
Aku bukan rahim cadangan
Part 141
"Hah, Mas, kenapa ini, kenapa berhenti, macet? Sudah ku bilang, cari yang ahli." Omelku dengan cemas, berdiri melihat sekelilingku tak ada siapapun disekitar kami.
"Kalau terdampar disini kan enak, sepi." Katanya seraya tersenyum.
"Jangan ngaco deh." Kataku, kembali mencoba mencari bantuan dengan melihat sekelilingku. Dan tanpa ku sadari, dia menarik tanganku, aku pun jatuh ke pangkuannya. Dia menatapku dengan tajam. Membuka masker yang ku pakai lalu menc*umku tanpa permisi.
Aku tersipu, "Mesinnya sudah normal" katanya setelah dia melepas ci*umannya.
"Kamu mengerjaiku lagi?" Kataku yang memakai maskerku kembali.
"Itu balasan karena kamu sudah membuat saya cemas dan mengerjai saya, skor kita sama sekarang" Jawabnya lalu melajukan speedboat kami kembali.
πΈπΈπΈ
Sore pun tiba, Usai kami menghabiskan waktu bersama-sama. Aku mengajak Mas Aska untuk mampir ke rumah bunda bersamaku, mengajaknya menginap walau hanya semalam saja, menunggu waktu subuh datang. Awalanya dia menolak karena tidak enak jika harus menumpang di panti. Tapi aku rasa akan lebih tidak enak lagi jika suami istri yang sudah lama berjauhan harus tinggal terpisah saat ada kesempatan untuk bersama. Akhirnya dia pun menurutiku.
"Saya ke bawah dulu ya, ada yang ngambil motor. Kita ke rumah Bunda pake taksi." Katanya saat kami sudah sampai di hotel lalu membereskan barang- barang ke koper.
__ADS_1
Aku segera memesan taksi Online setelah semua sudah siap, waktu sudah hampir petang. Aku harus cepat sampai di panti, agar kami bisa cepat istirahat.
Sesampainya di panti. Panti terlihat begitu sepi.
"Kok sepi ya Mas? Kemana anak- anak?" Tanyaku pada Mas Aska yang berada di belakangku.
"Coba diketuk Deb."
Tok... Tok... Tok... "Assalamualaikum Bunda" Ku ketuk pintu.
"Waalaikumsalam." Jawab bunda membuka pintu.
"Eh Debby, Nak Teddy, Masuk."
Kami pun mengikuti Bunda masuk, aku berjalan dan menggandeng lengan suamiku tapi dia menolak "kenapa?" Gerutuku.
"Nggak enak dilihat sama Bunda sayang." Bisiknya melepaskan tanganku dari lengannya. Berbeda saat dia hanya bersamaku. Sifatnya sekarang terkesan lebih acuh dan dingin padaku. Sungguh tak bisa aku menebaknya. Bagaikan memiliki kepribadian ganda, begitu mesra saat berdua, dan begitu menyebalkan saat di depan Bunda.
Kami pun duduk bersama di ruang tamu, menikmati teh buatan mbok Mar "Adik- adik mana Bun? Kok sepi?"
"Lagi di undang sama Bu Widia, ada acara di rumahnya. Ulang tahunnya Bu Widia" Jawab Bunda.
__ADS_1
"Uhuk... Uhuk..." Mas Aska tiba- tiba tersedak saat menyesap teh.
"Hati- hati minumnya." Kataku menepuk punggungnya dengan pelan.
"Ndak di rayakan, cuma syukuran pengajian aja." Sambung Bunda tersenyum.
"Kok bunda nggak ikut?" Tanyaku lagi.
"bunda sedang banyak pesenan kue Deb."
"Bunda, jangan kerja terlalu keras." Kata Mas Aska pada bunda.
"Iya bun, bener apa kata menantu bunda." Sambungku.
"Ndak keras, bunda justru seneng, anggap aja hiburan." Itulah jawaban yang selalu bunda berikan padaku sebelumnya.
"O ya Debb, tadi ada kiriman bunga...."
"Bunga tabungan?" Selaku, sebelum Bunda keceplosan.
π₯π₯π₯
__ADS_1
Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataππ»π
Oh ya kak mau promo karya yang berjudul Terpaksa Terpaksa Menikahi Bos Mafia gak kalah seruh juga loh kak ceritanya..