
Aku bukan rahim cadangan
Di dalam mobil pun Debby kembali diam, pandanganya pun hanya lurus ke depan tak menoleh atau meliriku sama sekali. Aku mengamatinya diam-diam, seperti Debby yang tak ku kenal, Yang sedang duduk di samping ku ini.
"Jangan lupa kebengkel dulu." katanya mengingatkan ku tanpa menoleh ku sedikit pun.
"Ya..." yang hanya bisa aku lakukan saat ini hanyalah menurutinya. Ingin sekali rasanya untuk bertanya padanya namun aku tak mau mengusik hal yang mungkin sangat sensitif baginya. Jika aku membahas masalah ini terlebih dahulu itu akan lebih melukainya. Maka dari itu ku ikuti keinginanya, ku arahkan mobil ke bengkel yang ia maksud.
Pertanyaan pun tak luput dari fikiran ku saat ini. Apa karena permintaan ku semalam sehingga dia lebih memilih untuk bungkam. Rasa sesal pun datang karena sudah memintanya untuk tidak membahas masalah status lagi dengan ku.
"Bengkelnya yang ada di depan itu." sambungnya seraya menunjukan ke arah plang yang bertuliskan bengkel mobil dan motor.
ku hentikan mobil tepat didepan bengkel yang ia tunjukan. Dia meraih tanganku lalu mengecupnya. "Kamu bisa pulang duluan, nanti aku bisa pulang sendiri dengan motor ku. Assalamualaikum." tutupnya yang seolah tak ingin di bantah, bahkan dia keluar dari dalam mobil sebelum aku menjawabnya.
aku pun turun dari mobil, ku ikuti langkahnya masuk ke dalam bengkel setelah selang beberapa menit ia masuk kedalam bengkel itu.
"Eh mbak Debby." sapa seorang laki-laki paruh baya dengan seragam bengkelnya pada Debby, sepertinya mereka sudah saling mengenal.
"Pak, apa motornya sudah jadi?" tanya Debby
"Sudah dong mbak, setelah mbak Debby telepon saya kemarin langsung cus mengerjakanya finisingnya, lagian sebagian sudah saya kerjakan sebelumnya. Jawab laki-laki itu pada Debby.
"Kesininya sama pacar ya mbak?" tanyanya, sepertinya dia melihat kedatangan ku bersama Debby.
__ADS_1
"Pacar?"
"Iya tuh."
Debby pun menoleh ke arah yang di isyaratkan oleh laki-laki itu.
"Loh mas, ngapain kok belum pulang juga?" tanya Debby saat berbalik menoleh ke arah ku dan mendekati ku.
"Udah pulang aja sana, nanti kamu telat mas." Usirnya
"Saya mau nemeni kamu Deb, di bengkel banyak Laki-laki, setidaknya kita bisa pulang bareng dulu." kata ku padanya
"Ya udah, aku ambil dulu bentar."
Ia lalu berlari menuju ke kasir, dengan cepat ia pun mengeluarkan uang yang ada di dompetnya, sambil sesekali melempar senyumnya ke arah ku. "Pacarnya mbak Debby ya mas?" sapa lelaki yang. Ku lihat bersama Debby tadi.
"Apa, suami?" dia terlihat sangat begitu kaget.
"Iya pak, saya suaminya Debby.". Tegas ku, lalu ku ulurkan tangan ku ke arahnya, "Perkenalkan saya Teddy."
"Aduh tangan saya kotor mas, nama saya Ucok." ucapnya menolak uluran tangan ku.
"Sudah lama kenal sama Debby?"
__ADS_1
"Sudah, sejak dia Masih SMA suka kesini jika motornya sedang rewel."
"tadi pagi-pagi sekali dia menghubungi saya, mau motornya jadi sekarang juga."
Deg...
Dia membohongi ku lagi untuk menutupi sakitnya.
"Bukanya bapak tadi yang menghubunginya?"
"Nggak kok, dia bilang kemarin suruh santai, ya saya santai aja. Eh pagi-pagi dia telepon, dan saya harus datang kesini karena mau tidak mau pagi ini harus selesai motornya." Jelas pak Ucok.
Fikiran ku kembali berkecamuk, ku ambil handpone dan ku kirim pesan singkat. Ku rasa aku membutuhkan papa saat ini.
(Papa sedang dimana sekarang?)
(Papa sekarang di rumah sakit) balasan yang membuatku tercengan. Rupanya papa sudah menunggu sejak tadi disana.
"Debby, apa kamu sudah selesai sayang?" tanyaku setengah berteriak, Debby segera datang dengan sedikit berlari.
"Masih kurang uangnya mas, disini nggak ada mesin gesek." jawabnya
π₯π₯π₯
__ADS_1
Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataππ»π
Oh ya kak mau promo karya yang berjudul Terpaksa menikahi bos mafia gak kalah seruh juga loh kak ceritanya..