Aku Bukan Rahim Cadangan

Aku Bukan Rahim Cadangan
Sosialita


__ADS_3

Aku Bukan Rahim Cadangan


Part 136


"Apa kamu menyukainya?" tanya tante Marlina.


"Maksudnya apa tante, menyukai?" tanya ku kembali


"Iya, gaun ini lah sayang, kalau Teddy ya jelas saja kamu pasti sangat menyukainya. Wanita-wanita lain di luar sana saja banyak yang suka sama Teddy, apa lagi istrinya." sindirnya


Aku pun terkeke karena tingkah ku sendiri.


"iya, tante aku suka sekali dengan gaun ini, apapun yang dipilihkan oleh suamiku, pasti aku menyukainya." jawab ku, selain itu juga aku harus menghargai kerja keras suami ku, tidak bisa di pungkiri bahwa gaun ini memang benar-benar sangat indah sekali. Gaun putih gading dengan ornamen-ornamen bordiran dibagian lengan, pinggang serta di bagian bawah yang terbuat dari bahan sutra yang menjuntai dan tak lupa dengan hijab yang dibuat senada denganya, memang sunguh-sungguh sangat indah dipandang. "Bagai mana bisa Laki-laki bisa sedetail ini, dalam merancang sebuah gaun?" gumam ku


"Tapi tante, apa ukuranya akan pas dengan ku? Sayang kn kalau harus dipermak lagi, soalnya kan saya belum pernah diukur?" ucap ku saat kedua pegawai tante marlina akan melepas gaun itu dari sebuah patung yang digunakan untuk memajang gaun itu.


Tiba-tiba tante marlina tekekeh saat mendengar perkataan ku barusan.


"kamu mungkin tidak menyadari kalau suami kamu sudah mencuri dress kamu dan membawanya kemari! Tuh." kata tante Marlina seraya menunjuk ke arah lemari kaca yang ada diruangan itu sambil tertawa geli.


Aku pun menoleh dan menyipitkan mataku ke arah yang ditunjukan oleh tante Marlina. "Oalah, pantas saja nggak ada." gumamku, di sana sudah terpajang dres yang selama ini ku cari-cari dan sampai sekarang pun tak ada dilemari ku. Seingat ku dres itu pernah ku bawah ke USA. Tapi saat aku hendak memakainya, dress itu sudah lenyap dari koperku, aku kira dres itu ketinggalan di panti, namun setelah kami pulang dari USA tetap saja dress itu tidak ada.


"Ayo, sayang dicobain dulu gaunya." seru tante Marlina kemudian


"Kamu itu sangat beruntung bisa menikahi laki-laki seperti Teddy, sudah cakep,mapan,pinter,shole dan pastinya nggak neko-neko pokoknya. Dulu sempat pernah deket sama anaknya tante Aurel, bahkan tante fikir mereka berdua itu pacaran karena Teddy suka anter jemput Aurel pada saat mereka masih sekolah SMA sampai kuliah pun mereka masih suka berangkat bersama hampir saja mama kamu dan tante menjodohkan mereka berdua. Habis kita fikir mereka berdua mainya sama-sama terus, tapi ternyata dia lebih memilih Vannya. Kamu pasti tau sama Vannya kan?"

__ADS_1


Aku menganggukan kepal pelan.


"Eh, nggak taunya Vannya malah menikah sama kakaknya Teddy, Kevin. Tau gitu kan tante nggak suruh anak tante kuliahnya keluar negeri untuk melupakan semua tentangnya bersama Teddy." sambungnya seraya membantu kedua pegawainya, untuk membenarkan gaun yang telah aku pakai saat ini.


Aku hanya terdiam tak menjawab, Vannya ternyata begitu penting untuknya "Playboy juga ternyata kamu mas, sekarang ada nama Aurel, besok siapa lagi? Bahkan aku saja hanya ada mas Doni dan kamu sangat begitu marah terhadap ku, lalu aku?" egois sekali kamu batin ku.


"Eh maaf-maaf, tante jadi curhat gini sama kamu."


"Nggak papa kok tante." jawabku dengan senyum sedikit dipamsakan.


"Wow...sempurna sekali, sangat canti sekali, Teddy nggak ikut?" tanyanya begitu gaun sudah terpasang sempurna di tubuh ku.


"Mas Teddynya sedang ada urusan tante, nanti katanya akan meenyusul." jawabku


"Sayang sekali."


"Mbak ayo antar Debby keluar dulu, saya ambil handpone saya dulu diruangan saya!" seru tante Marlina pada kedua pegawainya itu


Ku anggukan kepalaku pelan dan kedua pegawai tante Marlina bembantuku keluar untuk menemui mama.


"Oh iya jeng, saya denger-denger dari Vannya, Teddy akan menikah dengan orang yang biasa ya jeng? Bukan dari kalangan atas seperti kita-kita? Hanya karyawan biasa?"


"Kalau iya memangnya kenapa jeng? Ada masalah dengan kalian?" jawab mama


"Ya sayang sekali aja jeng, Teddy itu kan anaknya pak Atmajaya yang tak jauh beda dengan pak Atmajaya tanpan,cerdas dan disuaki banyak wanita-wanita. Masak nikanya sama orang kalangan bawah."

__ADS_1


Langkahku terhenti saat samar-samar ku dengar percakapan antara mama dengan seseorang, dari penampilanya sudah bisa di pastikan bahwa dia dari kalangan sosialita. rasanya berdebar-debar, sesak dan sakit hati ini kalau aku mendengar kata-kata dari sahabat mama itu. Ini lah yang menjadi alasan ku mengapa aku tidak suka jika aku harus berada dikalangan mereka. Harta dan tahta yang menjadi pembicaraan mereka, tanpa memikirkan hati atau pun perasaan orang lain.


"Jeng Widya coba lihat ni, cantik nggak...?" teriak tante Marlina tiba-tiba, yang membuat ku segera sadar dari segala fikiran yang berkelana dibenak ku.


"Ayo Deb, sini." ajak tante Marlina yang menggandeng tangan ku menuju ke tempat mama. Ku langkahkan kaki dengan ragu-ragu, rasa berdebar karena mendengar perkataan wanita yang saat ini berdiri di samping mama masi terasa sangat begitu jelas ditelinga ku.


"Subahanalah cantik sekali menantu mama, lihat jeng cantik kan menantu saya?" tanya mama pada wanita yang tak ku ketahui namanya itu.


"Ya mana mungkin pria secermat dan seteliti Teddy dalah pilih jeng!" sambung tante Marlina.


"Jadi jeng Meri sudah tau jawabanya kan sekarang?" tanya mama pada sahabatnya itu, Meri, itulah namanya.


"Apa maksud jeng Widya?" tanyanya


"Ya tadi kan saya belum sempat menjawab mengenai pertanyaan jeng Meri masalah Teddy dan pilihanya." jelas mama


"Iya, terus?"


"Iya, jadi inilah jawabanya. Jawaban saya dan juga jawaban pak Atmajaya saat kami pertama kali melamar Debby untuk Teddy. Jawabanya adalah karena keluarga Atmajaya sudah banyak harta dan memiliki tahta, jadi kami sudah tidak memerlukan pendamping yang bertahta atau pun yang bergelimangan harta, yang hanya kami butuhkan saat ini hanyalah cantik di luar mau pun didalam dan juga pinter seperti Debby." jawaban mama sontak membuat tante Meri terbengong dan tiba-tiba salah tingkah.


"Iya jeng Meri, itulah jawabanya, oh ya jeng bisa minta tolong ambilkan foto biat kita nggak? Saya mau tunjukan fotonya ke Teddy segera, soalnya dia sudah nggak sabar untuk melihat istrinya memakai gaun rancangan yang dibuatnya sendiri." sambung mama


πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€


Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataπŸ™πŸ»πŸ˜Š

__ADS_1


Oh ya kak mau promo karya yang berjudul Terpaksa menikahi bos mafia gak kalah seruh juga loh kak ceritanya..


__ADS_2