Aku Bukan Rahim Cadangan

Aku Bukan Rahim Cadangan
Ruang VVIP


__ADS_3

Aku bukan Rahim Cadangan


Part 101


"O... Karena hari Minggu nggak ada dokter?" Tanyaku.


"Ya... Anggap saja seperti itu."


"Lalu Bunda? Kalau sakit seperti ini saya maunya sama Bunda dok, Saya minta tolong hubungi Bunda saya bisa?" Pintaku.


"Jangan manja gitu Debby, Bunda sudah menitipkan kamu pada saya, tadi Bunda sudah di sini, tapi masih harus ada urusan di panti." Jelasnya yang lebih cenderung mengomeli ku daripada merawatku. Ku amati ruangan di sekitarku.


"Dokter." bisikku


"kenapa?"


"sini!" Ku lambaikan tanganku, agar dokter Teddy mendekat padaku.


"Kenapa?" Tanyanya mendekatkan telinga ke arahku.


"Kenapa harus di ruangan VVIP? jatah kamar saya nggak disini. Nanti Bunda bisa nombok banyak kalau aku disini."

__ADS_1


"Astaga Debby, saya kira kenapa. Kenapa dari dulu selalu uang yang ada di otak kamu? nggak pernah berubah!"


"Bukannya dokter yang selalu bilang harus berpikir secara logika? secara logika, saya keberatan kalau harus di dirawat di ruangan ini." jelasku.


"Profesor yang memberi kebijakan khusus untuk kamu, karena kamu kecelakaan saat jam kerja." jelasnya.


"Terimakasih..." Ucapku, sekesal dan sekecewanya aku pada dokter Teddy, aku harus tetap berterimakasih atas apa yang sudah dia lakukan padaku. Bahkan ia lah yang berusaha menenangkan ibu- ibu tadi dan dia jugalah yang membawaku dalam dekapannya saat aku benar- benar dihantui rasa takut dan kesakitan. Perlakuannya padaku tadi mengingatkan ku pada sikapnya satu tahun yang lalu terhadapku, yang selalu menjadi pelindungku disaat aku sedang ditimpa musibah.


"Debby, apa kamu punya musuh?" Tanyanya membuyarkan lamunanku.


"Musuh? Maksudnya?"


"Apa Vannia pernah mengganggumu, selama saya ada diUSA satu tahun belakangan?" Tanyanya, dia bahkan masih mengingat Vannia?


"Vannia? Nggak dok, sejak di pesta itu saya nggak pernah bertemu denganya lagi." Jawabku.


"Nggak pernah ketemu, bukan berarti nggak ada yang terjadi sama kamu kan?" Tanyanya lagi, aku masih tidak mengerti dengan apa yang di katakan dokter Teddy, apa mungkin saat ini dia mencurigai Vannia atas apa yang aku alami?


Tok... Tok... Tok, terdengar suara pintu kamar di ketuk.


"Perawat mengantarkan obat." kata dokter Teddy.

__ADS_1


"Masuk!" seru dokter Teddy.


Pintu dibuka dan dua orang ada di sana, dua orang yang sangat tidak ingin aku temui, Mas Doni dan Mbak Linda yang terlihat duduk di kursi roda masuk ke ruangan ku.


"Berhenti!" Seruku setengah berteriak.


"Debby jangan teriak- teriak." dokter Teddy terkejut dengan suaraku dan ikut menoleh ke arah pintu.


Apa yang aku takutkan akhirnya terjadi, Mas Doni menemuiku lagi dan yang membuatku tak habis fikir, mbak Linda pun ikut datang bersamanya. Aku takut, luka yang sudah ku kubur dalam- dalam akan muncul ke permukaan dengan kedatangan mereka berdua, sebelum hal itu terjadi, aku harus mencegahnya.


"Dokter, biasakan mengunci ruangan ini." Kataku.


"Dokter!" Sentakku saat ku lihat dokter Teddy termangu melihat ke arah pintu, sepertinya dia sama terkejutnya sepertiku.


"Oh, iya." Dokter Teddy berjalan ke arah pintu.


"Tunggu Deb, biarkan mbak bicara." Kata Mbak Linda dengan wajah penuh harap namu tak sedikitpun menggoyahkan niatku untuk mengusirnya dari hadapanku.


πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€


Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataπŸ™πŸ»πŸ˜Š

__ADS_1


__ADS_2