Aku Bukan Rahim Cadangan

Aku Bukan Rahim Cadangan
Sisi kekanakan


__ADS_3

Aku bukan rahim cadangan


Part 185


"O ya suster Indah, ada satu satu lagi suster, mau karyawan magang, perawat biasa, dokter, bahkan cleaning service sekalipun, yang namanya karyawan tetaplah karyawan, dan semua itu tanggung jawab saya. Paham!" Terang Mas Aska sebelum suster Indah meninggalkan ruangan, ia tampak terkejut dengan penjelasan Mas Aska.


"Iya Pak" jawabnya singkat.


"Debby, urusan kita belum selesai ya!" Bisiknya mengancam ku. Aku tak menjawab, hanya bisa menunduk pasrah.


"Nah kan, ribet jadinya." Gerutuku selepas suster Indah meninggalkan ruangan.


Mas Aska menghampiriku "Kamu nggak papa Deb? Apa suster Indah suka bertindak diluar batas pada kalian?"


Ku gelengkan kepalaku, Aku tak mau membuat susah orang lain, karena aku tau apa yang akan Mas Aska lakukan kalau aku sampai salah bicara mengenai suster Indah. Memang suster Indah itu judes, tapi disisi lain dia itu sangat setia pada Atmajaya Hospital dengan menjunjung tinggi kedisiplinan para bawahannya. Dan mengenai ancamannya padaku, biarlah itu menjadi urusanku.


"Maaf, Udah nggak papa, kalau suster Indah mengganggumu, kasih tau saya. Jangan cemberut gitu." Katanya meraih wajahku dan menarik kedua sudut bibirku.

__ADS_1


"Waktu bapak terlalu berharga kalau hanya mengurusi masalah Debby yang hanya perawat. Bapak bisa panggil saya kalau sewaktu- waktu membutuhkan sesuatu." Sindirku menirukan gaya bicara suster Indah yang begitu manis pada suamiku.


Dia terkekeh, "Kamu cemburu sama suster Indah sayang?" Tanyanya di sela tawanya.


"Menurutmu?"


"Udah nggak usah ngambek, Maaf..." Rayunya lalu memelukku.


"Hemm... O ya, Hal penting apa yang mau kamu sampaikan padaku? Katakan sekarang Mas. Aku capek, pengen pulang" tanyaku melepaskan pelukannya.


"Jadi, Minggu depan kita resepsi. Mama sudah menyiapkan semuanya."


"Apa? Tante Widia?" Kata- kata itu membuatku terperangah, resepsi, bahkan aku sama sekali tak pernah memikirkan tentang resepsi.


"Iya, Kenapa kok kaget gitu?" Tanyanya menatap ku heran.


"Untuk apa?"

__ADS_1


"Untuk apa? Ya untuk mengumumkan pernikahan kita lah Debby, Saya sudah nggak mau main petak umpet lagi." Jelasnya.


"Iya, tapi kenapa harus resepsi segala? Udah kadaluarsa Mas."


"Biar jelas semuanya, lagian saya sudah memikirkan segala sesuatunya, bahkan konsepnya. Kamu jangan merusak impian saya ya Debby." Sungutnya.


Ku hela nafas panjang "Iya, iya, jangan marah, kita resepsi." Jawabku lembut. Aku mengalah, Sedewasa dan setegas apapun suamiku, kadang ia masih mempunyai sisi kekanak- kanakan yang harus dituruti saat menginginkan sesuatu dan akan merajuk jika keinginannya tidak terlaksana. Aku pun harus bisa lebih sabar untuk menghadapi sisi lain dari lelakiku itu.


"Dan satu lagi, nanti malam, Mama ngundang kita untuk makan malam di rumah. Nah, kalau masalah ini kamu nggak papa nolak, lagi pula saya juga malas kalau harus kesana. Belum lagi harus ketemu sama si Vannia." Jelasnya.


"Ke rumah orang tua sendiri kok malas, belajarlah bersikap lebih baik pada orang tua kamu Mas. Kita datang."Putusku, bagaimanapun juga orang tua tetaplah orang tua, dan sudah menjadi kewajibanku untuk mengingatkan suamiku jika ada yang salah darinya.


πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€


Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataπŸ™πŸ»πŸ˜Š


Oh ya kak mau promo karya yang berjudul Terpaksa Terpaksa menikahi bos mafia gak kalah seruh juga loh kak ceritanya..

__ADS_1


__ADS_2