Aku Bukan Rahim Cadangan

Aku Bukan Rahim Cadangan
Pingsan


__ADS_3

"Apa karena kamu masih mengharapkan Vannia? Sehingga kamu tak mau membuka hatimu untuk para wanita- wanita lain?" Tanyanya menyelidik.


"Vannia?" Tanyaku, ku angkat sebelah alisku, tak percaya dengan apa pertanyaan Mama, semua bahkan menghubungkan kesendirian ku dengan Vannia yang jelas- jelas sudah menjadi istri Mas Kevin.


"Vannia sekarang telah menjadi Kakak iparmu Ted!" Sambung Mama, dan tak sengaja aku terkekeh.


"Mama jangan aneh- aneh, nanti ya Tedi bawakan menantu untuk mama dari USA" Jawabku asal.


"Nggak ah, mama nggak mau Tedi menantu bule, nggak boleh Tedi kalau nggak seiman." Kata Mama menolak dengan serius.


"Iya Tedi juga tau Ma, ya udah, nanti kalau udah waktunya juga Tedi akan ketemu dengan jodoh Tedi" jawabku santai.


"Kalau nggak ada usaha dan nggak dicari gimana kamu bisa ketemu nak? Kamu itu kan ganteng, makin tambah usia malah makin ganteng, pinter, mapan, kenapa sepertinya sulit banget cari pendamping hidup sih Ted?" Kata Mama yang mulai jengkel.


"Iya, nanti Tedi cari mama." Jawabku menenangkan mama.


"Selalu aja gitu,"


disela perbincangan ku dan Mama, ponsel ku tiba-tiba berbunyi. Ku lihat dan ku baca, tak ada tercantum nama disana.


"Siapa? Nomor nggak dikenal?" Batinku, aku tak menjawabnya, hingga panggilan itu pun masuk berkali- kali


"Ma aku tinggal dulu ya, aku angkat telepon dulu, nanti kita sambung lagi." Pamitku lalu ku angkat telepon itu di balkon karena aku khawatir telepon itu ada hubungannya dengan rumah sakit.


Aku pergi ke balkon dan mengangkat telepon dari nomor yang tidak dikenal itu.


"Halo" Terdengar suara laki- laki dari seberang telepon.


"Iya, dengan siapa y?" Tanyaku.


"Ini benar dengan dokter Tedi?"


"Iya, saya sendiri." Jawabku.


"Saya mau kasih tau, ini istri bapak pingsan di depan cafe kami."

__ADS_1


"Hah? Istri?" Kataku dengan suara keras, perkataan laki- laki di telepon itu sangat mengejutkan bagiku.


"Yang bener aja Mas, Saya belum punya istri, saya belum pernah nikah, anda salah sambung mungkin!" Kupelankan suaraku karena ku lihat mama sempat menoleh ke arah ku saat aku sebut istri tadi.


"Alah kalau pasangan lagi ribut emang suka nggak ngakuin gitu, kalian ribut kan? sampe istrinya kabur, bawa- bawa koper segala, bawa motor sendirian pula." Jawabnya.


"Apa? Motor?" Tanyaku yang semakin bingung.


"Iya, lagi pula kalau wanita ini bukan istri bapak, nggak mungkin saya sampai bisa telepon bapak dan dapat nomor bapak."


"aduh mas Jangan mengada- ada, kalian jangan coba main- main sama saya!" Ancamku


"Saya nggak main- main, Kalau nggak percaya nih saya kasih lihat fotonya." Katanya lagi. Ku lihat pesan masuk yang berisikan sebuah gambar. "Astaga, ini Debby?" Aku terkejut saat melihat foto Debby sedang terbaring di depan Cafe. "Apa jangan- jangan bener, gara- gara makan diwarung yang bersebrangan dengan kantor suaminya, Debby dan suaminya...?" Batinku mulai menerka, ada sedikit rasa bersalah.


Segera ku telepon balik nomor yang tadi menghubungiku.


"Halo, Mas! Mas tolong jaga wanita itu ya, saya segera akan kesana, Mas share loc tempatnya ke saya ya." Tutupku.


Aku bergegas masuk setelah share loc yang mereka kirimkan masuk ke ponselku.


Huuaaah... "Ma, ngantuk ni, besok harus ke rumah sakit pagi- pagi, Mama nggak pulang? Nanti Papa nyariin Lo." Kataku menghampiri Mama, mencari alasan untuk mengusir mama tanpa menyakitinya.


"Mama pengen tidur di sini sama anak Mama, aja kangen ni kan udah lama mama gak tidur sama anak mama." Jawabnya yang semakin membuatku bingung harus mencari alasan apa lagi.


"Aduh Ma, jangan, Kasihan juga Supir mama nunggu di parkiran dari tadi." Lanjut ku membujuk Mama.


"Yakan Tinggal Mama suruh pulang aja." Jawabnya santai, ku putar otakku agar mendapatkan ide yang lebih baik lagi.


"Ma, di kamar Tedi masih ada kecoa yang belum ketemu, dari kemarin Tedi cari-cari gak ketemu."


"Hah? Kecoa? Apartemen ada kecoa nya?" Tanya Mama tak percaya.


"Iya, beneran, gede lagi Ma." Ucapku yang meyakinkan. Mama terlihat berpikir.


"Ya udah lah Mama pulang dulu ya, tapi besok pagi Mama kesini lagi, Mama bawain sarapan kesukaan kamu." Katanya.

__ADS_1


"Iya, Mama hati- hati ya." Ku kecup punggung tangan Mama setelah itu ku antar Mama sampai ke parkiran.


🥀🥀🥀


Setelah membeli kopi dan meminumnya Debby beristirahat sejenak di depan cafe sambil melanjutkan meminum kopi. Lamunannya terhadap Doni dan Linda membuatnya lupa waktu, ia baru sadar tubuhnya mulai merasa kedinginan, ia tak sadar bahwa ia tidak mengenakan jaket saat itu, saat ia hendak berdiri untuk mengambil jaket, tiba- tiba kepalanya terasa sangat berat, pusing dan pandangannya gelap, kesadarannya pun mulai menurun, hingga akhirnya ia jatuh pingsan di depan cafe teras cafe.


"Mbak, bangun mbak, mbak nggak boleh tidur di sini mbak" kata pelayan cafe menggoncang tubuh Debby pelan. Debby tak menyahut dan tetap menutup matanya.


"Waduh, jangan- jangan mbak ini mati!" Gumam pelayan itu yang mulai merasakan takut, ia pun memanggil temannya yang lain.


"Feb...Feb..." panggilnya.


"Iya...Kenapa?"


"Ini mabak gue bangunin nggak bangun- bangun, apa jangan- jangan mbaknya mati ya Feb?"


"ah kamu sembarangan aja kalo ngomong, coba lihat nadinya. Masih nggak?"


"Masih tuh." Jawabnya setelah memeriksa nadi di tangan Debby.


"Dia Pingsan kali." Kata temannya itu.


"Kalau bos tau, ada yang tidur disini, kita bisa dipecat nanti, dan besok- besok gelandangan ikut- ikutan tidur di sini." Ujar salah seorang dari pelayan itu.


"Tapi kasihan juga cewek secantik dia kalau harus di usir, pasti kabur dari rumah deh ni cewek, kelihatan bawa koper segala."


"Atau, ribut sama suaminya kali. Kalau dibiarin di sini, bisa mati beneran ni cewek."


"Terus gimana donk?"


"Coba cari-cari hpnya,"


"Maaf ya neng, bukan maksud kita lancang, ngacak- ngacak tasnya si eneng, Pamit laki- laki itu, mereka pun membuka dan mencari ponsel Debby di dalam tas dan koper.


🥀🥀🥀

__ADS_1


Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kata🙏🏻😊


__ADS_2