Aku Bukan Rahim Cadangan

Aku Bukan Rahim Cadangan
Doa


__ADS_3

Aku bukan rahim cadangan


Mas Aska melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi sambil sesekali memperhatikan ke arah ponselnya. Hati ku sungguh tak karuan saat ini, yang dipikiranku saat ini hanya memikirkan keadaan Aldo dan Bunda. Tak bisa ku bayangkan betapa repotnya bunda yang sudah tidak muda lagi menggurus semuanya hanya seorang diri. Rasa bersalahku semakin besar ketika aku tak disampingnya saat hal buruk terjadi pada salah satu adikku. Tak terasa air mata ku pun tak henti-hentinya membasahi pipi.


"Udah dong Deb nangisnya. Percayalah Ded, Aldo anak yang kuat pasti dia akan baik-baik saja." Ucapnya yang meyakinkanku


"Iya, tapi buruan mas aku uda nggak sabar mau melihat keadaan Aldo dan Bunda."


"Ya ini juga uda ngebut Debby, bahaya kalau lebih ngebut dari ini."


Mobil berhenti tepat di depan ruang UGD, kecepatan yang sangat tinggi menyebabkan gesekan pada saat mobil akan berhenti. Lebih-lebih yang melakukan itu adalah mobil direktur rumah sakit. Apa yang mas Aska lakukan itu menarik banyak perhatian orang yang melihatnya. Aku pun tak peduli, ku buka pintu lalu berlari menuju ruang UGD.


Jika biasanya langkah ku bersemangat saat memasuki ruangan ini, berbeda dengan hari ini terasa sangat begitu berat untuk melangkah.


"Bunda..." seru ku berlari mendekati lalu memeluk bunda, lelah dan cemas, itu lah yang tergambar pada wajah bunda saat ini dan biasanya terlihat sangat teduh.

__ADS_1


Ku lihat Aldo terbaring tak berdaya dengan infus yang suda terpasang di tanganya, namun darahnya sudah terlihat dibersihkan. "Sabar ya Deb." seru Alex yang saat ini mendapatkan shift pagi.


"Aldo, adik mbak, ayo bangun Aldo."


"Debby" teriak Sinta dan mbak Lidia yang menghampiriku.


"Mbak, gimana ini mbak, Aldo nggak mau gerak." Ucapku ditengah isakan ku, bunda hanya bisa menahan air matanya, namun sepertinya gagal, air matanya tetap saja keluar walau bunda berusaha sekuat tenaga untuk menahanya.


"Mas... Aldo nggak mau gerak Mas!". Kata ku yang mengguncang tubuh suamiku yang sudah mengganti bajunya dengan seragam hijau, perasaanku mulai tak tenang, apa itu artinya luka Aldo parah dan harus segera dioperasi?


"Iya, nanti dulu ya, kita lihat dulu" katanya menuju ke ranjang Aldo.


"Dokter" teriak mas Aska


"Iya pak"

__ADS_1


"kenapa masih disini? Bukanya dokter bilang ditelepon tadi harus segera dioperasi."


Hening


"Saya yang bertanggung jawab! Saya kakaknya" serunya lalu menggambil berkas dan menandatangai surat persetujuan itu.


Semua mata tertuju pada mas Aska saat ini tentu saja mereka hanya bisa diam dengan seribu tanya yang ada pada benak mereka. Lalu aku? Saat ini aku tak bisa memikirkan hal lain selain Aldo.


"Kamu temeni Bunda saya akan ikut masuk untuk menemani Aldo." perintah mas Aska.


"Mas, berjanjilah padaku bahwa Aldo akan baik-baik saja" kataku dan dia menganggukan kepalanya pelan "Berdoalah" katanya sambil mengusap kepalaku lalu mengikuti Aldo masuk ke ruang operasi.


Lama kami menunggu proses operasi tanpa ada suara, hanya doalah yang terpanjat dalam hati kami.


πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€

__ADS_1


Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataπŸ™πŸ»πŸ˜Š


Oh ya kak mau promo karya yang berjudul Terpaksa Terpaksa menikahi bos mafia gak kalah seruh juga loh kak ceritanya..


__ADS_2