
Aku bukan rahim cadangan
Part 201
"Sebetulnya serasi, tapi kamu kurang beruntung. Bener- bener bahagia yang jadi istrinya. Udah dokter, tampan, pinter, dan ternyata anak Pak Atmajaya pula." Kata Mbak Lidia berangan- angan.
"Hah, ada yang lebih penting lagi Deb!" Kejut mbak Lidia.
"Apa mbak, mbak tau soal apa?"
"Kondanganku gimana dong Deb? Mana dia kondangan gede banget lagi." Keluhnya.
"Ya ampun mbak, kirain kenapa."
"Ehem... Ngerumpi jangan disini, banyak pasien lewat. Kalian menghalangi." Sela Mas Aska, kami pun terkejut, pandanganku tertuju pada Sinta dan Mbak Lidia yang terlihat memperhatikan Mas Aska tanpa berkedip.
"Pak, Bapak lehernya nya kenapa? Digigit serangga ya pak? Nih Pak, pake salep saya." Ceplos Sinta, mbak Lidia menyenggol lengan Sinta. Ku amati leher suamiku, ku tutup mulutku saat melihat tanda merah di lehernya, Aku tak menyangka bahwa ulahku semalam menimbulkan bekas disana.
"Ya ampun Bapak, sini deh Pak , saya pakein salepnya" Ku bawa Mas Aska yang terlihat masih bingung dengan ucapan Sinta menjauh dari tempat Sinta dan Mbak Lidia berdiri.
"Kenapa leher saya Deb?" Tanyanya dengan bingung.
"K_iss... Mark" Lirihku terbata.
"Apa?"Sentaknya.
__ADS_1
"Pelankan suaramu Mas, pake!" Ku oles salep warna putih dari sinta agar terlihat seolah digigit serangga.
"Ganas juga kamu Deb. Kenapa nggak bilang waktu masih di rumah?" Gumamnya.
"Aku nggak salah lihat, kamu nggak ngaca apa?"
"Nggak sempet."
"Bukannya kalau pake dasi ngaca?" Ocehku terus menyalahkannya.
"Kamu nggak lihat nggak ada dasi di leher saya? nih dasinya belum kepake" katanya menunjukkan dasi yang baru ia keluarkan dari saku.
"Aduh kenapa konslet."
"Nggak usah bahas semalam."
"Debby... Apa yang kamu lakukan!" Teriak Suster Desi, membuatku benar- benar terkejut dan menjatuhkan salepku.
"Eh Suster Desi, pagi Suster." Sapaku.
"Sini kamu!" Katanya aku mendekat.
"Pagi Pak direktur, maaf kalau Debby lancang pegang- pegang Bapak. Bapak nggak papa kan? apa perlu saya bantu?" Kata Suster Desi yang mendekati suamiku, ku cebikkan bibirku.
"O... Nggak perlu Sus, makasih, Saya permisi."
__ADS_1
"Kamu, ikut saya!" Seru suster Desi setelah Mas Aska tidak lagi terlihat.
Ku ikuti langkanya suster Desi menuju ruangannya.
"Hati- hati loh deb... Berdoalah" Lirih Mbak Lidia saat aku melewatinya.
"Okey..."
πΈπΈπΈ
Hampir dua jam Aku di hakimi dan dimarahi habis - habisan oleh suster Desi, selain karena kasus buatan suamiku kemarin, perlakuan ku hari ini juga mendapat sanksi, aku tidak boleh dekat- dekat lagi dengan Pak Direktur katanya, terdengar aneh tapi ya sudah toh di rumah dia milikku sepenuhnya.
Ku ambil gawai, aku putuskan untuk menemui Mas Doni sekarang tak perlu lagi membuang waktu.
Debby : [Mas, ku tunggu di ruang VVIP Nomor 4]
Aku bergegas setelah mengirim pesan itu pada suamiku.
Setibanya aku di depan pintu nomor 4, Ku buka kembali gawaiku, namun belum ada balasan walau pesan sudah dibaca. Ku hubungi namun tak diangkat, ku putuskan untuk menunggunya sejenak. Hingga seseorang menepuk pundakku. Aku menoleh.
π₯π₯π₯
Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataππ»π
Oh ya kak mau promo karya yang berjudul Terpaksa Terpaksa menikahi bos mafia gak kalah seruh juga loh kak ceritanya..
__ADS_1