Aku Bukan Rahim Cadangan

Aku Bukan Rahim Cadangan
Tak tahu kemana


__ADS_3

"Oke Deb, kalau itu yang kamu mau, setidaknya biarkan supir yang akan mengantrmu sampai ke panti ." Katanya yang membuat ku semakin menjadi marah, bahkan dia tak ada etikat baik untuk mengembalikan dan mengantarku pada Bunda baik- baik, malah ingin menyuruh supir. Aku pun tersenyum kecut.


"TUAN DONI ATMAJAYA YANG TERHORMAT, anda sudah bukan suami saya lagi dan bukan siapa-siapa saya, sekarang anda tidak memiliki hak untuk mengatur saya." Kataku sambil meninggalkan mas Doni. Ku letakkan koper di motor ku dan tanpa pikir panjang, melajukan motorku dan menggalkan rumah itu, aku pergi membawa cintaku, aku pergi membawa seribu harapan yang tak mungkin lagi bisa ku wujudkan, Aku pergi dengan luka yang begitu mendalam.


Kususuri jalanan ibukota, karena tak mungkin aku pulang ke panti. Air mataku tak henti- hentinya mengalir hingga klakson mobil membuyarkan lamunanku. " Woi... mbak cari mati ya? Kalau nggak bisa naik motor nggak usah bawa motor!" Caci pengemudi mobil INNOVA warna hitam yang hampir saja menyerempet motorku, karena aku naik motornya nggak bener katanya.


"Maaf pak maaf..." Kataku, Aku tak marah karena aku sadar pikiranku sedang tidak fokus menyetir.


Ku pinggirkan motorku di depan sebuah cafe, aku berniat membeli kopi sejenak agar rasa kantuk dan hatiku lebih tenang.


Setelah kopi dalam cup ku dapat, aku segera meminumnya di depan cafe, kehangatan kopi dapat menghangatkan tubuhku yang cukup kedinginan, karena harus berada di luar selarut ini. Aku duduk sejenak di lesehan cafe itu, sambil berfikir akan pulang kemana. Yang jelas aku belum siap jika harus pulang ke panti. Aku belum siap membuat Bunda dan penghuni panti sedih dan kecewa memikirkan nasibku.


🥀🥀🥀


Aku kembali memesan sate dan sayur untuk ku bawa pulang ke apartemen setelah motor Debby tak lagi terlihat. Tak berselang lama sate pun ku dapatkan, aku segera naik taxsi menuju apartemenku yang jaraknya tak begitu jauh.


Ku buka pintu apartemen "Assalamualaikum" Sapaku, karena di sana Mama sudah menungguku. Mama yang belum sempat ku temui dalam beberapa hari ini setibanya aku di ibu kota, karena kesibukanku di rumah sakit kakek sangat lah menyita waktu. Aku memberikan kunci apartemenku saat dia menolak untuk pergi dari warung sate tadi.


"Waalaikumsalam, anak Mama... Kesayangan Mama" jawabnya menghampiriku dan menciumiku bertubi-tubi.


"Mama jangan gini ah, Tedi udah gede Ma, Malu tau!" Tolakku.


"Malu sama siapa? Nggak ada siapa- siapa Nak disini." Jawabnya.


"Malu sama umur Ma" kataku sambil melepas sepatuku.

__ADS_1


"Dasar bocah, 10 tahun kamu nggak ketemu sama Mama, sekalinya ketemu nggak mau mama cium lagi? Kamu ninggalin Mama dari masih sangat belia, bagi Mama, kamu tetep bayi Mama." Ucapnya seraya menjewer telingaku.


"Ma... Ma... Ma sakit." Ku usap telingaku, ku lihat Mama cemberut, seperti ABG yang sedang patah hati.


"Udah jangan marah, sini!" Kataku merentangkan tanganku dan memeluk mamaku, pelukan yang begitu nyaman yang sudah lama tak ku rasakan itu, dan rasanya tetep sama masih senyaman dulu.


"Nih Satenya Ma, Mama tadi mau beli kan?" Ucapku memberikan bungkusan sate dan sayur yang sudah ku bawa. Sate di warung itu memang sate Favorit keluargaku dari jaman aku masih kecil, 10 tahun aku tak merasakannya dan rasanya pun masih tetap sama seperti dulu tak ada berubah sedikitpun. Gara- gara ingin makan sate itu juga aku harus membohongi Debby, alasanku mengajaknya sebenarnya karena aku ingin ada teman makan, dulu banyak sekali preman-preman dan waria yang mangkal di sana. Dan mereka bisa saja menggodaku kalau aku tak membawa teman wanita, tapi sepertinya sekarang sudah berbeda, semua aman dan sepertinya sudah Di tertibkan.


"Kenapa tadi panggil Mama Tante? Pake ngusir Mama segala. Tadi itu pacar kamu ya?" Tanya Mama mengintimidasi.


"Bukan, temen!" Jawabku, saat ini kami duduk di sofa ruang tamu, dengan mama yang terus membelaiku. Sepertinya dia sangat begitu merindukan ku, aku hanya bisa menatapnya, menatap wajah teduh mama yang melahirkan serta merawat ku dengan penuh kasih sayang, walaupun aku sudah tidak punya hubungan lagi dengan keluarga Adijaya, namun Mama tetaplah Mama ku, yang tak akan pernah bisa tergantikan dan tak akan bisa aku menjauh darinya.


"Sudah berapa hari kamu di Jakarta nak?"


"Sudah selama itu kamu nggak kasih tau Mama?"


"Sibuk Ma, ada masalah di rumah sakit kakek." Jawabku.


"Kapan kamu pulang ke rumah? Papamu selalu menunggu." Sambung Mama.


"Ma, berapa kali Tedi harus bilang, Tedi..."


"Kamu bukan bagian keluarga Adijaya lagi?" Selanya.


"Papa mu tak sepenuh hati melakukannya nak, bahkan papamu sering hatuh sakit setelah kepergian mu. Dia sangat menyesal atas apa yang dikatakanya padamu waktu itu" Lanjut Mama berkaca- kaca.

__ADS_1


"Tedi sudah memaafkan semuanya Ma, Tedi nggak papa kok ma, Justru Mas kevin lebih pantas, kalau Tedi pulang justru akan membuat semuanya makin rumit." Jawabku


"Dasar keras kepala. Apa kamu baru mau pulang setelah papa dan mama mu ini sudah tiada?" Tanyanya penuh penekanan.


"Ma, jangan bilang gitu, mama tetaplah Mama ku, setiap Mama butuh Tedi akan berusaha ada buat mama." Jawabku seraya memeluk Mama.


"Dasar keras kepala." Gumamnya mengusap punggungku.


"O ya Ted, kamu udah punya pacar yang bisa kamu kenalin sama Mama belum?" Tanyanya lagi.


"Pacar? Nggak ada di USA nggak ada yang nikah muda, santai aja ma." Jawabku yang memang begitulah adanya.


"Jangan kerja terus, pacar juga perlu.


untuk mengisih hari-hari kita, Kenapa nggak sama gadis tadi? Mama perhatikan dia cantik, manis dan masih muda. Kamu juga sudah makan malam bersama? Pasti, gadis itu punya tempat khusus di hati kamu sampai bisa makan malam sama kamu yang begitu cuek sama yang namanya perempuan iya kan." Ocehnya yang mulai ngelantur kemana- mana.


"Dia Istri orang Ma, dia udah nikah, lagian Tedi belum kepikiran kesana, itu temen Tedi, perawat di Rumah Sakit Kakek, aku ajak dia karena cuma dia yang ku kenal Ma, dia yang ditugaskan menjemput Tedi pada saat Tedi sampai di bandara. Udah, jangan mikir macem- macem!" Jelasku pada Mama.


"Sayang sekali, ya memang kalau gadis cantik itu harus cepat di halalin, kalau nggak, bisa direbut orang, pasti suaminya ganteng juga seperti kamu."


"Mama, ngomongnya udah kayak ustadzah aja halal- halal segala." Celetukku, aku pun menikmati teh yang sudah mama siapkan sebelum aku datang, teh aroma melati favoritku.


🥀🥀🥀


Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kata🙏🏻😊

__ADS_1


__ADS_2