
Aku bukan rahim cadangan
"Papa bilang panggil Vannia!" Bentak ku, Kevin pun terlihat sangat terkejut dan membuka matanya lebar- lebar. Dengan langkah berat dia berbalik dan memanggil Vannia.
"Sayang, bangun... Dicari Papa tu."
"Uuuuhhh... Nanti aja mas, aku masih Ngantuk ni!" Sayup- sayup ku dengar jawaban dari Vannia dari balik pintu yang sudah setengah terbuka.
"Vannia!" Sentakku, seraya masuk kedalam kamar.
Mereka terkejut dan beranjak dari tempat tidurnya.
"P_papa." Kata Vannia terbata.
"Bisa- bisanya kamu tidur nyenyak setelah apa yang kamu lakukan! Apa ini?!" Tanyaku ku lempar berkas yang berisi bukti- bukti atas perbuatan yang dilakukanya ke pada Debby. Bukti yang dicari sendiri oleh orang- orang suruhan ku.
__ADS_1
"Dia mengambil dan membacanya dengan seksama."
"Darimana Papa dapatkan ini semua?" Tanyanya menunduk sambil meremas kertas-kertas itu. Segera ku ambil dan ku selamatkan berkas itu dari tangan Vannia.
"Jadi benar Vannia, kamu yang merencanakan semua ini dan ingin mencelakakan Debby? Sangat memalukan sekali perbuatan mu!"
"Sekarang kamu jelaskan sama Papa. Apa masalahmu dengan Debby? Sampai kamu tega ingin melenyapkan Debby? Dan orang gila itu, siapa dia?"
"Sayang, kamu ngapain?" Tanya Kevin yang terlihat kaget, sepertinya Kevin tidak tau menahu tentang apa yang dilakukan oleh istrinya itu.
"Apa ini karena Teddy?" Sambungku.
"A_aku..."
"Jawab!"
__ADS_1
"Aku hanya tidak ingin dia menggoda Teddy, adik iparku. Dia orang biasa, tidak sebanding dengan keluarga kita, Anak panti yang nggak punya apa- apa. Nggak pantes untuk bersanding dengan Teddy Pa." Jelasnya.
"Lantas siapa yang pantas? Kamu? Asal kamu tau ya Vannia, Debby itu..." Kataku terhenti, saat teringat pesan dari Mama, bahwa aku tidak boleh memberitahu siapapun dulu tentang status pernikahan Debby dan Teddy sebelum acara resepsi digelar.
"Debby apa Pa?"
"Bahwa Debby lebih baik dari kamu. Kali ini Papa masih kasihan dan tidak akan menyerahkan kamu ke polisi. Tapi jangan sampai kamu bermain- main atau berani mencelakakan debby lagi kalau kamu nggak mau berurusan dengan papa." Ancamku.
"Kevin ajari istrimu sopan- santun! 30 menit lagi Papa tunggu di ruang kerja, ada yang Papa mau bicarakan." Kataku yang meninggalkan kamar itu, kamar yang baru kali ini aku menginjakkan kaki setelah bertahun- tahun Kevin memutuskan untuk menikahi Vannia yang jelas- jelas meninggalkan adiknya hanya karena status.
Ku hempaskan tubuhku di kursi kerjaku, mendidik Kevin memang tidak semudah mendidik Teddy. Dia bahkan selalu ingin memiliki apa yang adiknya itu miliki, termasuk ingin memiliki Vannia. Maka dari itu aku selalu mengingginkan Teddy, jika aku mencoretnya dari nama ahli waris ku itu hanya lah ancamanku saja. Ancaman yang tidak mampu menggoyahkan hati Teddy untuk menjadi Dokter. Karena tidak mungkin menyerahkan perusahaan yang sudah susah payah aku rintis dengan kerja keras dan jatuh bangun pada Kevin. Akan lebih baik aku menghibahkannya ke yayasan sosial dari pada harus hancur di tangan Kevin jika Teddy tetap menolak keputusanku untuk bergabung.
π₯π₯π₯
Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataππ»π
__ADS_1
Oh ya kak mau promo karya yang berjudul Terpaksa Terpaksa Menikahi Bos Mafia gak kalah seruh juga loh kak ceritanya..