
Aku bukan Rahim Cadangan
Part 100
"Teddy, gimana keadaan Debby?"
"Sebentar lagi juga sadar ma."
"Syukurlah, ni pake dulu jaket Papamu, mereka bilang kamu nggak sempat ganti baju."
"Nggak usah Ma, aku nggak pulang, aku disini aja."
"Tapi besokkan bukannya kamu seminar? Masak mau pulang pake baju kayak gini? Lagian malam- malam kan dingin." Omel Mama. Aku tetap bergeming dan tidak menerima pemberian Mama.
"Ya udah nanti Mama suruh orang anteri baju kamu kesini. Ni mama sudah belikan makanan, di makan jaga kesehatanmu, Mama mau pulang dulu. Kabari mama kalau ada perkembangan." Pesan Mama.
"Hemmm. Makasih ya Ma, udah mau Dateng."
"Ngomong apa, Debby juga calon menantu Mama."
__ADS_1
"O ya Teddy, kamu di sini berapa hari lagi?" Sambung Mama.
"Seminar ku masih 3 hari lagi Ma, harusnya hari Kamis aku kembali, lihat kondisi Debby seperti apa dulu." Jawabku, pihak USA sudah menetapkan kapan aku harus kembali dan keputusan sebelum aku berangkat ke sini adalah aku harus kembali hari kamis setelah seminar.
"Secepat itu? Ya sudah lah Mama pulang dulu. Jaga Debby baik- baik." Pamit Mama.
Kegundahan kembali menyelimutiku kala ku tatap wajah pucat Debby. Apa yang akan terjadi jika aku dan Debby tidak tinggal bersama? Ku pijat kepalaku yang mulai terasa pening dengan tangan kiriku, tanpa sadar aku tertidur di tempat dudukku, masih dengan tangan kananku yang memegangi tangan Debby.
"Bunda..." Sayup sayup terdengar suara Debby memanggil Bunda dan sedikit menggerakkan tangannya, sudah cukup membuatku terbangun dari tidurku.
"Ya Allah ketiduran" gumamku.
"Bunda..."
"Debby... I Love You, You are my dream..." Bisikku ditelinga Debby. Ku sunggingkan senyumku saat menyadari kekonyolan ku.
Aku duduk kembali, menunggu dan terus terjaga. Hingga akhirnya Debby membuka matanya perlahan.
"Alhamdulillah." Lirihku.
__ADS_1
"Ada yang sakit Deb?" Tanyaku beranjak dari tempat dudukku, dan segera memeriksa Debby. Kali ini bersikap selayaknya dokter terhadap pasien akan lebih baik dan membuat Debby tidak canggung atau menolakku.
POV Debby
Aku terbangun setelah merasa sudah tidur terlalu panjang. Ku buka mata, ku lihat bayangan dokter Teddy duduk di kursi yang ada di sebelahku, tangannya menggenggam tanganku walau netranya tertuju pada jendela didepannya. Aku kira ini adalah mimpi namun setelah aku merasakan sakit di bagian perutku dan melihat perban di perutku, barulah aku sadar bahwa ini adalah nyata. Ku tarik tanganku dari genggamannya.
Lalu dia bertanya padaku apa yang ku rasakan.
"Kenapa perut saya terasa masih sakit?"
"Ya Sabar, namannya juga habis dioperasi sayang..."
"Sayang?" ku tautkan kedua alisku mendengar kata- kata sayang dari dokter Teddy.
"Maksud saya kan sayang kalau kamu nggak dioperasi, pasti akan lebih sakit dari itu."
"Dokter? Dokter ada di sini? Kenapa? Mana Bunda?" Tanyaku, dia masih sibuk memeriksa infusku yang jelas- jelas tidak ada masalah.
"Jangan banyak gerak atau bicara dulu, saya yang mengoperasi kamu, itu artinya saya adalah dokter yang menangani kamu. Kenapa masih tanya kenapa saya ada disini." Jelasnya.
__ADS_1
π₯π₯π₯
Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataππ»π