_2