
Aku Bukan Rahim cadangan
Part 70
"bunda benar- benar berhutang budi pada dokter itu Deb!" Katanya membuat tangisku semakin menjadi- jadi, Ku peluk bunda ku tumpahkan segala emosiku dalam pelukan bunda.
"Kenapa ndok... Jangan nangis! bunda akan selalu ada untuk anak bunda". Bujuk bunda
"Debby... Debby sudah kehilangan orang baik itu Bun... Dan dia pergi dengan membawa kesalah pahaman bun. hiks... hiks... hiks" Keluhku yang masih memeluk bunda dengan berderai air mata yang tumpah. bunda mengelus punggungku lembut. Dua hal yang begitu ingin ku sampaikan pada dokter Teddy, yang oertama permintaan maaf atas kelakuan Mas Doni dan yang ke dua tentang masa Iddah yang belum ku utarakan padanya, masa Iddah yang dia tunggu dan masa Iddah yang tidak berlaku untukku karena aku dan Mas Doni belum pernah melakukan hubungan selayaknya suami istri. Hanya karena malu membahas masalah hubungan suami istri dengan dokter Teddy membuat ku dihantui rasa bersalah sekarang. Dan yang paling mengganggu pikiranku saat ini adalah dia salah mengira, mengira bahwa aku sudah kembali pada Mas Doni itu yang sangat aku takutkan.
"Sabar yo cah ayu... Bunda yakin dia pasti akan kembali. Dia juga sudah janji sama bunda akan kembali." Kata bunda, aku melepaskan pelukanku pada bunda.
__ADS_1
"Apa lagi yang dia katakan selain akan kembali bun?" Tanyaku, mungkin inilah yang dinamakan bahwa kita baru akan merasa kehadiran seseorang begitu bermakna saat ia sudah meninggalkan kita.
"Dia juga janji akan kembali main bola sama aldo." Jawab Bunda yang tak sesuai dengan ekspektasi ku.
"Bukan itu Bunda, tapi yang lain? Tentang Debby misalnya?" Tanyaku lebih serius, Bunda melipat dahinya.
"Tentang kamu? Kayaknya Ndak ada." Kata Bunda sambil mengingat- ingat sesuatu.
"iya bunda tunggu sebentar Debby ambil koper dulu dan bersiap- siap." Kataku, ku putuskan untuk pulang bersama Bunda kepanti. Berada di tempat ini akan membuatku terus mengingat dokter Teddy yang tak tau kapan dia akan kembali.
Ku bereskan semua barangku, ku buka lemari dan memasukkan baju - baju ku ke dalam koper. Ingatanku kembali muncul saat ku lihat tumpukan berbagai merk P*embalut yang dibelikan dokter Teddy untukku, masih begitu banyak. Tak terasa sebuah senyuman tersungging di bibirku.
__ADS_1
"Heh, kok senyum -senyum sendiri gitu? Ayo cepet nanti keburu malam. Ini p*mbalut banyak banget to ndok? Kamu mau bawa semua?" Tanya bunda yang melihat isi lemari ku.
"Iya bun, tau nggak bun? ini semua dokter Teddy yang belikan untukku, walaupun ketus dia itu baik Bun. Dia juga jago selalu masak bahkan semua makanan Debby dia yang masak. Kalau Debby lagi sakit juga dia rela tengah malam beli obat ke apotik untuk Debby." Ceritaku pada Bunda, bunda yang mendenga hanya tersenyum samar.
"Ya sudah kita pulang sekarang."
Ku matikan lampu apartemen, lalu menuju ke parkiran setelah aku mengembalikan kunci apartemen kepada pemiliknya.
Aku mengajak Bunda untuk naik sepeda motorku. Ku lajukan sepeda motorku dengan pelan, Bunda selalu melarang ku untuk ngebut.
π₯π₯π₯
__ADS_1
Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataππ»π