
Aku Bukan Rahim cadangan
Part 71
πΈπΈπΈ
Sampai di panti, adik- adik panti menyambut ke pulanganku dan Bunda dengan sangat gembira mengajaku untuk segera masuk. dan adik - adik segera berlarian menghampiri kami, menyalami kami, serta mengecup punggung tangan kami.
"Mbak Debby..." Teriak Aldo yang berlari memanggilku dan memelukku. Aldo adalah anak yang sangat dekat denganku, selain lucu, dia juga sangat menyayangiku. Sampai - sampai dulu kalau aku sakit pun dia rela tidak main seharian hanya untuk ingin menemaniku.
"Hai Aldo, kamu ngapain jam segini bawa bola, bentar lagi malam loh, jangan main terus." Kataku yang mengelus kepalanya.
" mau bertanding bola sama Om ganteng mbak, jadi Aldo harus berlatih." Jawabnya dengan nada khas nya yang polos.
"Om ganteng?"
"Dokter Teddy, Deb." Jawab Bunda yang berdiri di sebelahku.
__ADS_1
"Oh... Ya udah Aldo, kamu masuk gih, besok latihan lagi. Makan dulu." Perintahku padanya.
Waktu sudah hampir pukul setengah 8 malam, Bunda menyuruhku untuk ikut makan dulu sebelum aku berangkat kerja malam ini.
Kami biasa makan bersama di meja makan besar yang ada di ruang tengah panti.
"Bunda... Kenapa adek- adek cuma makan tempe, tahu dan kecap?" Tanyaku melihat hidangan di piring adik- adikku.
"Mereka lagi pengen makan ini, ya kan anak- anak?" Tanya Bunda pada adik panti, beberapa menjawab iya dan sisanya diam. Aku mulai curiga.
"Aldo? Aldo suka makan telur kan?" Tanyaku mencoba mencari tahu. Aldo menganggukkan kepalanya cepat. Aku melirik ke arah Bunda, Bunda hanya bisa memalingkan wajahnya dari ku.
"Bunda, Debby mau bicara sebentar." Kataku lalu beranjak dari tempat dudukku.
"Kalian habiskan makannya ya, bunda kesana dulu." Pamit Bunda pada adik- adik.
Aku menunggu bunda di dalam kamar saat ini.
__ADS_1
"Ada apa Deb?"
"Bunda, sebenarnya apa yang terjadi Bun? Apa yang bunda sembunyikan dari Debby?" Tanyaku menyelidik.
"Bunda Ndak menyembunyikan apa- apa ndok."
"Jawab Debby bunda, Bunda nggak mungkin kasih adik makan tempe sama kecap kalau keuangan sedang tidak dalam keadaan darurat?" Tegasku setengah marah karena Bunda tak mau jujur padaku. Aku tau benar siapa Bunda, dia selalu memperhatikan makanan dan gizi pada anak- anak panti selama ini.
Umi menghela napas panjang "Linda menghentikan donasinya ke Panti kita Deb."
"Apa? Mbak Linda?" Tanyaku tak percaya, wanita itu benar- benar sudah berubah, aku benar- benar tidak menyangka dia akan menyangkut pautkan masalah panti dengan masalah pribadi.
"Sudah ndok, kamu jangan marah, itu hak mereka mau menyumbang atau tidak."
"Tapi bun dia sudah keterlaluan. Dia sendiri yang mencari masalah dengan memintaku menikahi suaminya dan dia juga yang meminta Mas Doni untuk menceraikan ku. Dan sekarang? mengorbankan anak- anak panti,"
"Sudah lah Deb, sudah, kita bisa cari donatur lain. Bunda juga sudah mengajukan tambahan dana ke cabang Surabaya. Tapi masih dalam proses." Jelas Bunda, memang bukan keluarga mas Doni saja yang jadi donatur di panti kami, hanya saja keluarga mas Doni termasuk penyumbang terbesar di panti kami. Yang menjadi pertanyaanku sekarang adalah apakah Mas Doni dan kedua orang tuanya tau akan hal yang dilakukan oleh mbak Linda?
__ADS_1
π₯π₯π₯
Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataππ»π