
Aku Bukan Rahim Cadangan
Part 41
POV Debby
Aku bergegas ke kamar mandi membersihkan tanganku dari tanda tangan dokter Teddy. Aku benar- benar kesal dengannya. Bukan karena noda permanen di tanganku, tapi karena gagal mendapat tanda tangan Vannia yang tinggal satu langkah lagi aku dapatkan. Aku sangat mengidolakan Vannia. Bagiku Vannia adalah wanita yang sangat luar biasa, di usianya yang masih terbilang muda sudah meraih kesuksesan menjadi seorang top model terkenal, sungguh sangat membanggakan.
Aku segera menemui mbak Lidia setelah pekerjaanku selesai, sebelumnya dia sudah menghubungiku bahwa pulang kerja kita akan ke tempat penyewaan pakaian, untuk dipakai pada saat pesta Ulang tahun Pak Direktur.
Aku dan yang lainnya segera memilih dress sesuai selera masing- masing.
"Deb, bagus juga pilihanmu!" Kata Mbak Lidia saat melihat ku mencoba dress coklat.
"Bagus? Kira- kira mahal nggak y mbak?" Bisik ku.
"Kalau beli ya pasti mahallah, kalau sewa nggak lah mungkin." Jawab mbak Lidia yang mendekatkan bibirnya ke telingaku.
Setelah ku pastikan cocok dan harganya pas di kantongku, akhirnya aku putuskan pilihanku pada dress coklat selutut dengan hiasan mutiara di bagian dada. Ku kuncir rambut yang sudah ku Curly sebelumnya dan ku pakai hiasan rambut dari mutiara imitasi yang selaras dengan bajuku. Kalau masalah make up tentu saja mbak Lidia yang jago mendandaniku, sebelumnya aku sudah pesan kalau make up tak mau terlalu tebal agar tidak terlihat tua dilihat. Setelah semua sudah siap, tak lupa kami berfoto dulu sebelum berangkat pisss... cekrek...!
Aku berangkat bersama Mbak Lidia, karena yang lain lebih memilih pulang dulu dan berangkat bersama pasangan mereka masing- masing. Pak Direktur berharap acara ini bisa menjadi acara untuk Family time para karyawannya. Kalau aku sih, tentu masih setia berpasangan dengan mbak Lidia karen mbak Lidia bilang tunangannya lagi piket malam hari ini.
Pukul sudah menunjuk setengah 7 malam kami sampai tepat di depan gedung pesta. Saat mbak Lidia memarkirkan kendaraannya, tiba- tiba ada seorang laki- laki menghampiri kami.
"Deb" kata mbak Lidia yg cengengesan, perasaanku mulai aneh.
"Kenapa mbak? Ayo turun!" Kataku memegang gagang pintu mobil.
__ADS_1
"Sebelumnya mbak minta maaf ni ya Deb, tanpa mengurangi rasa hormat. Kamu lihat cowok cepak di luar itu?" Tangan mbak Lidia menunjuk ke arah laki- laki yang menghampiri mobil kami.
"Iya, yang itu kan? Yang dari tadi di depan kita?" Tanyaku menunjuk ke arah pria cepak dengan baju batik yang warnanya selaras dengan dress mbak Lidia.
"Itu, tunangannya Mbak!" jawab mbak Lidia.
"Apa? Jadi mbak kesini sama calonnya mbak? Bukannya tadi janji mau berdua aja sama aku?"
"tadinya sih gitu Deb, tapi ternyata calonnya mbak milih tukar piket sama temennya, biar bisa nemenin mbak kesini." Jawabnya, aku cemberut mendengar jawaban mbak Lidia.
"Kan lebih enak bertiga Deb hehehe!" Sambungnya menghiburku.
"Mbak mau aku jadi obat nyamuk maksudnya?" Gerutuku.
"Udah ayo keluar, mbak kenalin sama pangeran mbak, buruan!" Ajak mbak Lidia yang menggandeng tanganku menghampiri tunangannya.
"Sayang..." Sapanya lalu memeluk laki- laki itu. Lagi- lagi aku harus mengelus dada karena sampai segede gini dan meski tingkatan ku lebih tinggi dari mbak Lidia, yaitu janda aku belum pernah di perlakukan romantis dan semanis itu.
"Sayang ini kenalin, Debby, adek angkatku yang suka aku ceritakan itu." Kata mbak Lidia yang memperkenalkan ku.
"Kapan mbak ngangkat aku jadi adek ya?" Tanyaku masih dengan mode cemberutku.
"Masih mending ada yang mau ngangkat kamu jadi Adek, dari kecil juga kamu nggak laku- laku kan di panti? nggak ada yang mengadopsimu?"
"ih... Mbak Lidia, teganya!"
"Becanda..."
__ADS_1
"Debby..." Ku ulurkan tanganku pada tunangan mbak Lidia, dia pun menyambutnya.
"Radit." Dia terlihat lebih pendiam jika dibanding mbak Lidia.
Kami pun segera menuju gedung, mbak Lidia dan mas Radit berjalan di depanku dan aku jalan di belakang mengekori mereka, benar- benar menyedihkan.
Rasa menyedihkan ku bertambah lagi saat ku lihat mobil Pajero sport milik mas Doni melewatiku dan parkir tepat di depan gedung pesta. Ya Mas Doni dan Mbak Linda turun dari mobil dengan jas hitam dan dress hitam yang senada. Entah hari apa yang ku temui kali ini, bagaimana bisa aku mengalami hal menyedihkan yang bertubi- tubi seperti ini.
"Mbak aku ke toilet dulu ya!"
"Oh... ,Sayang kita anter Debby dulu ya."
"Mbak, nggak usah dianter, aku tau tempatnya, mbak duluan aja ntar kalo uda selesai aku segera nyusul mbak!"
"Ntar kamu hilang gimana ngomongnya sama bunda nanti?"
"Mbak, aku bukan anak kecil lagi."
"Ya udah lah, cepetan jangan lama- lama, mbak masuk dulu."
Mbak Lidia dan mas Radit akhirnya meninggalkanku didepan. Aku duduk termangu di kursi panjang yang tersedia di taman gedung. Pergi ke toilet hanyalah alasanku, untuk menghilangkan rasa debaran dadaku setelah melihat mas Doni dan Mbak Linda yang menghadiri pesta ulang tahun direktur Antonius juga. Sudah hampir satu jam aku duduk dan terdiam sendiri di tempat itu, bimbang antara dua hal, harus masuk dan pasti bertemu dengan dua orang yang bisa saja akan menabur garam di lukaku yang masih menganga atau pergi sebagai seorang pengecut? Tapi jujur rasanya aku belum sanggup jika harus bertemu dengan mbak Linda dan Mas Doni. Ku putuskan untuk tidak menghadiri acara dan bergegas keluar gerbang hotel.
Saat aku hendak memesan taksi, mbak Lidia lebih dulu menghubungiku.
"Halo, Debby, kamu kemana aja? ayo buruan masuk. Disini ada Vannia Adijaya juga, kamu nggak mau ketemu?" Kata mbak Lidia mengiming- imingiku, aku pun berpikir kembali.
π₯π₯π₯
__ADS_1
Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataππ»π