Aku Bukan Rahim Cadangan

Aku Bukan Rahim Cadangan
Kepergian suami


__ADS_3

Aku bukan Rahim Cadangan


Part 144


"Kenapa kamu nangis? Apa kata- kata saya menyakitimu perasaan mu Deb?" Ku hapus airmatanya dengan lembut.


Lagi- lagi dia menggelengkan kepalanya.


"Lalu?"


"Maaf, Aku sudah membuatmu kecewa." Ucapnya namun tangisnya justru semakin pecah.


"Sssttt... Jangan keras- keras nangisnya, kalau kedengeran bunda nggak enak sayang." Ku bawa Debby dalam dekapanku agar suara isakanya tak terdengar oleh bunda yang masih terjaga di dapur.


"Tapi aku sudah keterlaluan, Bahkan aku bergandengan tangan dengan pria lain yang bukan suamiku di pelaminan saat pernikahan Mbak Lidia." Katanya masih dengan isakannya.

__ADS_1


"Nggak, siapa bilang kamu bikin saya kecewa Deb. Semua karena keadaan. Saya memakluminya." Jawabku.


Lama aku membujuk Debby untuk menghentikan tangisannya, tapi tidak semudah itu membujuknya. Perasaannya yang lembut dan selalu memikirkan perasaan orang lain membuatnya mudah menangis dan sulit menenangkannya, mungkin bunda lebih pandai dalam masalah ini. Tapi aku juga harus mulai mempelajarinya.


"Sayang..." Ku panggil Debby setelah tak lagi terdengar suara tangisannya.


"Tidur kamu?" Lirihku. Aku tersenyum, satu lagi sifat Debby yang begitu lucu, membuatku semakin gemas dan semakin mencintainya. Tertidur setelah lelah menangis dan sesekali terdengar isakan dalam tidurnya, seperti bayi yang masih polos. Ku tarik selimut dan ku dekap erat tubuh istriku karena besok aku sudah tak bisa lagi memeluknya. Ku pejamkan mataku, menunggu hari esok tiba, hari dimana perpisahan kami akan kembali dimulai.


POV Debby


Ku tatap wajahku didepan cermin, ku lihat tanda kepemilikan di leherku masih terlihat begitu jelas disana. "Kenapa baru sadar? Memalukan sekali." Gumamku.


Ku lupakan masalah tanda cinta itu, itu adalah hak suamiku, aku tak bisa memarahinya. Ku tatap lekat- lekat wajahku. Teringat perkataan suamiku yang lembut namun menyiratkan makna begitu dalam.


"Bismillah". Ku mantapkan hati untuk menutup aurat ku, Ku ambil hijab pemberian Dari bunda dan donatur Panti yang selama ini hanya ku simpan dengan rapi di dalam lemari pakaian ku. Jika Bu Widia yang baru bertemu dengan Bunda sekitar satu bulan yang lalu saja mampu merubah penampilannya menjadi anggun dan menutup rapat auratnya, kenapa aku yang dari kecil di asuh dan dibesarkan oleh Bunda justru mengabaikan hal itu dan menganggap remeh meski berkali- kali Bunda sering mengingatkanku untuk menutup auratku. Kenapa harus menunggu suamiku dulu untuk membuka lebar- lebar mataku tentang kewajiban ku sebagai muslim.

__ADS_1


Bagai di tampar ribuan kali saat aku mendengar kata- kata kiasan itu dari mulut suamiku sendiri. Malu, sesal bercampur jadi satu malam tadi.


🌸🌸🌸


Aku bersiap-siap untuk pergi ke Rumah Sakit pagi ini, Kebetulan aku mendapatkan shift pagi hari ini. Ku buka pintu kamarku kalau mencari-cari keberadaan Bunda, untuk menanyakan penampilan batuku saat ini.


"Bunda..." Panggilku.


"Iya nduk Bunda ada di depan." Jawab Bunda. Aku pun segera menuju ruang tamu.


πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€


Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataπŸ™πŸ»πŸ˜Š


Oh ya kak mau promo karya yang berjudul Terpaksa Terpaksa Menikahi Bos Mafia gak kalah seruh juga loh kak ceritanya..

__ADS_1


__ADS_2