Aku Bukan Rahim Cadangan

Aku Bukan Rahim Cadangan
Membuat malu


__ADS_3

Aku bukqn rahim cadangan


Part 183


Entah kenapa suasana di dalam sini begitu mencekam bagiku, aku tak tau penyebabnya, apa karena aku takut dengan perasaanku sendiri atau karena wajahnya saat ini memang sangat menakutkan. Yang pasti yang ku rasakan saat ini adalah seolah dia bukan teman tidurku, melainkan seekor singa yang siap menerkamku karena perlakuan khusus kami untuk Mas Doni semalam. "Gara- gara Alex ini" Batinku mengumpat.


"Kenapa masih disana?" Katanya membentangkan tangannya.


Aku pun terperangah "Hah? Bukannya tadi mau memarahiku?" Tanyaku bingung.


"Apa? Apa kamu melakukan sesuatu tadi malam?" Tanyanya, aku pun tersenyum lega, tandanya dia tidak mengetahui kejadian semalam.


Aku tak bisa lagi berkata- kata, betapa senang dan leganya aku. Dengan wajah berbinar Aku berlari dan menghambur ke pelukan lelaki pemilik hatiku.


Dia menyambutku, memelukku, satu- satunya pelukan yang mampu menghadirkan rasa nyaman dan aman selain pelukan Bunda.


"Kenapa menakuti aku?" Gumamku dalam dekapannya.

__ADS_1


"Apa kamu takut dengan suamimu sendiri?" Tanyanya, aku pun mendongak, tingginya yang lumayan jauh di atasku membuatku harus mendongak keatas saat aku ingin berbicara padanya, terutama berbicara saat berada dalam pelukannya.


"Kamu membuat aku malu di depan mereka semua tadi,"


"O ya? Maaf, bukannya kode tadi artinya saya harus akting dengan bagus? Dan apa yang saya lakukan bukannya sudah benar? Lihat baju kamu?" Katanya masih menatapku dan memelukku.


"Tapi kenapa menyangkut masalah pelayanan segala? Kalau kamu ngomong seperti itu yang ada mereka pikir kerja ku nggak bagus Mas." Keluhku.


"Kamu sendiri juga yang membuatku nggak ada waktu memikirkan masalah baju. Lagian kenapa nggak bilang kalau mau jadi pengganti profesor? Bukannya kemarin bilang masih menganggur? Kamu hampir saja membuat jantungku keluar dari tempatnya tau nggak sih!" Cecarku.


"Apa?"


"Saya itu sedang berjuang memberi nafkah untuk istri saya, nggak lucu kalau saya harus dinafkahi sama istri saya yang nggak mau beliin sabun sesuai selera saya dan buah sesuai selera saya, bisa kurus nanti saya." Candanya,


"Apakah kamu baru saja menghinaku? aku belum gajian kemarin." Jawabku, dia tersenyum, entah kenapa akhir- akhir ini dia lebih sering tersenyum padaku, senyum yang mampu membunuh setiap orang yang melihatnya.


"Kamu mau denger yang ketiga nggak?"

__ADS_1


"Apa?"


"Yang ketiga... Pelayananmu terhadap suamimu yang baru datang dari tempat yang jauh sangat mengecewakan Debby." Bisiknya, Ku telan salivaku mendengar apa yang dia bahas, meski sudah beberapa kali melakukannya tapi tetap saja aku merasa tegang dan berkeringat saat mendengarnya membahas hal seperti itu.


Dan tanpa permisi dia menc*um bibirku.


"Kontrol dirimu Mas! Aku bahkan belum mandi,!" Kataku setelah dia melepaskan ci*mannya.


"Bagaimana kalau saya nggak bisa mengontrolnya?"


"Jangan disini, ini Rumah sakit mas" Lirihku, dia tak mengindahkan dan kembali melakukanya, ku pejamkan mataku, aku tak bisa lagi menolaknya karena sejujurnya aku juga sangat merindukan segala sesuatu yang ada pada dirinya.


πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€


Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataπŸ™πŸ»πŸ˜Š


Oh ya kak mau promo karya yang berjudul Terpaksa Terpaksa menikahi bos mafia gak kalah seruh juga loh kak ceritanya..

__ADS_1


__ADS_2