Aku Bukan Rahim Cadangan

Aku Bukan Rahim Cadangan
Berpesta BBQ ber2


__ADS_3

Aku Bukan Rahim Cadangan


Part 52


"Daging slice ala-ala Korea gitu dok?" Tanyanya dengan antusias. Sedikit banyak aku memang tau apa kesukaan Debby.


"Iya, mau nggak?" Tanyaku lagi, Debby menganggukkan kepalanya cepat.


Kami pun berpesta barbeque bersama di dapur mini. Debby terlihat sangat begitu bahagia, rasanya melihat senyuman Debby kembali membuatku sedikit tenang. Ia sibuk memotret makanan dan dirinya sendiri. Di tengah kesibukan itu ku ambil beberapa foto Debby tanpa sepengetahuannya.


"Udah malem, Jangan foto-foto terus, makan!" Kataku, ku ambil dan ku letakkan ponsel Debby di atas meja.


Debby pun segera menyantap hidangan yang masih mengepul di hadapannya dengan sangat lahap.


"Dokter nggak makan?"


"Saya nggak laper."


"Saya perhatikan dokter jarang makan ya. Buakanya tadi di pesta juga nggak makan apa- apakan?" Tanyanya dengan garpu yang masih menempel di bibirnya.

__ADS_1


"Terlalu banyak makan membuat kita lebih cepat mengantuk, mengantuk bisa mengurangi kinerja otak!"


"Apa dokter sedang menyindirku yang makanya sangat banyak?" Gumam Debby yang membuatku harus menahan tawa.


"Kenapa tiba- tiba perut saya kenyang ya dok?"


"Hahaha... ya uda saya temani makan habiskan makannya, nanti mubazir kalau nggak dihabisin!" Ku ambil sumpit dan ikut menikmati makanan kesukaan debby itu.


Drrrrt... Di tengah makan malam ku dengan Debby, ponsel Debby bergetar tak sengaja ku lihat nama Doni tertulis disana. Debby lebih memilih untuk mematikan panggilan itu. Wajahnya pun terlihat kesal.


"Kenapa dimatikan Deb?"


"Nggak penting dok." Jawabnya yang meletakkan kembali ponselnya di atas meja dan melanjutkan makannya.


"Halo!" Jawabku, Debby nampak begitu panik dan mencoba mengambil kembali ponselnya dariku tapi aku menghindari tangan Debby.


"Halo." Suara yang tak asing menjawab.


"Mana Debby, saya mau bicara denganya!"

__ADS_1


"Ini siapa ya?" Tanyaku balik.


"Suaminya!" Deg... Jawaban yang sukses membuat darahku memuncak.


"Oh mantan maksudnya?"


"Belum ada surat cerai dari pengadilan turun, jadi jangan terlalu banyak berharap untuk mendapatkan Debby!" Jawabnya yang membuatku semakin kesal.


"Debby sudah tidur, jangan mengganggunya. Harusnya anda Lebih sopan kalau mau menghubungi orang. Jangan terlalu malam kamu tahu sekarang adalah jam istirahat!" Jawabku, lalu ku matikan panggilan dari Doni sekaligus ku non aktifkan ponsel Debby. ku lempar kasar ke atas meja. Ku lihat Debby yang berdiri di sampingku sedang meringis menahan rasa sakit.


"Kenapa kamu Deb?" Tanyaku yang khawatir dengan keadaanya, yang ada di benakku sekarang Debby sedang tidak sehat.


"In....i dok... Tangan dokter terlalu kuat!" Jawabnya yang menunjuk dan melihat ke arah tangannya dan benar saja tanganku masih mencengkeram pergelangan tangan Debby. Segera ku lepas dan ku lihat pergelangan tangan Debby yang sudah tampak memerah karenaku. kekesalan ku pada Doni membuatku tak sadar telah menyakiti tangan Debby yang mencoba mengambil ponselnya dari tanganku tadi.


"Astaga Deb, sorry ... sorry.. Deb Saya nggak sengaja." Ku periksa dan kutiupi tangan Debby.


"Udah dibilang jangan diangkat, malah diangkat juga."


"Maafkan aku sayang." ^^

__ADS_1


πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€


Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataπŸ™πŸ»πŸ˜Š


__ADS_2