Aku Bukan Rahim Cadangan

Aku Bukan Rahim Cadangan
Penampilan


__ADS_3

Aku bukan Rahim Cadangan


Part 145


"Ada tamu" Gumamku, Ku hentikan langkahku, saat Ku lihat Tante Widia dan Bunda sedang duduk bersama di ruang tamu, sambil menikmati secangkir teh hangat.


Mereka menoleh, menyadari kedatanganku.


"Debby? Kamu? Subhanallah cantiknya anak Bunda." Kata Bunda begitu melihat penampilan baruku.


"Bunda, jangan menggodaku gitu dong, Debby jadi malu." Jawabku tersipu.


"Ayo duduk sini dulu Deb." Seru Tante Widia seraya tersenyum lembut padaku. Aku pun mengikuti seruannya. Masih ada waktu beberapa menit untuk sekedar mengobrol dengan mereka sebelum berangkat.


"Masih naik motor berangkatnya Deb?" Tanya Tante Widia setelah aku duduk di depannya.


"Iya Tante."


"Apa Teddy... Maksud Tante kenapa nggak naik taksi, minimal saat shift malam?"


"Saya sudah biasa kok Tante dari dulu naik motor."

__ADS_1


"Permisi... Mbak Debby, Ada kiriman bunga." Sela Kurir bunga di tengah perbincangan kami bertiga. Aku pun bergegas menemuinya." Sebentar Tante" Pamitku pada Tante Widia.


"Maaf Mas, saya tidak bisa menerima kiriman tanpa nama. Mas tolong kembalikan saja pada pengirimnya." Tolakku.


"Tapi bunga ini sudah di bayar lunas mbak."


"Kalau gitu buang saja Mas. Besok jangan datang- datang kesini lagi ya" Usirku. Dia pun pergi dengan membawa serta bunga lili yang sudah di rangkai indah.


"Debby... Kenapa? Jangan marah- marah gitu, kasihan sama kurirnya. Lagi pula bukannya itu dari dok..." Tanya Bunda, aku kembali duduk bersama mereka.


"Bukan, bukan dia Bunda." Selaku sebelum Bunda menyebut nama dokter Teddy di depan Tante Widia yang sedari tadi mendengarkan perdebatanku dengan kurir bunga itu.


"Nggak papa Deb, memangnya bunga dari siapa? Kenapa ditolak."


"Ya karena Debby nggak tau dari siapa makanya Debby tolak aja." Jawabku.


Di tengah perbincangan hangat kami, ada lagi yang datang mengejutkanku pagi ini. Terlihat mobil yang sudah tak asing lagi bagiku berhenti di depan panti. Mobil Pajero sport yang biasanya bersisian dengan sepeda motor ku satu tahun lalu. Sudah bisa dipastikan siapa yang bertamu.


"Sabar..." Gumamku, Ku hela napas panjang, dengan kedatangan mereka itu berarti masalah akan datang juga.


"Assalamualaikum."

__ADS_1


"Waalaikumsalam."


Sangat mengejutkan saat ku sadari bukan Mas Doni atau mbak Linda yang datang, melainkan papa dan mama mas Doni . Berbagai macam pertanyaan bergelayut di otakku, Apa yang mereka lakukan di panti ini setelah sekian lama tidak mengunjungi panti ini? Apa mereka sudah tau tentang apa yang dilakukan mbak Linda terhadap panti ini?


"Silahkan masuk, Pak, Bu..." Kata Bunda, mereka pun segera masuk, mengikuti kata Bunda.


"Nyonya Atmajaya?" Sapa Mama mas Doni pada Bu Widia. Ternyata mereka saling mengenal. Aku dan Bunda sangat terkejut.


"Kenapa sempit sekali dunia ini?" Gerutuku.


"Eh mamanya nak Doni rupanya." Kata Tante Widia beranjak dari tempat duduknya. Mereka pun saling berjabat tangan dan memeluk.


"Oh sudah kenal rupanya?" Tanya bunda.


"Kebetulan, nyonya Atmajaya ini teman arisan saya sekaligus rekan bisnis suami saya. Kami sudah lama tidak bertemu, iya kan Jeng?" Jawab mantan mertuaku.


πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€


Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataπŸ™πŸ»πŸ˜Š


Oh ya kak mau promo karya yang berjudul Terpaksa Terpaksa Menikahi Bos Mafia gak kalah seruh juga loh kak ceritanya..

__ADS_1


__ADS_2