
"Oh iya, Silahkan masuk Tante." Aku memberi jalan untuk wanita yang belum ku ketahui siapa namanya ini dengan sedikit melangkah minggir dari depan pintu, ku persilahkan ia masuk terlebih dahulu dan aku mengekorinya.
"Silahkan duduk tante." Kataku, mempersilahkankan wanita itu untuk dufuk di sofa tamu yang ada di apartemen, sofa tamu diapartemen termasuk minimalis jadi kami duduk bersisian.
"Siapa nama kamu?" Tanyanya padaku dengan nada yang begitu lugas.
"Debby tante." Jawabku, perasaanku begitu campur aduk sekarang, ku mainkan ujung bajuku untuk mengurangi ketegangan ku dihadapan wanita itu.
"Apa agamamu?" Tanyanya yang membuatku tadinya tertunduk menjadi mendongak dan menatapnya.
"Islam Tante." Jawabku singkat.
"Kalau kamu Islam, kenapa tinggal dengan laki- laki yang bukan mahrom mu?" Deg... Pertanyaannya menjadi tamparan keras bagiku.
__ADS_1
"S_saya, sebenernya saya nggak mau tinggal di sini Tante. Saya tau kalau ini salah. Tapi, dokter Teddy bilang akan memecat saya kalau nggak mau nurut sama dia." Jelasku dengan airmata yang tak lagi bisa ku tahan, dan didalam batinku hanya bisa meminta maaf pada dokter Teddy karena terpaksa harus mengatakan semua ini pada Bu Widia. Ya, setelah pertengkaran ku dengan dokter Teddy semalam yang dikarenakan rasa kasihan dan iba dokter Teddy, sekarang kehormatan ku sebagai perempuan pun dipertanyakan, sungguh benar- benar malang nasibku.
"Eh... Sudah- sudah jangan nangis gitu dong, Teddy itu memang sungguh keterlaluan!"
"Tante, tapi beneran tidak terjadi apa- apa kok antara dokter Teddy dan saya, saya tidurnya di kamar, dokter tidur di sofa. Saya juga kunci pintu rapat- rapat." Jelasku sambil terisak.
"Iya- iya Tante percaya sama kamu."Jawabnya seraya tangan mengusap punggungku dengan lembut, membuatku sedikit lega, sepertinya dia adalah orang baik.
"Ngomong- ngomong Tante ini siapa? Sepertinya saya sering lihat tante? Apa benar Tante itu istri Pak Atmajaya?" Tanyaku yang merasa familiar dengan wajahnya. Dia mengangguk Pelan. Aku semakin panik, istri Pak Atmajaya berarti menantu profesor adijaya, direktur utama ditempat ku bekerja, Benar- benar apes aku kalau hal ini sampai ke telinga direktur.
"Tante, Saya mohon... Hal ini jangan sampai pada pak Direktur, saya sangat butuh pekerjaan Tante." Kataku yang sembari memelas kepadanya, ia tersenyum tipis tak menolak tapi juga tak meng iyakan permintaanku. Aku juga tak bisa memaksa.
"Kalau gitu saya buatin minum dulu, Tante tunggu sebentar ya." Ku hapus airmata ku lalu pergi ke dapur membuatkan teh untuk Tante Widia.
__ADS_1
POV Teddy
"Masa Iddah Ma? Darimana mama tau kalau Debby sudah bercerai?"
"Kamu nggak perlu tau mama tau darimana, justru Mama yang harus tau. Apa kamu ada hubungannya dengan perceraian Debby? Jawab pertanyaan Mama dengan jujur Teddy!" Tanya Mama dengan penuh emosi.
"Pelankan suara Mama Ma, Nggak enak kalau Debby sampai mendengar percakapan ini." Kataku setengah berbisik.
"Jawab Mama Teddy!" Tegas Mama, kali ini suara Mama lebih rendah, tapi penuh penekanan.
"Demi Allah Ma, Teddy nggak ada hubungan dengan perceraian Debby dan suaminya. Teddy nggak seburuk itu!" Jawabku.
"Lantas apa yang kamu lakukan? Apakah kamu sudah g*la? Tinggal satu atap dengan wanita yang bukan istri kamu? Bahkan Debby bilang kamu yang menahannya untuk tinggal disini! Kamu benar- benar sudah membuat Mama kecewa padamu Teddy!"
__ADS_1
π₯π₯π₯
Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataππ»π