
Aku Bukan Rahim Cadangan
Part 94
"Jangan keras- keras kek, nanti ada yang denger, bahaya." Kataku melihat ke arah pintu, memastikan bahwa tak ada yang mendengarnya.
"Teddy jawab kakekmu!"
"Iya, Teddy sudah jatuh cinta sejak pertama kali bertemu. Darimana kakek tau?"
"Papamu yang mengabari kakek. Dia bilang ingin menemui Debby dan tanya dimana bisa menemui Debby."
"Apa? Dan kakek memberitahunya?"
Tok tok tok... Pintu di ketuk dengan sangat kasar. Dan terlihat terburu- buru.
"Masuk!" Seru kakekku.
__ADS_1
Pintu dibuka dengan kasar, terlihat seorang perawat masih di depan pintu tersengal- sengal saat hendak berbicara.
"Ada Pasien Rumah sakit jiwa yang menyamar dan masuk ke rumah sakit kita dengan senjata tajam. Pasien tersebut telah menyandera salah satu perawat dan membawanya ke atas gedung. Saya khawatir pasien itu akan bertindak lebih jauh lagi, karena dia sudah berhasil menggores tangan Debby."
"Siapa?"
"Perawat UGD. Debby!"
"Apa? Astaga!"
Bak disambar petir aku mendengar berita yang disampaikan oleh perawat wanita itu. Aku berlari menuju gedung bagian atas. Beberapa orang termasuk perawat yang menemuiku tadi mengekoriku. "Apa pihak Rumah sakit jiwa sudah dihubungi?" Tanyaku didalam lift.
"Apa? Kondisi seperti ini masih sempat- sempatnya ngecek? Bilang sama Rumah sakit itu, suruh kirim Tim kesini, saya nggak mau tau! Kasus ini nggak butuh pengecekan yang dibutuhkan tindakan. Paham!" Perintahku pada mereka, aku benar- benar tak habis pikir, mereka tidak menyadari bahwa nyawa seseorang sedang terancam.
"I_ya dokter!"
Pintu lift terbuka, kami masih harus melewati satu tangga kecil lagi untuk sampai di rooftop.
__ADS_1
Ku buka pintu besar berbahan besi yang mengarah ke arah rooftop, jantungku serasa berhenti saat aku melihat tangan Debby sudah berlumur darah tersungkur di bawah memegangi perutnya yang juga sudah berlumur darah. Dengan seorang wanita paruh baya membawa sebilah pisau ditangannya, Pisau yang sudah berlumuran darah. Darah dari orang yang sangat aku cintai.
"Debby...Apa yang kalian lihat? Apa saja yang kalian lakukan dari tadi?" Bentak ku pada beberapa orang yang sudah lebih dulu ada disana, namun mereka hanya diam menyaksikan tidak ada yang berani membantu Debby. "Kami sudah berusaha untuk menenangkan dok, tapi semakin kami berusaha semakin dia menyakiti mbak Debby." Jawab security.
Aku berlari mendekati Debby yang sudah terlihat sangat lemas dan kesakitan.
"Jangan mendekat, atau aku akan menghabisi dia. Dia sudah menggambil Anakku." Kata pasien Rumah sakit Jiwa itu sambil menangis histeris, yang berusaha mencegahku untuk mendekati Debby yang ada dibelakangnya. Ku kira saat ini dia sedang ngelantur. Aku harus berhati- hati kalau ingin Debby selamat.
"Dokter... Tolong saya." Lirih Debby, sambil menangis menahan sakit diperutnya, membuat hatiku semakin teriris melihatnya.
"Diam" Bentak wanita itu sambil mengarahkan pisaunya ke pada Debby. Debby terlihat semakin ketakutan.
"kamu harus bertahan ya Deb..." Kataku pada Debby.
"Bu... Ibu mau anaknya kembali kan? Bagaimana ibu bisa tau anak ibu ada dimana kalau ibu menghabisi wanita ini?" Kataku lembut, kekerasan akan membuat wanita ini semakin membabi buta. Aku harus lebih pandai mengambil hatinya.
π₯π₯π₯
__ADS_1
Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataππ»π