Aku Bukan Rahim Cadangan

Aku Bukan Rahim Cadangan
Ingin sendiri


__ADS_3

Aku bukan Rahim Cadangan


Part 175


POV Debby


Hari ini ku rasakan lagi dekapan suamiku yang sudah sekian lama aku tak merasakannya, kenyamanan dan kehangatan hadir menyelimuti tubuhku. Hingga semua itu berubah sakit setelah kebohongan yang ia lakukan selama ini terungkap. Ia berkata bahwa ia adalah bagian dari keluarga Atmajaya, Anak dari Pak Atmajaya malah. Bukan masalah siapa dia atau apa, tapi yang membuatku kecewa adalah, kenapa harus melandasi sebuah hubungan dengan kebohongan.


Ku lepas pelukan nya dariku, hatiku kacau, orang yang begitu ku percaya semakin memperlihatkan watak aslinya, pembohong. Ya, entah berapa banyak kebohongan lagi yang sudah disimpan olehnya, Aku pun tak tau.


"Debby, jangan pergi, kita selesaikan dengan baik- baik." Cegahnya saat aku mengambil tas ku dan membuka pintu.


"Tiga bulan mas, kenapa baru memberitahuku setelah kamu mendapatkan semuanya dariku?"


"Apa maksudmu Debby, apa kamu menyesal?"

__ADS_1


Aku tak menjawab, lebih baik menghentikan pertengkaran daripada ucapanku semakin tidak terkontrol dan memperkeruh keadaan, aku tak ingin salah bicara.


Ku pesan taksi dan pergi ke Panti, saat ini aku butuh untuk sendiri. "Debby..." Teriak Mas Aska yang mengikutiku, aku tak peduli, ku percepat langkahku, dia terus mengejarku.


Taksi sudah menunggu, buuuk... Ku tutup pintu "Jalan Pak," perintahku, Mas Aska terus mengetuk kaca mobil yang sudah ku tutup rapat- rapat.


"Mbak tapi itu Mas nya."


"Udah biarin aja Pak, Jalan Aja." Putusku, sempat aku merasa kasihan saat melihatnya berlari mengikuti taksiku. Tapi memberinya pelajaran juga penting agar tidak ada kebohongan- kebohongan yang akan terjadi lagi. Mungkin aku munafik yang menganggap semua orang sama sepertiku, jujur.


"Waalaikumsalam." Jawab Bunda, netranya melihat ke arah belakangku, aku tau dia sedang mencari sosok menantu kebanggaannya itu.


"Mana suamimu Deb?"


"Di Apartemen Bun, nanti kalau Mas Aska... Maksudnya Mas Teddy datang kesini Bunda bilang aja Debby udah berangkat kerja duluan." Kataku lalu menuju kamar.

__ADS_1


Bunda mengikutiku.


"Kalian ribut? Dan mata kamu itu? Kamu habis nangis kan?" Tanya Bunda menatap lekat- lekat wajahku, kupalingkan wajahku. Tak baik mengadu masalah rumah tangga, Rumah tanggaku adalah milikku, mengumbarnya sama saja mengumbar aibku sendiri. Aku hanya membutuhkan waktu, waktu untuk menenangkan pikiranku, waktu untuk memikirkan apa yang akan aku lakukan setelah ini. Bercerai? Tidak mungkin lah, aku sudah terlanjur mencintai nya, semua pun sudah ku berikan padanya. Lagipula siapa yang mau kehilangan orang seperti dia?


"Nggak Bun, Debby harus mengambil beberapa barang Debby, Suami Debby sudah membeli Apartemen untuk kami tempati nantinya."


"Lalu kenapa harus mengatakan kamu sudah berangkat?" Tanya Bunda, sepertinya bunda mulai curiga dengan gelagatku.


"Debby,,debby ingin istirahat Bunda, seharian inj Debby belum istirahat sama sekali jadi Debby tidak ingin di ganggu dulu." Kataku yang beralasan.


"Debby, ke kamar dulu ya Bun." Sebelum Bunda akan semakin mencurigai ku dan bertanya yang macam- macam lebih baik menghindari Bunda dulu, ku harap Mas Aska tidak mengikutiku kesini.


πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€


Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataπŸ™πŸ»πŸ˜Š

__ADS_1


Oh ya kak mau promo karya yang berjudul Terpaksa Terpaksa menikahi bos mafia gak kalah seruh juga loh kak ceritanya..


__ADS_2