Aku Bukan Rahim Cadangan

Aku Bukan Rahim Cadangan
Mobil Baru


__ADS_3

Aku bukan rahim cadangan


Part 193


"Kenapa kesini?" Tanyanya mengambil tissu dan mengelap mulutnya.


"Melihatmu, ternyata benar yang dikatakan Vannia. Maaf karena membelaku jadi kayak gini." Kataku, ku ambil tissu lagi dan membantunya.


"Aku bahkan nggak tau apa yang kamu suka dan nggak suka." Dia memegang tanganku dan menghentikan aktifitasku.


"Saya suka acar, hanya saja tubuh saya menolak, jadi salah kalau Vannia bilang saya nggak suka." Jawabnya, ku rasa dia mencoba menghiburku.


Aku terdiam untuk beberapa saat.


"Kamu bahkan selalu ingat aku alergi udang, daging slice Korea itu juga kamu tau kalau itu favoritku."


"Sudah lah, besok saya kasih list apa yang saya suka dan nggak saya suka , jangan berlebihan, toh ini bukan reaksi kembung atau keracunan, ini cuma kebiasaan aja sayang" Ucapnya dengan lembut.


"Udah, kita kembali ke meja, nggak enak, dan kita harus pulang, sebelum reaksi alergimu muncul." Ajaknya.


Kami pun kembali ke meja makan.

__ADS_1


"Ma, Pa, kita mau pamit, sudah malam." Kata Mas Aska begitu kami kembali.


"Tunggu dulu, duduklah. Papa punya sesuatu untuk Debby." Perintah Pak Atmajaya pada kami, kami pun segera mengikutinya.


"Seharusnya pak Atmajaya tidak perlu repot- repot."


"Jangan panggil Pak terus Debby, panggil Papa dan Mama." Perintah Bu Widya.


Aku mengangguk samar.


Seorang pria berseragam hitam datang dan membawa sebuah kotak yang diletakkan di depanku.


"Bukalah Deb," seru Papa Atmajaya.


"Maaf Pa, Debby tidak bisa menerimanya Debby tidak membutuhkannya."


"Dasar munafik" samar- samar ku dengar kata- kata Vannia.


"Setidaknya mobil lebih aman daripada harus menggunakan sepeda motor saat bekerja malam." Jelas Papa.


"Saya lebih nyaman memakai motor, dan bukankah sebentar lagi pengumuman atas pernikahan kami akan dilakukan, jadi tidak akan ada alasan lagi untuk suamiku tidak mengantar atau menjemputku setelah itu. Bukan begitu sayang?" Kataku dengan penuh manja, ya aku memang sengaja setengah memanasi Vannia.

__ADS_1


"Iya, Pa, Ma, Debby benar. Lagi pula Debby tidak bisa membawa mobil." Jelas Mas Aska yang memang begitulah adanya.


"Baiklah kalau kalian menolak. Tapi Debby, kalau kamu berubah pikiran, kamu boleh kapan saja mengambilnya." Putus Papa, aku mengangguk samar.


"Teddy kamu ikut Papa dulu ke ruangan Papa, ada yang ingin papa bicarakan."


"Tapi kita harus segera pulang, Debby. harus..."


"Nggak papa Mas, aku akan menunggu. Pergilah."


"Omong kosong apa lagi ini Pa! Papa mau membahas apa lagi dengan anak yang sudah jelas- jelas menentang keluarganya." Bentak Kevin dengan penuh amara.


"Diam kamu Kevin, Teddy, ikut Papa!"


"Aaahhh..." Kevin meninggalkan meja makan dengan wajah yang terlihat begitu sangat kesal.


"Saya tinggal dulu ya, jauh- jauh kamu dari wanita itu." Bisik Mas Aska mengusap pundakku.


"Iya..." Jawabku lembut, entah kenapa melihat ekspresi- ekspresi Vannia saat aku dan Mas Aska bermesraan membuatku begitu bahagia.


πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€

__ADS_1


Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataπŸ™πŸ»πŸ˜Š


Oh ya kak mau promo karya yang berjudul Terpaksa Terpaksa menikahi bos mafia gak kalah seruh juga loh kak ceritanya..


__ADS_2